Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Hubungan Antara Stres dan Daya Ingat: Mengapa Pikiran Bisa "Blanks" Saat Ujian dan Cara Mengatasinya
G
Penulis: Ghina Nailal Husna❯
Advertisement

Advertisement
RADAR KUDUS - Pernahkah Anda mengalami situasi di mana Anda telah menghabiskan waktu berhari-hari untuk belajar demi menghadapi ujian penting, namun begitu lembar soal dibagikan dan Anda membaca sebuah pertanyaan, tiba-tiba pikiran Anda mendadak kosong (blank)?
Anda merasa tahu jawabannya, tetapi informasi tersebut seolah lenyap dari kepala.
Advertisement
Fenomena yang sering membuat frustrasi ini ternyata berkaitan erat dengan hubungan kompleks antara stres dan daya ingat.
Baca Juga: Penggiat Budaya dan Sejarah Jepara Resah, Perluasan Pembangunan Renggut Situs-situs Bersejarah
1. Bagaimana Otak Membentuk dan Menyimpan Memori?
Sebelum memahami dampak stres, penting untuk mengetahui bagaimana otak manusia memproses fakta dan informasi baru melalui tiga tahapan utama:
- Akuisisi (Acquisition): Saat Anda membaca atau mempelajari sesuatu, pengalaman sensorik tersebut mengaktifkan area unik di dalam otak.
- Konsolidasi (Consolidation): Agar menjadi memori jangka panjang, pengalaman sensorik harus dikonsolidasikan oleh hipokampus (pusat memori otak), yang kerjanya turut dipengaruhi oleh amigdala (bagian otak yang memproses emosi kuat). Amigdala membantu memperkuat sinapsis saraf yang terstimulasi dari pengalaman tersebut.
- Pengambilan Memori (Retrieval): Memori disimpan di berbagai belahan otak, dan bagian korteks prefrontal (prefrontal cortex) bertindak sebagai pemberi sinyal untuk memanggil kembali (retrieve) memori tersebut saat dibutuhkan.
2. Pengaruh Stres Terhadap Tahapan Memori: Pedang Bermata Dua
Stres tidak selalu berdampak buruk bagi ingatan; dampaknya sangat bergantung pada tingkat keparahan dan jenis stres yang dialami:
- Stres Moderat yang Membantu: Pada tahap akuisisi dan konsolidasi, stres tingkat moderat (seperti tekanan waktu ujian) justru dapat membantu otak lebih fokus. Stres memicu pelepasan hormon kortikosteroid dan mengaktifkan amigdala, yang kemudian merangsang hipokampus untuk memperkuat proses konsolidasi memori. Namun, efek positif ini hanya berlaku jika stres tersebut berkaitan langsung dengan tugas memori yang sedang dikerjakan.
- Stres Kronis yang Merusak: Sebaliknya, paparan hormon stres kortikosteroid dalam jangka panjang (mingguan, bulanan, atau tahunan) akibat stres kronis dapat merusak struktur hipokampus dan menurunkan kemampuan otak dalam membentuk memori baru.
3. Alasan Mengapa Stres Membuat Pikiran Mendadak Kosong (Blank)
Meskipun stres ringan dapat membantu proses belajar, stres akut justru menghancurkan proses pengambilan memori (retrieval).
Saat Anda merasa sangat tertekan (misalnya saat ujian), hormon kortikosteroid merangsang amigdala secara berlebihan.
Amigdala kemudian menghambat aktivitas korteks prefrontal—bagian otak yang mengatur penalaran, fokus, dan pemikiran logis.
Reaksi ini sebenarnya merupakan mekanisme evolusioner tubuh untuk mengaktifkan respons fight, flight, or freeze (lawan, lari, atau membeku) guna menghadapi ancaman fisik secara instan.
Namun, dalam situasi modern seperti ujian, mekanisme ini justru berdampak buruk: korteks prefrontal dimatikan, membuat pikiran Anda mendadak kosong.
Upaya keras untuk mengingat informasi justru memicu lonjakan hormon stres lanjutan, menciptakan siklus lingkaran setan yang membuat Anda semakin sulit mengingat jawaban.
4. Cara Mengubah Stres Menjadi Keuntungan
Kabar baiknya, Anda dapat melatih otak untuk mengendalikan respons stres tersebut agar tetap tenang saat momen krusial tiba:
Baca Juga: Wamenhaj Imbau Jemaah Umrah Pakai Penerbangan Langsung Nasional, Hindari Transit Singapura-Malaysia
- Latihan dalam Kondisi Serupa (Simulated Practice): Jika Anda tahu ujian akan segera datang, biasakan berlatih mengerjakan soal di bawah tekanan waktu atau di meja belajar (bukan sambil bersantai di atas kasur). Hal ini membuat otak terbiasa dengan situasi tersebut, sehingga respons stres saat ujian sesungguhnya menjadi lebih terkendali.
- Rutin Berolahraga: Peningkatan detak jantung dan pernapasan saat berolahraga terhubung dengan perubahan kimiawi di otak yang menurunkan kecemasan, memperbaiki suasana hati, serta meningkatkan kualitas tidur—faktor penting yang sangat dibutuhkan sebelum hari ujian.
- Teknik Pernapasan Dalam (Deep Breathing): Saat pikiran mulai terasa kosong di tengah ujian, ambil napas dalam-dalam secara perlahan. Teknik ini terbukti secara ilmiah dapat melawan respons fight-or-flight tubuh dan menurunkan kecemasan secara signifikan.
Dengan mengelola stres dengan baik, Anda dapat mencapai kondisi ketenangan pikiran yang bebas dari kecemasan—atau dalam istilah filosofis disebut ataraxia—sehingga informasi yang telah Anda pelajari dapat diingat kembali dengan lancar. (*)
Advertisement
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement
