alexametrics
26.3 C
Kudus
Monday, June 20, 2022

Laki-Laki Berhati Malaikat

JUMAT malam lalu saya diajak oleh reporter Radar Semarang Sulis S.A. berkunjung ke kediaman Pak Rais. Waktu itu sudah ada agenda ke Magelang dan Jepara. Lagi pula saya tidak tahu (atau lupa) siapa Pak Rais. Maka saya jawab, “Hehehe OK Mas. Kapan-kapan kalau ada waktu.”

Begitu tahu kalau Pak Rais adalah lelaki yang berhati malaikat saya jadi bersemangat. Apalagi Sulis menginformasikan dia baru saja kehilangan istri tercintanya Triyana Zulaikah karena gagal ginjal. Triyana adalah ibu 80-an anak yang dititipkan, ditinggal, atau tidak diketahui orang tuanya. Dia merawat sampai melupakan kesehatannya sendiri.

Saya batalkan semua rencana. Mementingkan silaturrahim dan takziah ke rumah Pak Rais.


Nama lengkapnya Rais Bawono Hadi. Usia 57 tahun. Asal Probolingo, Jawa Timur. Memiliki tiga anak. Kini tinggal di jalan Shirotol Mustaqim no 1, Pudak Payung, Banyumanik, Kota Semarang. Penampilannya sederhana. Waktu saya ke sana dia hanya mengenakan sarung bercorak hitam, kaos biru muda, dan peci bulat.

Kisah Pak Rais telah ditulis oleh Khafifah Arini Putri di Jawa Pos Radar Semarang  23 Mei 2022. Juga diunggah di media online radarsemarang.id pada tanggal yang sama. Videonya yang dibuat tim Radar Semarang Digital dengn host Sulis S.A. ditayangkan di kanal YouTube Radar Semarang TV. Sampai tulisan ini dibuat penontonnya mencapai 900 ribu lebih.

Setelah penayangan itu, semakin banyak orang yang bersimpati. Ada yang langsung datang dengan memberi bantuan. Bahkan ingin mengadopsi. Namun Rais keukeuh. Tidak ada adopsi. Di teras pantinya dipampang tulisan itu cukup besar. Dia tidak berwenang mengadopsikan anak yang diasuhnya. Aturan melarang. Orang tuanyalah yang berhak. “Kalau membantu mengasuh atau menyumbang kami persilakan,” tegasnya.

BALITA ISTIRAHAT: Direktur Radar Kudus Baehaqi menenangkan balita yang menangis di Panti Asuhan Manarul Mabrur, Banyumanik, Semarang. (TANGKAPAN LAYAR RADAR SEMARANG TV)

Orang-orang yang ingin menitipkan anaknya juga semakin banyak. Setiap hari dia harus menolak rengekan wanita-wanita hamil yang tidak siap mengasuh anaknya. Sekarang saja ada 47 orang yang antre melahirkan dan akan menitipkan anaknya.

Alhasil, Sabtu siang saya ke rumah Pak Rais, pemilik Panti Asuhan Manarul Mabrur. Sambil menunggu dia menemui tamu saya menuju masjid yang ada di kompleks panti. Seorang anak empat tahunan menyongsong. Berlari seorang diri. Menyodorkan snack berbalut coklat sisa dia makan. Mulutnya belepotan. Begitu juga kedua tangannya. “Dimakan adik saja,” kata saya. Malah makanan yang sudah di mulut dilepeh (dikeluarkan).

Seseorang meminta dia membersihkan diri. Larilah dia ke rumah di samping masjid. Itulah tempatnya sehari-hari. Begitu menghilang, anak lain datang. Merebut minuman botol di tangan pengasuh. Diteguknya. Glek, glek, glek. “Sudah, jangan banyak-banyak,” kata pengasuh yang menyebut dirinya bapak kepada anak itu. Disodorkan kembali botol minuman itu.

Anak-anak itu adalah bagian dari 80-an anak asuh Pak Rais. Sekitar 30 diantaranya balita. Yang lain ada yang bersekolah SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bahkan ada yang sudah bekerja.

Mereka dari berbagai latar belakang. Orang tuanya macam-macam. Ada yang masih sekolah. Ada juga yang kuliah. Bahkan, ada yang masih SMP, baik ibu maupun bapak. Ada juga yang melahirkan hasil hubungan di perantauan. Bapaknya tidak bertanggung jawab. “Hampir semua bayi di sini hasil hubungan gelap,” kata Rais sambil menimang anak di pangkuannya.

