26.4 C
Kudus
Tuesday, February 7, 2023

Selamat Tahun Baru 2023

Merancang Hidup Lebih Panjang

KABAR itu sudah dihembuskan pertengahan Desember tahun lalu. Nasib sebuah koran di Jakarta harus berakhir di penghujung tahun 2022. Hari ini, tahun baru 2023, koran itu tidak lagi dicetak. Manajemen memutuskan untuk beralih ke digital.

Sebuah kelompok media lainnya di Jakarta bahkan menghentikan penerbitan empat media cetaknya sekaligus secara serentak akhir tahun 2022. Di Surabaya ada langkah serupa. Sebuah harian juga tidak dicetak Desember 2022.

Tahun 2023 yang sudah lepas dari PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) ternyata masih sulit. Banyak orang yang menilai ekonomi Indonesia pulih lebih cepat tetapi masih banyak yang menghantui. Ramalan perang dunia dan resesi.


Dicabutnya PPKM di penghujung tahun lalu disambut suka cita bangsa ini. Berarti tadi malam tidak ada lagi ketakutan merayakan tahun baru. Masyarakat lebih takut banjir yang merendam Kota Semarang dan beberapa daerah pantura Jawa Tengah. Selanjutnya semua kegiatan akan berjalanan normal layaknya sebelum masa pandemi Covid-19.  Optimisme akan terjadinya pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen menguat.

Industri media bisa jadi berjalan tidak beriringan. Bagi media cetak, tantangannya masih luar biasa berat. Sama seperti petani padi yang di musim panen tergencet beras impor di awal tahun 2023 ini. Di samping harus melawan arus, media cetak dihadapkan pada tingginya biaya produksi. Sampai-sampai ada sebuah koran yang menaikkan harga jualnya dari Rp 6.500 menjadi Rp 9.000 mulai 1 Januari 2023.

Saya sempat tertegun membaca pengumuman manajemen media itu pertengahan bulan lalu. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Kesimpulan saya, koran itu memiliki optimisme hidup yang tinggi. Saya yakin optimisme itu energi yang luar biasa. Bagi siapapun. Pada bidang apapun. Dalam situasi bagaimanapun.

Saya yang sudah 38 tahun malang melintang di koran masih optimistis koran bisa bertahan. Sebagaimana optimismenya orang-orang terdahulu ketika televisi mulai mengudara. Yang terjadi kemudian televisi dan koran berjalan berdampingan. Begitulah kiranya media cetak dan media digital kelak.

Baca Juga :  Kesegaran Baru!

Sama sekali tidak ada pikiran mati ketika Radar Kudus dan Radar Semarang mengadakan acara refleksi akhir tahun. Seluruh karyawan Radar Kudus berkumpul di Kusma Hotel Bandungan, Kabupaten Semarang, 8 – 9 Desember. Sedangkan Radar Semarang di Hotel Amanda Hill seminggu kemudian. Sebaliknya seluruh karyawan kedua perusahaan merancang masa depan.

Acara akhir tahun itu murni bersenang-senang. Malam party dan esok hari outbond serta wisata belanja. Radar Kudus bikin party ala soccer mania. Semua karyawan heboh-hebohan mengenakan kostum piala dunia lengkap dengan asesori dan lontang-lonteng wajah. Radar Semarang berpesta colorful dengan pakaian warna-warni yang spektakuler.

Bagi kami apapun yang terjadi di tahun 2023 harus dihadapi dengan riang gembira. Kaum milenial bilang santai saja.

Kalau ada acara yang serius, hanyalah sepanjang sore. Ada intropeksi melihat perjalanan ke belakang. Juga menghadirkan penyemangat masa depan. Heru Karjanto namanya. Seorang pengusaha. Semangatnya untuk bertahan dan berkembang luar biasa. Berkali-kali jatuh. Berkali-kali itu pula dia bangkit. Karyawan serius menyimak cerita tentang diri dan perjalanan membangun usaha. “Hemat atau melarat selamanya,” katanya memberi prinsip.

Prinsip itu sejalan dengan apa yang diterapkan, baik di Radar Kudus maupun Radar Semarang. Yaitu efektif dan efisien. Saya yakin tahun 2023 iklim ekonomi membaik. Tetapi tidak boleh lengah. Lebih baik bersikap hati-hati daripada terjebak biaya tinggi. Usaha apapun bisa mati mendadak.

Sebagaimana mati yang bisa direncanakan, Radar Kudus dan Radar Semarang merancang hidup yang lebih panjang. Radar Semarang meneguhkan tekad Better Than Ever seperti judul lagunya Flight Facilities. Sedangkan Radar Kudus mengeluarkan resolusi Creative Never Die. Dua semboyan yang berbeda tetapi satu tujuan. Terus Hidup dan Berkembang.

