alexametrics
26.9 C
Kudus
Friday, January 21, 2022

Ide Sederhana Menjadi Spektakuler

D’Emmerik Salatiga. Dulu merupakan tempat retret. Sekarang menjadi hotel bernuansa alam yang penuh pengunjung. Di tempat itulah Jumat-Sabtu (10-11/12/2021) lalu, Jawa Pos Radar Semarang menjauhkan diri sejenak dari dunia keseharian. Bermuhasabah. Instrospeksi. Menyongsong tahun 2022 yang segera tiba.

Awalnya, hanya ingin berembug bersama. Mengevaluasi apa yang dilakukan selama setahun terakhir. Kemudian menyusun rencana setahun ke depan. Acara berkembang menjadi refleksi sekaligus rekreasi seperti halnya D’Emmerik itu sendiri.

Emmerik adalah warga negara Belanda. Namun di prasasti tertulis lahir di Batavia, September 1857. Lengkapnya Adolf Theodorus Jacobus Van Emmerik (Di media sosial berbeda-beda. Saya mengutip sesuai prasasti). Pada usia 25 tahun dikirim ke Indonesia sebagai misionaris. Dia menikah dengan Alice Cleverly, gadis berkebangsaan Inggirs. Kemudian dikaruniai enam anak. Mereka tinggal di Salatiga.

Ketika Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada 1901 banyak penduduk yang mengungsi ke Salatiga. Mereka ditampung di berbagai tempat, termasuk di rumah Emmerik dan alun-alun. Setahun kemudian Emmerik mendirikan barak-barak penampungan di jalan Salatiga – Kopeng Km 4 yang sekarang dikenal kawasan salib putih.

Di situ juga dibangun berbagai fasilitas, termasuk gereja dari kayu yang sampai sekarang dipertahankan keasliannya. Belakangan juga dibangun tempat retret. Tempat mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia, berinstropeksi, dan berdoa. Biasanya dilakukan oleh umat agama tertentu secara berkelompok.

Di tempat yang kemudian menjadi hotel D’Emmerik itu Radar Semarang beritual. Mengevaluasi kinerja selama setahun 2021. Radar Kudus akan melakukannya Sabtu-Minggu (18-19/12/2021) depan.

Dari deretan angka bisa disimpulkan kondisi masih berat. Seperti yang dialami kebanyakan perusahaan. Yang menggembirakan, penurunan bisnis tidak sampai 10 persen. Perusahaan juga masih bisa mengumpulkan pundi-pundi laba. Sebagai hadiah manajemen memberikan baju baru. Batik tulis semarangan. Motif laseman. Berwarna merah. Untuk seragam semua karyawan pada hari Jumat. Menggantikan seragam lama berwarna biru.

Saya merasakan betul betapa beratnya tahun 2021 seperti halnya tahun 2020. Karena itu, saya memberi kesempatan karyawan beristirahat. Refleksi hanya sampai pukul 16.30. Selebihnya untuk menikmati suasana hotel yang sampai malam tahun baru nanti sudah penuh pemesan. Toh karyawan sudah bekerja penuh selama setahun.

Panitia merancang, malam hari hanya diisi dinner sederhana yang menghibur. Musiknya sudah disiapkan solo organ. Kemudian ditingkatkan menjadi band. Setelah dipikir-pikir, makan malam seperti itu sudah biasa. Tidak ada kesan.

Mulai muncul ide. Sangat sederhana. Semua peserta mengenakan topi yang dibuat dari koran bekas. Cukup menggulung koran menjadi seperti contong bungkus kacang. Sekadar menandai sebagai orang koran.

Baca Juga :  Jalan-Jalan Lagi, Kulineran Lagi

Sebelum diputuskan, pikiran berkembang lagi. Khas pikirannya orang koran. Berkembang dalam sekejap. Kok terlalu sederhana? Bagaimana kalau baju koran?. “Oke, cosplay koran,” kata Mariska, salah seorang panitia. Dia kegirangan. Menemukan atraksi yang kelak bakal seru.

Semula saya tidak begitu ngeh. Tetapi saya menyemangati. Cosplay berasal dari kata costume dan play. Yaitu, permainan kostum. Biasanya meniru kostum-kostum karakter dan tokoh beserta asesorinya. Seperti tokoh anime, manga, dongeng, wayang, musisi idola, dan tokoh-tokoh film kartun.

Perintah dilempar disertai contoh-contoh desain baju untuk pria dan wanita. Sambutannya masih adem ayem. Kemudian didorong dengan pancingan hadiah. Mulailah pada coba-coba. Begitu seorang memamerkan hasil karyanya, yang lain ikut. Disusul yang lain lagi. Akhirnya mereka beramai-ramai berlomba membuat kostum koran. Setelah ditampilkan ada baju ala wayang, eksekutif muda, manusia planet, pengantin. Banyak juga cewek yang mengenakan kostum rok di atas lutut tanpa lengan.