Tragis. Banyak orang ingin punya anak tapi belum dikabulkan. Ada yang dikaruniai anak tapi tidak mau bertanggung jawab. Ada juga yang ingin merengkuh kenikmatan tapi tak mau kerepotan.

Baca Juga :  Keprihatinan itu Nyata
RAWAT BAYI: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi menimang bayi Bersama Rais Bawono di Panti Asuhan Manarul Mabrur, Banyumanik, Kota Semarang pada Jumat (17/6). (Dok Radar Semarang)

Rais yang semula menganggap bangsa ini baik-baik saja mendapati kenyataan. Bangsa ini terkenal baik, toleran, peduli, pekerja keras, sangat menyayangi negerinya. Sekarang luntur. Dia ingin mengembalikan karakter bangsa ini. Semula mengasuh para gelandangan. Tetapi kesulitan. Akhirnya mengasuh siapa saja yang membutuhkan bantuan.

Sekitar 30 anak di panti itu balita (bawah lima tahun). Rais dan istrinya yang menjadi bapak dan ibu anak-anak itu. Mereka dibantu oleh keluarga dan teman dekat. Ada kakak, adik, dan anak. Serta anak-anak asuh yang sudah dewasa. Rais sendiri memiliki tiga anak. Yang satu sudah menikah dan dikaruniai dua anak.

Di sela kesibukannya mengurus anak-anak panti, Rais diuji harus merawat istrinya yang tergolek karena gagal ginjal. Setelah sekitar 10 hari dirawat di rumah sakit, Triyana meninggal. Kini Rais menjadi bapak sekaligus ibu anak-anak tersebut. Tentu tidak gampang. Dibutuhkan hati yang teguh dan tenaga ekstra.

Siang itu tujuh anak bergelimang di kasur 2×2 M tanpa sprei. Mereka baru bisa tengkurap. Malah ada yang belum. Seorang diambil Pak Rais kemudian saya gendong. Saya timang. Seorang lainnya menangis. Menjerit. Diikuti sebelahnya. Saya coba menenangkan. Tidak bisa. Sementara itu, dari teras terdengar tangisan bayi lain. Di situ ada lima anak yang sudah bisa duduk dan merangkak.

Anak di gendongan saya taruh di kasur. Saya ambil anak yang menangis paling keras. Dia diem. Tetapi anak yang baru saja saya letakkan ganti menangis. Di ujung kasur anak yang semula diem ikut-ikutan menagis. Dia nyaris terjatuh ke sela-sela kasur dan tembok. Badannya terjepit. Dia menjerit. Saya meneteskan air mata. Pilu.

Ruang bayi itu tidak luas. Bagian depan tempati kasur 2×2 M rasanya sudah penuh. Di samping ada beberapa boks bayi. Di ruang itulah paling heboh baik siang maupun malam.

Pengasuh di panti itu tidak sebanding dengan jumlah anak-anaknya. Kalau malam mereka kecapekan. Istri Rais yang menjaga anak-anak itu. Kini setelah dia wafat, Rais harus bangun mencurahkan kasih sayang kepada anak yang rewel sekalipun. “Kami di sini kerja 24 jam tanpa dibayar,” ujar Rais.

Sepeninggal istrinya, setiap malam dia harus tidur dengan bayi-bayi itu. Ada empat anak sekaligus yang  tidur sekasur dengannya. Karena itulah kini dia membatasi anak yang dititipkan kepadanya. Dia tidak menerima lagi anak balita. Tempatnya sudah tidak memungkinkan. Demikian juga pengasuhnya. Tetapi anak gede masih bisa diterima.

Panti Manarul Mabrur berdiri di lahan 2.500 M2. Ada beberapa bangunan. Tetapi tidak luas. Yang terbesar masjid dan asrama. Suasananya asri. Anak-anak panti membikin taman. Keluarga Rais tinggal di situ juga. Merawat anak-anak tersebut sebagaimana keluarga sendiri.  Tidak hanya ketika masih balita. Sampai remaja pun, bahkan sampai dewasa, kalau  tidak diambil orang tuanya.

Kini dia telah menyiapkan tanah untuk tempat tinggal anak asuhnya kelak. Di Pakisaji, Jepara, disiapkan lahan 6.000 M2, Salatiga 3.000 M2, Kabupaten Semarang 3.000 M2, dan di panti asuhannya sekarang 2.500 M2. “Silakan mereka ingin menjadi apa, kami fasilitasi. Intinya jangan menjadi gelandangan.” tegas Rais.