Selamat Tahun Baru 2023. (*/zen)


KABAR itu sudah dihembuskan pertengahan Desember tahun lalu. Nasib sebuah koran di Jakarta harus berakhir di penghujung tahun 2022. Hari ini, tahun baru 2023, koran itu tidak lagi dicetak. Manajemen memutuskan untuk beralih ke digital.

Sebuah kelompok media lainnya di Jakarta bahkan menghentikan penerbitan empat media cetaknya sekaligus secara serentak akhir tahun 2022. Di Surabaya ada langkah serupa. Sebuah harian juga tidak dicetak Desember 2022.

Tahun 2023 yang sudah lepas dari PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) ternyata masih sulit. Banyak orang yang menilai ekonomi Indonesia pulih lebih cepat tetapi masih banyak yang menghantui. Ramalan perang dunia dan resesi.

Dicabutnya PPKM di penghujung tahun lalu disambut suka cita bangsa ini. Berarti tadi malam tidak ada lagi ketakutan merayakan tahun baru. Masyarakat lebih takut banjir yang merendam Kota Semarang dan beberapa daerah pantura Jawa Tengah. Selanjutnya semua kegiatan akan berjalanan normal layaknya sebelum masa pandemi Covid-19.  Optimisme akan terjadinya pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen menguat.

Industri media bisa jadi berjalan tidak beriringan. Bagi media cetak, tantangannya masih luar biasa berat. Sama seperti petani padi yang di musim panen tergencet beras impor di awal tahun 2023 ini. Di samping harus melawan arus, media cetak dihadapkan pada tingginya biaya produksi. Sampai-sampai ada sebuah koran yang menaikkan harga jualnya dari Rp 6.500 menjadi Rp 9.000 mulai 1 Januari 2023.

Saya sempat tertegun membaca pengumuman manajemen media itu pertengahan bulan lalu. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Kesimpulan saya, koran itu memiliki optimisme hidup yang tinggi. Saya yakin optimisme itu energi yang luar biasa. Bagi siapapun. Pada bidang apapun. Dalam situasi bagaimanapun.

Saya yang sudah 38 tahun malang melintang di koran masih optimistis koran bisa bertahan. Sebagaimana optimismenya orang-orang terdahulu ketika televisi mulai mengudara. Yang terjadi kemudian televisi dan koran berjalan berdampingan. Begitulah kiranya media cetak dan media digital kelak.

Baca Juga :  Peringatan HUT ke-20 Radar Kudus Diawali Ziarah ke Makam Sunan Kudus dengan Naik Odong-Odong

Sama sekali tidak ada pikiran mati ketika Radar Kudus dan Radar Semarang mengadakan acara refleksi akhir tahun. Seluruh karyawan Radar Kudus berkumpul di Kusma Hotel Bandungan, Kabupaten Semarang, 8 – 9 Desember. Sedangkan Radar Semarang di Hotel Amanda Hill seminggu kemudian. Sebaliknya seluruh karyawan kedua perusahaan merancang masa depan.

Acara akhir tahun itu murni bersenang-senang. Malam party dan esok hari outbond serta wisata belanja. Radar Kudus bikin party ala soccer mania. Semua karyawan heboh-hebohan mengenakan kostum piala dunia lengkap dengan asesori dan lontang-lonteng wajah. Radar Semarang berpesta colorful dengan pakaian warna-warni yang spektakuler.

Bagi kami apapun yang terjadi di tahun 2023 harus dihadapi dengan riang gembira. Kaum milenial bilang santai saja.

Kalau ada acara yang serius, hanyalah sepanjang sore. Ada intropeksi melihat perjalanan ke belakang. Juga menghadirkan penyemangat masa depan. Heru Karjanto namanya. Seorang pengusaha. Semangatnya untuk bertahan dan berkembang luar biasa. Berkali-kali jatuh. Berkali-kali itu pula dia bangkit. Karyawan serius menyimak cerita tentang diri dan perjalanan membangun usaha. “Hemat atau melarat selamanya,” katanya memberi prinsip.

Prinsip itu sejalan dengan apa yang diterapkan, baik di Radar Kudus maupun Radar Semarang. Yaitu efektif dan efisien. Saya yakin tahun 2023 iklim ekonomi membaik. Tetapi tidak boleh lengah. Lebih baik bersikap hati-hati daripada terjebak biaya tinggi. Usaha apapun bisa mati mendadak.

Sebagaimana mati yang bisa direncanakan, Radar Kudus dan Radar Semarang merancang hidup yang lebih panjang. Radar Semarang meneguhkan tekad Better Than Ever seperti judul lagunya Flight Facilities. Sedangkan Radar Kudus mengeluarkan resolusi Creative Never Die. Dua semboyan yang berbeda tetapi satu tujuan. Terus Hidup dan Berkembang.

Selamat Tahun Baru 2023. (*/zen)


Most Read

Artikel Terbaru