alexametrics
24 C
Kudus
Monday, June 6, 2022

Gempita Politik di Panggung Olah Raga

GEMPITA politik nasional semakin gegap setelah Presiden Jokowi, Ketua DPR Puan Maharani, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertontonkan kemesraannya di ajang Formula E Sentul. Apalagi kemudian disusul gelaran Silaturrahmi Nasional Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dihadiri Ketua Relawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi.

Spekulasi merebak. Ada yang menilai Jokowi yang tidak lagi bisa maju dalam pilpres mendukung Puan – Anies sebagai pasangan yang akan maju dalam pilpres. Di panggung utama ajang Formula E itu Puan duduk berdampingan dengan Anies. Malah Puan sempat selfi bersama Anies juga. Sedangkan Jokowi di sebelah kanan Puan.

Selama ini Anies dianggap sebagai lawan politik PDIP. Sebagian pengamat menilai, ketika dia bertekad menggelar Formula E tidak terlalu didukung oleh pemerintah. Mereka menyebut tidak ikut-sertanya kementrian BUMN menyeponsorinya gelaran tersebut sebagai bukti. Kenyataannya justru Presiden hadir bersama ketua DPR. Mereka pun menunjukkan kemesraannya.


Sebelum ada kejelasan arah kemesraan Jokowi, Puan, dan Anies tersebut, muncul kemesraan lain. Tiga Partai politik yang selama ini mendukung pemerintah mendeklarasikan Koalisi Indonesia Bersatu. Yaitu Golkar, PAN dan PPP. Silaturrahmi nasional yang digelar ketiga partai itu dihadiri Ketua Relawan Projo (Pro Jokowi) Budi Arie Setiadi. Spekulasi semakin ramai.

Dari kedua peristiwa ini nama Gubernur Ganjar Pranowo terbawa-bawa. Selama ini nama Ganjar muncul dalam berbagai survey calon presiden bersaing dengan Anies Baswedan. Berbagai pertanyaan bermunculan apakah kemesraan Jokowi, Puan, dan Anies di Ancol menandakan mereka akan meninggalkan Ganjar. Atau justru akan menyandingkan Ganjar dengan Anies. Kalau begitu lantas ke mana Puan.

Nama Ganjar sudah lama muncul di panggung nasional. Selain memiliki popularitas yang tinggi juga dinilai oleh sebagian pengamat memiliki potensi elektabilitas yang tinggi pula. Namun kalau PDIP, tempat dia bernaung selama ini, mengusungnya sebagai calon presiden akan terbentur nama Puan.

Baca Juga :  Survei: Airlangga Capres Teratas, Golkar Kuasai Sumatera dan Jawa

Apapun yang terjadi, fenomena yang mengemuka itu bisa merangsang rakyat untuk berpikir kritis. Bisa membawa mereka lebih dewasa. Sehingga tidak menjadi obyek politik. Karena itu, gempita di tingkat nasional harus dibawa sampai ke daerah. Selama ini, misalnya, di Jawa Tengah masih adem-ayem. Padahal Ganjar ada di sini.

Daerah perlu digugah semangat berpolitiknya. Karena di semua daerah akan terjadi pergantian pimpinan secara serentak. Baik bupati, wali kota, gubernur, maupun para anggota dewan. Pemanasan lebih dini akan membawa masyarakat lebih melek politik.

Sampai sekarang daerah masih dingin. Para kepala daerah yang sudah pensiun beberapa waktu lalu pun belum menentukan sikap. Sebut saja Bupati Jepara  Dian Kristiandi, Bupati Batang Wihaji, dan Wakil Wali Kota Salatiga Muhammad Haris. Kepala Daerah lain yang masih memiliki kesempatan maju lagi juga masih berdiam diri.

Apa yang terjadi di Jakarta juga perlu dicontoh di daerah. Politisi meramaikan panggung olah raga. Ini menguntungkan keduanya. Selama ini olah raga di daerah perlu didorong untuk memajukan daerah itu sendiri serta memunculkan bibit-bibit olahragawan. Maka politisi di daerah perlu juga naik ke panggung olah raga. Potensi keuntungan politiknya besar sekali. Bisa dengan meramaikan kompetisi-kompetisi sepak bola yang sebentar lagi akan bergulir atau yang lain.

