alexametrics
26.4 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Empat Sadar saat Mulai Lengah

BEGITU saya masuk rumah Sabtu (3/7) sehabis maghrib, anak saya memberi tahu, salah satu anggota keluarga sebelah rumah terkena Covid-19. Saya langsung minta untuk segera menutup pintu. Jangan sampai bertemu anggota keluarga tetangga itu. Sadis memang.

Sabtu pagi ketika masih di Kudus saya mendapat kabar dari seorang teman di Jepara. Pamannya meninggal. Sehari sebelumnya dibawa ke rumah sakit. Saat itu kondisinya kritis. Batuk berat. Nafasnya tersengal-sengal. Badannya lemas. Di rumah sakit dimasukkan ruang isolasi. Namun sampai jenazahnya dibawa pulang tidak ada keterangan terkena Covid-19.

Sepuluh hari sebelumnya, tepatnya 1 Juli 2021, anak paman itu juga meninggal. Kondisinya parah. Dibutuhkan bantuan oksigen untuk pernapasan. Sampai ajal menjemput tidak ada keterangan apakah dia terkena covid atau tidak. Sejauh itu belum pernah dilakukan swab. Jenazahnya dikubur dengan cara biasa.


Selagi saya menikmati umbi talas rebus (orang Jawa tengah bilang entik, orang Jawa Timur mengatakan mbote) anak saya bertanya, kok bisa sampai rumah? Apa tidak terkena penyekatan? Alhamdulillah sepanjang perjalanan dari Kudus ke Sidoarjo tidak terkena cegatan sama sekali. Sepengamatan saya jalur luar kota pantura Jateng – Jatim los dol. Namun banyak jalan masuk ke tengah kota ditutup, terutama di Kudus.

Dalam hati saya sering tertawa, memangnya covid hanya menyebar di tengah kota? Tapi, saya tak menyalahkan siapa-siapa. Penyekatan bertujuan untuk mengurangi mobilitas. Dengan pemblokiran jalan seperti itu orang jadi malas bepergian. Apalagi mal, super market, dan pasar, juga tutup. Restoran dan warung tidak melayani makan di tempat.

Repotnya, di rumah saja juga tetap berpotensi tertular covid. Virus mematikan yang belum ada obatnya itu bukan hanya menyerang orang kaya di kota. Orang-orang melarat di desa sudah banyak yang menjadi korban. Covid sudah ada di desa-desa, di kampung-kampung. Di RW, di RT. Bahkan di rumah-rumah. Sekarang sudah terjadi kluster kampung, komunitas, kelompok, maupun rumah tangga. Pergerakan covid tak bisa dibatasi lagi.

Di rumah saja tidak cukup. Mengenakan masker pun tidak menjamin aman. Harus ada upaya-upaya lain untuk menyelamatkan diri dan masyarakat. Saya rumuskan empat sadar. Sudah saya komunikasikan ke karyawan dalam rapat umum melalui daring. Saya instruksikan  agar dilaksanakan. Mestinya pemerintah juga menyosialisasikan dan masyarakat melaksanakan.

Pertama sadar prokes. Baik, di rumah, di tempat kerja, dan di mana saja. Ini sudah dilaksanakan didengungkan oleh pemerintah. Repotnya belum seluruh orang menyadari. Malah banyak orang yang sadar pun mulai lengah. Memang tidak gampang menyadarkan orang. Apalagi di desa-desa. Mereka masih merasa aman-aman saja.

Baca Juga :  Terkonfirmasi Positif, Pengantin di Grobogan Pakai Hazmat saat Ijab Kabul

Suatu hari bude saya meninggal. Saya takziah. Mengenakan masker. ”Bersalaman” dengan kepalan tangan. “Koyo wong kantoran cah (seperti orang kantoran saja),” komentar salah seorang pentakziah. Ketika tahlil saya sudah mengambil tempat paling belakang. Paling pojok. Menyendiri. Masih saja ada orang yang menyalami. Duduk berhimpitan. Tidak mengenakan masker. Sebagian besar pentakziah memang tidak mengenakan masker.

Memaskerkan masyarakat itu pekerjaan berat. Tapi harus terus dilakukan. Tidak boleh ada yang lengah

Kedua, sadar vaksin. Pekerjaan ini juga tidak gampang. Malah kadang-kadang menggelikan. Awalnya pemerintah gembar-gempor, ayo vaksin. Begitu masyarakat tergerak vaksinnya tidak ada. Antrean vaksin memanjang. Begitu vaksinnya cukup, masyarakat apatis. Vaksinnya yang menunggu orang.

