
SEJAK kecil hingga dewasa hari ini, ada satu tugas dari Ibu yang tidak pernah berubah, yaitu mengantarkan zakat ke musala dekat rumah—utamanya menjelang Idulfitri.
Waktu kecil, saya hanya menganggapnya sebagai perintah sederhana.
Namun, di balik kantong beras yang kugenggam erat itu, kelas kehidupan sedang berlangsung.
Di musala, para pengurus tidak sekadar menerima titipan tersebut. Ada akad, ikrar.
Dengan sabar, mereka (pengurus musala, red) mengajariku melafalkan niat zakat, memperjelas atas nama siapa zakat diserahkan dan mendoakan keberkahan keluarga kami.
Dari interaksi langsung itulah benih kepedulian sosialku tumbuh. Pengalaman tersebut mulai membentuk kontemplasi emosional dan sosial dalam diriku.
Seiring bertambahnya usia, saya menyadari masalah besar pada penyaluran zakat di perkotaan.
Di kota-kota besar, penyaluran zakat dominan berupa uang tunai atau sembako langsung.
Praktik ini memberi pertolongan cepat, tetapi penyaluran zakat tunai hanya menyelesaikan dampak sesaat, bukan akar kemiskinan.
Uang tunai yang diterima mustahik habis dalam hitungan hari untuk biaya hidup harian.