Agaknya, politisi serta pengamat politik daerah perlu mendorong agar mereka berani menunjukkan sikap lebih awal. Paling tidak memberikan sinyal-sinyal politik agar situasi lebih hangat. Sekali lagi tujuannya untuk mencerdaskan masyarakat berpolitik. (*)

GEMPITA politik nasional semakin gegap setelah Presiden Jokowi, Ketua DPR Puan Maharani, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertontonkan kemesraannya di ajang Formula E Sentul. Apalagi kemudian disusul gelaran Silaturrahmi Nasional Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dihadiri Ketua Relawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi.

Spekulasi merebak. Ada yang menilai Jokowi yang tidak lagi bisa maju dalam pilpres mendukung Puan – Anies sebagai pasangan yang akan maju dalam pilpres. Di panggung utama ajang Formula E itu Puan duduk berdampingan dengan Anies. Malah Puan sempat selfi bersama Anies juga. Sedangkan Jokowi di sebelah kanan Puan.

Selama ini Anies dianggap sebagai lawan politik PDIP. Sebagian pengamat menilai, ketika dia bertekad menggelar Formula E tidak terlalu didukung oleh pemerintah. Mereka menyebut tidak ikut-sertanya kementrian BUMN menyeponsorinya gelaran tersebut sebagai bukti. Kenyataannya justru Presiden hadir bersama ketua DPR. Mereka pun menunjukkan kemesraannya.

Sebelum ada kejelasan arah kemesraan Jokowi, Puan, dan Anies tersebut, muncul kemesraan lain. Tiga Partai politik yang selama ini mendukung pemerintah mendeklarasikan Koalisi Indonesia Bersatu. Yaitu Golkar, PAN dan PPP. Silaturrahmi nasional yang digelar ketiga partai itu dihadiri Ketua Relawan Projo (Pro Jokowi) Budi Arie Setiadi. Spekulasi semakin ramai.

Dari kedua peristiwa ini nama Gubernur Ganjar Pranowo terbawa-bawa. Selama ini nama Ganjar muncul dalam berbagai survey calon presiden bersaing dengan Anies Baswedan. Berbagai pertanyaan bermunculan apakah kemesraan Jokowi, Puan, dan Anies di Ancol menandakan mereka akan meninggalkan Ganjar. Atau justru akan menyandingkan Ganjar dengan Anies. Kalau begitu lantas ke mana Puan.

Nama Ganjar sudah lama muncul di panggung nasional. Selain memiliki popularitas yang tinggi juga dinilai oleh sebagian pengamat memiliki potensi elektabilitas yang tinggi pula. Namun kalau PDIP, tempat dia bernaung selama ini, mengusungnya sebagai calon presiden akan terbentur nama Puan.

Baca Juga :  MK Ketok UU Ciptaker inkonstitusional, Jokowi: UU Ciptaker Masih Berlaku

Apapun yang terjadi, fenomena yang mengemuka itu bisa merangsang rakyat untuk berpikir kritis. Bisa membawa mereka lebih dewasa. Sehingga tidak menjadi obyek politik. Karena itu, gempita di tingkat nasional harus dibawa sampai ke daerah. Selama ini, misalnya, di Jawa Tengah masih adem-ayem. Padahal Ganjar ada di sini.

Daerah perlu digugah semangat berpolitiknya. Karena di semua daerah akan terjadi pergantian pimpinan secara serentak. Baik bupati, wali kota, gubernur, maupun para anggota dewan. Pemanasan lebih dini akan membawa masyarakat lebih melek politik.

Sampai sekarang daerah masih dingin. Para kepala daerah yang sudah pensiun beberapa waktu lalu pun belum menentukan sikap. Sebut saja Bupati Jepara  Dian Kristiandi, Bupati Batang Wihaji, dan Wakil Wali Kota Salatiga Muhammad Haris. Kepala Daerah lain yang masih memiliki kesempatan maju lagi juga masih berdiam diri.

Apa yang terjadi di Jakarta juga perlu dicontoh di daerah. Politisi meramaikan panggung olah raga. Ini menguntungkan keduanya. Selama ini olah raga di daerah perlu didorong untuk memajukan daerah itu sendiri serta memunculkan bibit-bibit olahragawan. Maka politisi di daerah perlu juga naik ke panggung olah raga. Potensi keuntungan politiknya besar sekali. Bisa dengan meramaikan kompetisi-kompetisi sepak bola yang sebentar lagi akan bergulir atau yang lain.

Agaknya, politisi serta pengamat politik daerah perlu mendorong agar mereka berani menunjukkan sikap lebih awal. Paling tidak memberikan sinyal-sinyal politik agar situasi lebih hangat. Sekali lagi tujuannya untuk mencerdaskan masyarakat berpolitik. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/