Penampilannya bagaimana. Pokoknya dipakai saat makan malam. Sebelum menyentuh piring, mereka berkumpul di taman. Membentuk lingkaran besar. Satu per satu atau secara berkelompok diminta berjalan mengitari api unggun di tengah taman. Diiringi musik.

Direktur diminta menilai. Mendekati satu persatu. Kemudian mengumumkan 10 nominator. Dipersempit lagi menjadi empat pemenang. Mereka ditampilkan di depan api unggun. Diiringi musik dan sorak-sorai. Dan, juara pertama adalah Puput dari Biro Magelang. Kostumnya menggelembung dipenuhi gulungan-gulungan koran. Kepalanya dihiasi mahkota.

“Acara refleksi kali ini seru sekali. Apalagi sesi cosplay koran. Jujur awalnya saya pesimistis. Ternyata hasilnya di luar ekspektasi. Meriah sekali. Banyak kostum keren yang lahir dari koran bekas,” kata Kiki, karyawati bagian admin.

Jadilah acara makan malam dengan tema cosplay koran yang spektakuler. Intinya, ide kecil dikelola secara serius. Detail. Fokus. Dilaksanakan dengan konsisten.

Pagi berikutnya diisi outbond. Permainannya sederhana dan ringan. Sehingga bisa diikuti oleh seluruh peserta. Game awal untuk melatih fokus perhatian. Mula-mula peserta diminta bergerak sesuai perintah. Semua bisa. Gerakan menjadi agak kacau ketika perintah dibalik. Perintah ke kanan gerakan ke kiri. Banyak yang salah.

Latihan fokus perhatian dilanjut dengan permainan kedua. Permainan ketiga dan keempat untuk meningkatkan kebersamaan dan kerja sama. Permainan terakhir membutuhkan strategi. “Closing statemen saya, inti seluruh acara dari kemarin hingga siang ini adalah permainan terakhir. Semangat, kebersamaan, kerja keras, dan saling bantu saja tidak cukup. Dibutuhkan strategi,” kata saya menutup acara.

Strategi itu telah dipaparkan sehari sebelumnya saat refleksi. Semoga tahun depan lebih baik, lebih besar. 2022, Move up. (*)

D’Emmerik Salatiga. Dulu merupakan tempat retret. Sekarang menjadi hotel bernuansa alam yang penuh pengunjung. Di tempat itulah Jumat-Sabtu (10-11/12/2021) lalu, Jawa Pos Radar Semarang menjauhkan diri sejenak dari dunia keseharian. Bermuhasabah. Instrospeksi. Menyongsong tahun 2022 yang segera tiba.

Awalnya, hanya ingin berembug bersama. Mengevaluasi apa yang dilakukan selama setahun terakhir. Kemudian menyusun rencana setahun ke depan. Acara berkembang menjadi refleksi sekaligus rekreasi seperti halnya D’Emmerik itu sendiri.

Emmerik adalah warga negara Belanda. Namun di prasasti tertulis lahir di Batavia, September 1857. Lengkapnya Adolf Theodorus Jacobus Van Emmerik (Di media sosial berbeda-beda. Saya mengutip sesuai prasasti). Pada usia 25 tahun dikirim ke Indonesia sebagai misionaris. Dia menikah dengan Alice Cleverly, gadis berkebangsaan Inggirs. Kemudian dikaruniai enam anak. Mereka tinggal di Salatiga.

Ketika Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada 1901 banyak penduduk yang mengungsi ke Salatiga. Mereka ditampung di berbagai tempat, termasuk di rumah Emmerik dan alun-alun. Setahun kemudian Emmerik mendirikan barak-barak penampungan di jalan Salatiga – Kopeng Km 4 yang sekarang dikenal kawasan salib putih.

Di situ juga dibangun berbagai fasilitas, termasuk gereja dari kayu yang sampai sekarang dipertahankan keasliannya. Belakangan juga dibangun tempat retret. Tempat mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia, berinstropeksi, dan berdoa. Biasanya dilakukan oleh umat agama tertentu secara berkelompok.

Di tempat yang kemudian menjadi hotel D’Emmerik itu Radar Semarang beritual. Mengevaluasi kinerja selama setahun 2021. Radar Kudus akan melakukannya Sabtu-Minggu (18-19/12/2021) depan.