Rais orang hebat. Laki-laki berhati malaikat. Semoga selalu diberi kekuatan dan dilimpahi rizqi oleh Tuhan. (*)

JUMAT malam lalu saya diajak oleh reporter Radar Semarang Sulis S.A. berkunjung ke kediaman Pak Rais. Waktu itu sudah ada agenda ke Magelang dan Jepara. Lagi pula saya tidak tahu (atau lupa) siapa Pak Rais. Maka saya jawab, “Hehehe OK Mas. Kapan-kapan kalau ada waktu.”

Begitu tahu kalau Pak Rais adalah lelaki yang berhati malaikat saya jadi bersemangat. Apalagi Sulis menginformasikan dia baru saja kehilangan istri tercintanya Triyana Zulaikah karena gagal ginjal. Triyana adalah ibu 80-an anak yang dititipkan, ditinggal, atau tidak diketahui orang tuanya. Dia merawat sampai melupakan kesehatannya sendiri.

Saya batalkan semua rencana. Mementingkan silaturrahim dan takziah ke rumah Pak Rais.

Nama lengkapnya Rais Bawono Hadi. Usia 57 tahun. Asal Probolingo, Jawa Timur. Memiliki tiga anak. Kini tinggal di jalan Shirotol Mustaqim no 1, Pudak Payung, Banyumanik, Kota Semarang. Penampilannya sederhana. Waktu saya ke sana dia hanya mengenakan sarung bercorak hitam, kaos biru muda, dan peci bulat.

Kisah Pak Rais telah ditulis oleh Khafifah Arini Putri di Jawa Pos Radar Semarang  23 Mei 2022. Juga diunggah di media online radarsemarang.id pada tanggal yang sama. Videonya yang dibuat tim Radar Semarang Digital dengn host Sulis S.A. ditayangkan di kanal YouTube Radar Semarang TV. Sampai tulisan ini dibuat penontonnya mencapai 900 ribu lebih.

Setelah penayangan itu, semakin banyak orang yang bersimpati. Ada yang langsung datang dengan memberi bantuan. Bahkan ingin mengadopsi. Namun Rais keukeuh. Tidak ada adopsi. Di teras pantinya dipampang tulisan itu cukup besar. Dia tidak berwenang mengadopsikan anak yang diasuhnya. Aturan melarang. Orang tuanyalah yang berhak. “Kalau membantu mengasuh atau menyumbang kami persilakan,” tegasnya.

BALITA ISTIRAHAT: Direktur Radar Kudus Baehaqi menenangkan balita yang menangis di Panti Asuhan Manarul Mabrur, Banyumanik, Semarang. (TANGKAPAN LAYAR RADAR SEMARANG TV)

Orang-orang yang ingin menitipkan anaknya juga semakin banyak. Setiap hari dia harus menolak rengekan wanita-wanita hamil yang tidak siap mengasuh anaknya. Sekarang saja ada 47 orang yang antre melahirkan dan akan menitipkan anaknya.

Alhasil, Sabtu siang saya ke rumah Pak Rais, pemilik Panti Asuhan Manarul Mabrur. Sambil menunggu dia menemui tamu saya menuju masjid yang ada di kompleks panti. Seorang anak empat tahunan menyongsong. Berlari seorang diri. Menyodorkan snack berbalut coklat sisa dia makan. Mulutnya belepotan. Begitu juga kedua tangannya. “Dimakan adik saja,” kata saya. Malah makanan yang sudah di mulut dilepeh (dikeluarkan).

Seseorang meminta dia membersihkan diri. Larilah dia ke rumah di samping masjid. Itulah tempatnya sehari-hari. Begitu menghilang, anak lain datang. Merebut minuman botol di tangan pengasuh. Diteguknya. Glek, glek, glek. “Sudah, jangan banyak-banyak,” kata pengasuh yang menyebut dirinya bapak kepada anak itu. Disodorkan kembali botol minuman itu.

Anak-anak itu adalah bagian dari 80-an anak asuh Pak Rais. Sekitar 30 diantaranya balita. Yang lain ada yang bersekolah SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bahkan ada yang sudah bekerja.

Mereka dari berbagai latar belakang. Orang tuanya macam-macam. Ada yang masih sekolah. Ada juga yang kuliah. Bahkan, ada yang masih SMP, baik ibu maupun bapak. Ada juga yang melahirkan hasil hubungan di perantauan. Bapaknya tidak bertanggung jawab. “Hampir semua bayi di sini hasil hubungan gelap,” kata Rais sambil menimang anak di pangkuannya.