Ketiga, sadar swab. Di masyarakat masih rendah. Sampai ada anggota keluarga yang positif covid pun, banyak orang yang tidak mau melakukan swab. Wajar saja. Harganya masih mahal. Sekitar Rp 150 – 200 ribu. Repotnya surat keterangannya tidak bisa dipakai berlama-lama. Hanya 14 hari. Malah ada yang hanya 24 jam. ”Memangnya swab harus setiap hari,” kata saya dalam hati.

Yang lebih menggelikan ada orang yang bergejala. Tetapi mereka enggan melakukan swab. Yang dikhawatirkan bukan biayanya. Melainkan takut kalau divonis covid. Padahal dengan tidak melakukan swab mereka tidak tahu apakah kena covid atau tidak.

Keempat, sadar imun. Ini yang menurut saya paling penting. Mestinya ini juga yang harus menjadi fokus pemerintah. Tidak harus masyarakat berbondong-bpndong membeli multivitamin yang belakangan harganya melambung. Juga membeli susu yang sebenarnya susu biasa. Apalagi membeli obat-obatan yang dikesankan sebagai obat covid, yang sebenarnya tidak ada itu.

Saya lebih condong memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Banyak rempah-rempah yang bisa memperkuat imun. Ada madu, jahe, kunir, jeruk nipis, sereh, kayu secang, kapulaga, temu lawak, dan sebagainya.

Pada awal covid merebak harga rempah-rempah itu melambung. Kini sudah jauh menurun. Saya pernah mengecek jahe di pasaran. Harganya sekitar Rp 25.00 per kilogram. Malah di tingkat pengepul hanya Rp 15.000 per kilogram. Itu pun tidak booming.

Sadar imun inilah yang bisa melindungi masyarakat dari serangan covid. Sudah banyak orang membuktikan apabila imun kuat covid akan mental. Karena itulah memperkuat imun tidak cukup dengan imunisasi yang kita belum tahu efektivitasnya. Melainkan, harus dengan memanfaatkan kekayaan alam kita. Inilah yang harus dikampanyekan pemerintah dan kita semua. Jauh melebihi penyekatan jalan.

Sekali lagi, empat sadar. Sadar prokes, sadar swab, sadar vaksin, dan sadar imun. Mudah-mudahan kita semua sehat. (*)

BEGITU saya masuk rumah Sabtu (3/7) sehabis maghrib, anak saya memberi tahu, salah satu anggota keluarga sebelah rumah terkena Covid-19. Saya langsung minta untuk segera menutup pintu. Jangan sampai bertemu anggota keluarga tetangga itu. Sadis memang.

Sabtu pagi ketika masih di Kudus saya mendapat kabar dari seorang teman di Jepara. Pamannya meninggal. Sehari sebelumnya dibawa ke rumah sakit. Saat itu kondisinya kritis. Batuk berat. Nafasnya tersengal-sengal. Badannya lemas. Di rumah sakit dimasukkan ruang isolasi. Namun sampai jenazahnya dibawa pulang tidak ada keterangan terkena Covid-19.

Sepuluh hari sebelumnya, tepatnya 1 Juli 2021, anak paman itu juga meninggal. Kondisinya parah. Dibutuhkan bantuan oksigen untuk pernapasan. Sampai ajal menjemput tidak ada keterangan apakah dia terkena covid atau tidak. Sejauh itu belum pernah dilakukan swab. Jenazahnya dikubur dengan cara biasa.

Selagi saya menikmati umbi talas rebus (orang Jawa tengah bilang entik, orang Jawa Timur mengatakan mbote) anak saya bertanya, kok bisa sampai rumah? Apa tidak terkena penyekatan? Alhamdulillah sepanjang perjalanan dari Kudus ke Sidoarjo tidak terkena cegatan sama sekali. Sepengamatan saya jalur luar kota pantura Jateng – Jatim los dol. Namun banyak jalan masuk ke tengah kota ditutup, terutama di Kudus.

Dalam hati saya sering tertawa, memangnya covid hanya menyebar di tengah kota? Tapi, saya tak menyalahkan siapa-siapa. Penyekatan bertujuan untuk mengurangi mobilitas. Dengan pemblokiran jalan seperti itu orang jadi malas bepergian. Apalagi mal, super market, dan pasar, juga tutup. Restoran dan warung tidak melayani makan di tempat.

