Blora dan Identitas Literasi: Merawat Ingatan, Membangun Karakter

Oleh: Ahmad Bakhruddin
(Dosen Pendidikan Karakter PGSD Universitas Muria Kudus)
Wacana yang mendorong Blora untuk mengukuhkan diri sebagai "Kota Literasi" memancing kita untuk kembali menengok akar intelektualitas bangsa ini.
Membicarakan rekam jejak Mas Marco Martodikromo dan Pramoedya Ananta Toer tentu bukan sekadar ajang nostalgia sejarah. Lebih dari itu, ini adalah upaya serius untuk menggali kembali fondasi pendidikan karakter bagi generasi penerus kita.
Selama ini, Blora kental dengan julukan Kota Jati atau bumi perlawanan heroisme Samin Surosentiko. Namun, Bumi Mustika ini sebenarnya menyimpan benih "kurikulum kehidupan" yang jauh lebih kaya.
Kehadiran tokoh-tokoh literasi besar dari rahim Blora merupakan modal sosial yang luar biasa penting.
Bagi ekosistem pendidikan—baik di sekolah formal maupun di lingkungan pesantren—keteladanan para penulis ini adalah instrumen ampuh untuk melatih nalar kritis, membentuk ketangguhan mental, serta mentransmisikan nilai-nilai kebangsaan agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
Karena itu, gagasan mendirikan Museum Literasi di Blora merupakan sebuah terobosan etnopedagogi yang sangat menjanjikan dan patut didukung penuh.
Tentu saja, museum ini nantinya tidak boleh dibiarkan sekadar menjadi gedung sunyi tempat memajang artefak kuno. Ia harus didesain menjadi ruang publik yang hidup, interaktif, dan relevan.
Sebuah pusat kebudayaan tempat anak-anak muda kita bisa "berdialog" dengan pemikiran para pendahulunya, sekaligus mengawinkan kearifan lokal masa lalu dengan dinamika era digital.
Jika Kudus sukses merawat memori kolektif masyarakatnya lewat Museum Kretek dan Museum Jenang, maka sudah saatnya Blora mengambil langkah serupa melalui warisan literasinya.