Tragis. Banyak orang ingin punya anak tapi belum dikabulkan. Ada yang dikaruniai anak tapi tidak mau bertanggung jawab. Ada juga yang ingin merengkuh kenikmatan tapi tak mau kerepotan.

Baca Juga :  Naik Kereta Semenit Rp 4.427
RAWAT BAYI: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi menimang bayi Bersama Rais Bawono di Panti Asuhan Manarul Mabrur, Banyumanik, Kota Semarang pada Jumat (17/6). (Dok Radar Semarang)

Rais yang semula menganggap bangsa ini baik-baik saja mendapati kenyataan. Bangsa ini terkenal baik, toleran, peduli, pekerja keras, sangat menyayangi negerinya. Sekarang luntur. Dia ingin mengembalikan karakter bangsa ini. Semula mengasuh para gelandangan. Tetapi kesulitan. Akhirnya mengasuh siapa saja yang membutuhkan bantuan.

Sekitar 30 anak di panti itu balita (bawah lima tahun). Rais dan istrinya yang menjadi bapak dan ibu anak-anak itu. Mereka dibantu oleh keluarga dan teman dekat. Ada kakak, adik, dan anak. Serta anak-anak asuh yang sudah dewasa. Rais sendiri memiliki tiga anak. Yang satu sudah menikah dan dikaruniai dua anak.

Di sela kesibukannya mengurus anak-anak panti, Rais diuji harus merawat istrinya yang tergolek karena gagal ginjal. Setelah sekitar 10 hari dirawat di rumah sakit, Triyana meninggal. Kini Rais menjadi bapak sekaligus ibu anak-anak tersebut. Tentu tidak gampang. Dibutuhkan hati yang teguh dan tenaga ekstra.

Siang itu tujuh anak bergelimang di kasur 2×2 M tanpa sprei. Mereka baru bisa tengkurap. Malah ada yang belum. Seorang diambil Pak Rais kemudian saya gendong. Saya timang. Seorang lainnya menangis. Menjerit. Diikuti sebelahnya. Saya coba menenangkan. Tidak bisa. Sementara itu, dari teras terdengar tangisan bayi lain. Di situ ada lima anak yang sudah bisa duduk dan merangkak.

Anak di gendongan saya taruh di kasur. Saya ambil anak yang menangis paling keras. Dia diem. Tetapi anak yang baru saja saya letakkan ganti menangis. Di ujung kasur anak yang semula diem ikut-ikutan menagis. Dia nyaris terjatuh ke sela-sela kasur dan tembok. Badannya terjepit. Dia menjerit. Saya meneteskan air mata. Pilu.

Ruang bayi itu tidak luas. Bagian depan tempati kasur 2×2 M rasanya sudah penuh. Di samping ada beberapa boks bayi. Di ruang itulah paling heboh baik siang maupun malam.

Pengasuh di panti itu tidak sebanding dengan jumlah anak-anaknya. Kalau malam mereka kecapekan. Istri Rais yang menjaga anak-anak itu. Kini setelah dia wafat, Rais harus bangun mencurahkan kasih sayang kepada anak yang rewel sekalipun. “Kami di sini kerja 24 jam tanpa dibayar,” ujar Rais.

Sepeninggal istrinya, setiap malam dia harus tidur dengan bayi-bayi itu. Ada empat anak sekaligus yang  tidur sekasur dengannya. Karena itulah kini dia membatasi anak yang dititipkan kepadanya. Dia tidak menerima lagi anak balita. Tempatnya sudah tidak memungkinkan. Demikian juga pengasuhnya. Tetapi anak gede masih bisa diterima.

Panti Manarul Mabrur berdiri di lahan 2.500 M2. Ada beberapa bangunan. Tetapi tidak luas. Yang terbesar masjid dan asrama. Suasananya asri. Anak-anak panti membikin taman. Keluarga Rais tinggal di situ juga. Merawat anak-anak tersebut sebagaimana keluarga sendiri.  Tidak hanya ketika masih balita. Sampai remaja pun, bahkan sampai dewasa, kalau  tidak diambil orang tuanya.

Kini dia telah menyiapkan tanah untuk tempat tinggal anak asuhnya kelak. Di Pakisaji, Jepara, disiapkan lahan 6.000 M2, Salatiga 3.000 M2, Kabupaten Semarang 3.000 M2, dan di panti asuhannya sekarang 2.500 M2. “Silakan mereka ingin menjadi apa, kami fasilitasi. Intinya jangan menjadi gelandangan.” tegas Rais.

Rais orang hebat. Laki-laki berhati malaikat. Semoga selalu diberi kekuatan dan dilimpahi rizqi oleh Tuhan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/