alexametrics
24.1 C
Kudus
Friday, November 26, 2021

Kota Bunga di Daerah Tandus

KAMIS lalu saya ke Blora. Di ujung timur Jawa Tengah. Sudah kangen sama Pak Arief Rohman, orang nomor satu di Kota Barongan. Sudah lama saya tidak bertemu beliau. Terakhir berjumpa ketika dilantik menjadi bupati sekitar Februari 2021 lalu.

Sudah lama kami saling kenal. Beliau memanggil saya senior. Usianya memang masih muda. Baru 41 tahun (Lahir 8 Maret 1980). Nyaris dua per tiga dari usia saya. Tetapi saya sangat menghormati. Beberapa kali saya bersilaturahim. Baik di pendapa kabupaten maupun di rumah kelahiran. Beliau juga pernah ke rumah kelahiran saya di Kudus.

Arief yang mencalonkan bupati lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu santri. Penampilannya tidak berubah dibanding sebelum menjadi bupati. Memakai peci. Di rumah dinasnya tertempel logo jamiyah Nahdlatul Ulama.

Saya terkesan pada beliau. Lompatan pemikirannya sangat bagus. Beliau ingin mengubah daerah kelahirannya itu. Pemikiran seperti itu biasa bagi kepala daerah. Yang luar biasa, beliau ingin menjadikan Blora yang terkenal tandus dan miskin menjadi kota bunga. Tepatnya bunga bougenvil. Bunga ini cocok di daerah kering. Belakangan juga ngetren di negeri ini.

Tahap pertama akan disulap bekas lapangan golf yang kini mangkrak menjadi taman bougenvil lengkap dengan sarana wisatanya. Sudah ada investor yang ingin menanamkan modalnya. Kelak bougenvil dengan beraneka warna cerah ditanam di berbagai tempat untuk menghiasi kota. Soal berhasil atau tidak, itu urusan lain. Tapi pemikiran yang tidak biasa sangat diperlukan untuk mendorong munculnya gagasan lain.

Obsesi lain yang membuat saya manthuk-manthuk adalah keinginannya mengubah wajah kemiskinan. Di wilayah seluas 1.821 Km2 itu, masih ada sekitar 100 ribu penduduk miskin. Berada di papan bawah tingkat kemiskinan di Jawa Tengah apabila dibagi tiga. Inilah yang mengusik ketenangannya. ”Banyak orang yang sebenarnya kuat naik haji, tetapi tercatat sebagai penduduk miskin,” ujar Arief yang lahir di Desa Seren, Banjarejo, Blora.

Bagi saya Blora itu tidak miskin. Kalaupun ada yang miskin, tidak miskin-miskin amat. Kalau tingkat kemiskinan mencapai 11,96 persen, itu karena kriteria kemiskinan diukur bukan hanya dari banyaknya harta.

Pak Darno misalnya, punya empat ekor sapi. Sudah lumayan besar. Sapi itu dipelihara di kandang yang menyatu dengan rumah. Letaknya di bagian belakang. Bau kotorannya menyengat sampai depan rumah. Bagi dia kondisi seperti itu tidak masalah. Begitu juga bagi peternak sapi di Blora pada umumnya.

Baca Juga :  Hari (Yang Benar-Benar) Batik

Kebanyakan orang Blora itu hidup di desa. Mata pencahariannya sebagai petani dan peternak. Banyak di antara mereka yang memiliki rumah besar. Namun terbuat dari papan berlantai tanah. Tempat buang air besarnya jamban plung alias jamban galian tanah terbuka. Ada yang satu rumah dihuni beberapa keluarga.

Kamis lalu selepas bertemu bupati, saya ke rumah Pak Darno di Kecamatan Jiken. Selain memelihara sapi, dia yang asli Pati juga memelihara ayam kalkun. Di kandang yang justru terpisah dari rumahnya ada puluhan ekor berbagai jenis. Saya ditawari sepasang warna abu-abu. Masih lancur. Usia sekitar 6 bulan. Harganya Rp 1.600.000. Bagi saya cukup mahal. Agar tidak pulang dengan tangan kosong saya membeli 12 ekor anakan jenis golden palm.

Bagi pemerintah, kondisi keluarga yang hidup menyatu dengan sapi peliharannya dianggap masalah. Padahal secara materi bisa jadi mereka tidak kekurangan.

Arief menemukan cara untuk mengatasi. Dia menggandeng banyak pihak, termasuk perguruan tinggi di berbagai daerah. Di lingkungan pemerintahannya dia mengerahkan SKPD (satuan kerja pemerintah daerah).

Beberapa waktu lalu, Arief menjalin kerja sama dengan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Pekalongan. Mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) diterjunkan di satu desa. Mereka mendampingi masyarakat desa agar mengubah kebiasaan hidupnya.

Arief cerdas. Beliau menemukan model yang lebih efektif lagi. Yaitu menerjunkan 40 SKPD ke desa-desa. Setiap SKPD diberi tugas untuk mendampingi satu desa. Kalau penduduk bisa menata rumahnya yang lebih sehat saja, angka kemiskinan akan turun drastis.

Bagi Blora, sapi tidak bisa dipisahkan dari perekonomian rakyat. Untuk itulah Arief berpikir bagaimana caranya agar sapi berkembang dengan cara yang baik. Kini, beliau telah menyiapkan lahan 300 hektar untuk peternakan sapi modern. Di lahan itu, nanti juga akan dibikin industri pembuatan pakan dan pengolahan dagingnya. Untuk merealisasikan ide besarnya itu, beliau telah menggandeng Universitas Gajah Mada (UGM) dan investor.