Dari deretan angka bisa disimpulkan kondisi masih berat. Seperti yang dialami kebanyakan perusahaan. Yang menggembirakan, penurunan bisnis tidak sampai 10 persen. Perusahaan juga masih bisa mengumpulkan pundi-pundi laba. Sebagai hadiah manajemen memberikan baju baru. Batik tulis semarangan. Motif laseman. Berwarna merah. Untuk seragam semua karyawan pada hari Jumat. Menggantikan seragam lama berwarna biru.

Saya merasakan betul betapa beratnya tahun 2021 seperti halnya tahun 2020. Karena itu, saya memberi kesempatan karyawan beristirahat. Refleksi hanya sampai pukul 16.30. Selebihnya untuk menikmati suasana hotel yang sampai malam tahun baru nanti sudah penuh pemesan. Toh karyawan sudah bekerja penuh selama setahun.

Panitia merancang, malam hari hanya diisi dinner sederhana yang menghibur. Musiknya sudah disiapkan solo organ. Kemudian ditingkatkan menjadi band. Setelah dipikir-pikir, makan malam seperti itu sudah biasa. Tidak ada kesan.

Mulai muncul ide. Sangat sederhana. Semua peserta mengenakan topi yang dibuat dari koran bekas. Cukup menggulung koran menjadi seperti contong bungkus kacang. Sekadar menandai sebagai orang koran.

Baca Juga :  Jalan-Jalan Lagi, Kulineran Lagi

Sebelum diputuskan, pikiran berkembang lagi. Khas pikirannya orang koran. Berkembang dalam sekejap. Kok terlalu sederhana? Bagaimana kalau baju koran?. “Oke, cosplay koran,” kata Mariska, salah seorang panitia. Dia kegirangan. Menemukan atraksi yang kelak bakal seru.

Semula saya tidak begitu ngeh. Tetapi saya menyemangati. Cosplay berasal dari kata costume dan play. Yaitu, permainan kostum. Biasanya meniru kostum-kostum karakter dan tokoh beserta asesorinya. Seperti tokoh anime, manga, dongeng, wayang, musisi idola, dan tokoh-tokoh film kartun.

Perintah dilempar disertai contoh-contoh desain baju untuk pria dan wanita. Sambutannya masih adem ayem. Kemudian didorong dengan pancingan hadiah. Mulailah pada coba-coba. Begitu seorang memamerkan hasil karyanya, yang lain ikut. Disusul yang lain lagi. Akhirnya mereka beramai-ramai berlomba membuat kostum koran. Setelah ditampilkan ada baju ala wayang, eksekutif muda, manusia planet, pengantin. Banyak juga cewek yang mengenakan kostum rok di atas lutut tanpa lengan.

Penampilannya bagaimana. Pokoknya dipakai saat makan malam. Sebelum menyentuh piring, mereka berkumpul di taman. Membentuk lingkaran besar. Satu per satu atau secara berkelompok diminta berjalan mengitari api unggun di tengah taman. Diiringi musik.

Direktur diminta menilai. Mendekati satu persatu. Kemudian mengumumkan 10 nominator. Dipersempit lagi menjadi empat pemenang. Mereka ditampilkan di depan api unggun. Diiringi musik dan sorak-sorai. Dan, juara pertama adalah Puput dari Biro Magelang. Kostumnya menggelembung dipenuhi gulungan-gulungan koran. Kepalanya dihiasi mahkota.

“Acara refleksi kali ini seru sekali. Apalagi sesi cosplay koran. Jujur awalnya saya pesimistis. Ternyata hasilnya di luar ekspektasi. Meriah sekali. Banyak kostum keren yang lahir dari koran bekas,” kata Kiki, karyawati bagian admin.

Jadilah acara makan malam dengan tema cosplay koran yang spektakuler. Intinya, ide kecil dikelola secara serius. Detail. Fokus. Dilaksanakan dengan konsisten.

Pagi berikutnya diisi outbond. Permainannya sederhana dan ringan. Sehingga bisa diikuti oleh seluruh peserta. Game awal untuk melatih fokus perhatian. Mula-mula peserta diminta bergerak sesuai perintah. Semua bisa. Gerakan menjadi agak kacau ketika perintah dibalik. Perintah ke kanan gerakan ke kiri. Banyak yang salah.

Latihan fokus perhatian dilanjut dengan permainan kedua. Permainan ketiga dan keempat untuk meningkatkan kebersamaan dan kerja sama. Permainan terakhir membutuhkan strategi. “Closing statemen saya, inti seluruh acara dari kemarin hingga siang ini adalah permainan terakhir. Semangat, kebersamaan, kerja keras, dan saling bantu saja tidak cukup. Dibutuhkan strategi,” kata saya menutup acara.

Strategi itu telah dipaparkan sehari sebelumnya saat refleksi. Semoga tahun depan lebih baik, lebih besar. 2022, Move up. (*)

Most Read

Artikel Terbaru