Repotnya, di rumah saja juga tetap berpotensi tertular covid. Virus mematikan yang belum ada obatnya itu bukan hanya menyerang orang kaya di kota. Orang-orang melarat di desa sudah banyak yang menjadi korban. Covid sudah ada di desa-desa, di kampung-kampung. Di RW, di RT. Bahkan di rumah-rumah. Sekarang sudah terjadi kluster kampung, komunitas, kelompok, maupun rumah tangga. Pergerakan covid tak bisa dibatasi lagi.

Di rumah saja tidak cukup. Mengenakan masker pun tidak menjamin aman. Harus ada upaya-upaya lain untuk menyelamatkan diri dan masyarakat. Saya rumuskan empat sadar. Sudah saya komunikasikan ke karyawan dalam rapat umum melalui daring. Saya instruksikan  agar dilaksanakan. Mestinya pemerintah juga menyosialisasikan dan masyarakat melaksanakan.

Pertama sadar prokes. Baik, di rumah, di tempat kerja, dan di mana saja. Ini sudah dilaksanakan didengungkan oleh pemerintah. Repotnya belum seluruh orang menyadari. Malah banyak orang yang sadar pun mulai lengah. Memang tidak gampang menyadarkan orang. Apalagi di desa-desa. Mereka masih merasa aman-aman saja.

Baca Juga :  Penghargaan yang Menginspirasi

Suatu hari bude saya meninggal. Saya takziah. Mengenakan masker. ”Bersalaman” dengan kepalan tangan. “Koyo wong kantoran cah (seperti orang kantoran saja),” komentar salah seorang pentakziah. Ketika tahlil saya sudah mengambil tempat paling belakang. Paling pojok. Menyendiri. Masih saja ada orang yang menyalami. Duduk berhimpitan. Tidak mengenakan masker. Sebagian besar pentakziah memang tidak mengenakan masker.

Memaskerkan masyarakat itu pekerjaan berat. Tapi harus terus dilakukan. Tidak boleh ada yang lengah

Kedua, sadar vaksin. Pekerjaan ini juga tidak gampang. Malah kadang-kadang menggelikan. Awalnya pemerintah gembar-gempor, ayo vaksin. Begitu masyarakat tergerak vaksinnya tidak ada. Antrean vaksin memanjang. Begitu vaksinnya cukup, masyarakat apatis. Vaksinnya yang menunggu orang.

Ketiga, sadar swab. Di masyarakat masih rendah. Sampai ada anggota keluarga yang positif covid pun, banyak orang yang tidak mau melakukan swab. Wajar saja. Harganya masih mahal. Sekitar Rp 150 – 200 ribu. Repotnya surat keterangannya tidak bisa dipakai berlama-lama. Hanya 14 hari. Malah ada yang hanya 24 jam. ”Memangnya swab harus setiap hari,” kata saya dalam hati.

Yang lebih menggelikan ada orang yang bergejala. Tetapi mereka enggan melakukan swab. Yang dikhawatirkan bukan biayanya. Melainkan takut kalau divonis covid. Padahal dengan tidak melakukan swab mereka tidak tahu apakah kena covid atau tidak.

Keempat, sadar imun. Ini yang menurut saya paling penting. Mestinya ini juga yang harus menjadi fokus pemerintah. Tidak harus masyarakat berbondong-bpndong membeli multivitamin yang belakangan harganya melambung. Juga membeli susu yang sebenarnya susu biasa. Apalagi membeli obat-obatan yang dikesankan sebagai obat covid, yang sebenarnya tidak ada itu.

Saya lebih condong memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Banyak rempah-rempah yang bisa memperkuat imun. Ada madu, jahe, kunir, jeruk nipis, sereh, kayu secang, kapulaga, temu lawak, dan sebagainya.

Pada awal covid merebak harga rempah-rempah itu melambung. Kini sudah jauh menurun. Saya pernah mengecek jahe di pasaran. Harganya sekitar Rp 25.00 per kilogram. Malah di tingkat pengepul hanya Rp 15.000 per kilogram. Itu pun tidak booming.

Sadar imun inilah yang bisa melindungi masyarakat dari serangan covid. Sudah banyak orang membuktikan apabila imun kuat covid akan mental. Karena itulah memperkuat imun tidak cukup dengan imunisasi yang kita belum tahu efektivitasnya. Melainkan, harus dengan memanfaatkan kekayaan alam kita. Inilah yang harus dikampanyekan pemerintah dan kita semua. Jauh melebihi penyekatan jalan.

Sekali lagi, empat sadar. Sadar prokes, sadar swab, sadar vaksin, dan sadar imun. Mudah-mudahan kita semua sehat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/