Soal keberhasilan, itu urusan nanti. Yang pasti ide besar seperti itu diperlukan untuk memacu perkembangan negeri ini. (*)

KAMIS lalu saya ke Blora. Di ujung timur Jawa Tengah. Sudah kangen sama Pak Arief Rohman, orang nomor satu di Kota Barongan. Sudah lama saya tidak bertemu beliau. Terakhir berjumpa ketika dilantik menjadi bupati sekitar Februari 2021 lalu.

Sudah lama kami saling kenal. Beliau memanggil saya senior. Usianya memang masih muda. Baru 41 tahun (Lahir 8 Maret 1980). Nyaris dua per tiga dari usia saya. Tetapi saya sangat menghormati. Beberapa kali saya bersilaturahim. Baik di pendapa kabupaten maupun di rumah kelahiran. Beliau juga pernah ke rumah kelahiran saya di Kudus.

Arief yang mencalonkan bupati lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu santri. Penampilannya tidak berubah dibanding sebelum menjadi bupati. Memakai peci. Di rumah dinasnya tertempel logo jamiyah Nahdlatul Ulama.

Saya terkesan pada beliau. Lompatan pemikirannya sangat bagus. Beliau ingin mengubah daerah kelahirannya itu. Pemikiran seperti itu biasa bagi kepala daerah. Yang luar biasa, beliau ingin menjadikan Blora yang terkenal tandus dan miskin menjadi kota bunga. Tepatnya bunga bougenvil. Bunga ini cocok di daerah kering. Belakangan juga ngetren di negeri ini.

Tahap pertama akan disulap bekas lapangan golf yang kini mangkrak menjadi taman bougenvil lengkap dengan sarana wisatanya. Sudah ada investor yang ingin menanamkan modalnya. Kelak bougenvil dengan beraneka warna cerah ditanam di berbagai tempat untuk menghiasi kota. Soal berhasil atau tidak, itu urusan lain. Tapi pemikiran yang tidak biasa sangat diperlukan untuk mendorong munculnya gagasan lain.

Obsesi lain yang membuat saya manthuk-manthuk adalah keinginannya mengubah wajah kemiskinan. Di wilayah seluas 1.821 Km2 itu, masih ada sekitar 100 ribu penduduk miskin. Berada di papan bawah tingkat kemiskinan di Jawa Tengah apabila dibagi tiga. Inilah yang mengusik ketenangannya. ”Banyak orang yang sebenarnya kuat naik haji, tetapi tercatat sebagai penduduk miskin,” ujar Arief yang lahir di Desa Seren, Banjarejo, Blora.

Bagi saya Blora itu tidak miskin. Kalaupun ada yang miskin, tidak miskin-miskin amat. Kalau tingkat kemiskinan mencapai 11,96 persen, itu karena kriteria kemiskinan diukur bukan hanya dari banyaknya harta.

Pak Darno misalnya, punya empat ekor sapi. Sudah lumayan besar. Sapi itu dipelihara di kandang yang menyatu dengan rumah. Letaknya di bagian belakang. Bau kotorannya menyengat sampai depan rumah. Bagi dia kondisi seperti itu tidak masalah. Begitu juga bagi peternak sapi di Blora pada umumnya.

Baca Juga :  Empat Sadar saat Mulai Lengah

Kebanyakan orang Blora itu hidup di desa. Mata pencahariannya sebagai petani dan peternak. Banyak di antara mereka yang memiliki rumah besar. Namun terbuat dari papan berlantai tanah. Tempat buang air besarnya jamban plung alias jamban galian tanah terbuka. Ada yang satu rumah dihuni beberapa keluarga.

Kamis lalu selepas bertemu bupati, saya ke rumah Pak Darno di Kecamatan Jiken. Selain memelihara sapi, dia yang asli Pati juga memelihara ayam kalkun. Di kandang yang justru terpisah dari rumahnya ada puluhan ekor berbagai jenis. Saya ditawari sepasang warna abu-abu. Masih lancur. Usia sekitar 6 bulan. Harganya Rp 1.600.000. Bagi saya cukup mahal. Agar tidak pulang dengan tangan kosong saya membeli 12 ekor anakan jenis golden palm.

Bagi pemerintah, kondisi keluarga yang hidup menyatu dengan sapi peliharannya dianggap masalah. Padahal secara materi bisa jadi mereka tidak kekurangan.

Arief menemukan cara untuk mengatasi. Dia menggandeng banyak pihak, termasuk perguruan tinggi di berbagai daerah. Di lingkungan pemerintahannya dia mengerahkan SKPD (satuan kerja pemerintah daerah).

Beberapa waktu lalu, Arief menjalin kerja sama dengan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Pekalongan. Mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) diterjunkan di satu desa. Mereka mendampingi masyarakat desa agar mengubah kebiasaan hidupnya.

Arief cerdas. Beliau menemukan model yang lebih efektif lagi. Yaitu menerjunkan 40 SKPD ke desa-desa. Setiap SKPD diberi tugas untuk mendampingi satu desa. Kalau penduduk bisa menata rumahnya yang lebih sehat saja, angka kemiskinan akan turun drastis.

Bagi Blora, sapi tidak bisa dipisahkan dari perekonomian rakyat. Untuk itulah Arief berpikir bagaimana caranya agar sapi berkembang dengan cara yang baik. Kini, beliau telah menyiapkan lahan 300 hektar untuk peternakan sapi modern. Di lahan itu, nanti juga akan dibikin industri pembuatan pakan dan pengolahan dagingnya. Untuk merealisasikan ide besarnya itu, beliau telah menggandeng Universitas Gajah Mada (UGM) dan investor.

Soal keberhasilan, itu urusan nanti. Yang pasti ide besar seperti itu diperlukan untuk memacu perkembangan negeri ini. (*)

Most Read

Artikel Terbaru