Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mbah Pramugi, Sesepuh Sedulur Sikep Sambong Blora Dimakamkan Secara Adat Jawa

Arif Fakhrian Khalim • Minggu, 22 Februari 2026 | 19:40 WIB

 

TUTUP USIA: Sesepuh Sedulur Sikep Samin Sambongrejo, Sambong Blora, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo dibawa ke pemakaman Dukuh Blimbing dengan kerabat, keluarga dan sedulur sikep lainnya.
TUTUP USIA: Sesepuh Sedulur Sikep Samin Sambongrejo, Sambong Blora, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo dibawa ke pemakaman Dukuh Blimbing dengan kerabat, keluarga dan sedulur sikep lainnya.

BLORA - Sesepuh Sedulur Sikep Samin Sambongrejo, Sambong Blora, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo meninggal pada Sabtu (21/2) sekitar pukul 22.00 malam.

Pemakaman dilaksanakan pada Minggu (22/2) di Makam Dukuh Blimbing Desa Sambong, dengan prosesi adat Jawa.

Keponakan Mbah Pramugi, Mbah Sutono mengatakan, Mbah Pram akan dikebumikan di makam desa dengan jarak sekitar 400 meter dari rumah.

Untuk pemakaman memakai tradisi adat Jawa sesuai ajaran leluhur.

“Mbah Pramugi tutup usia di umur 68 tahun dengan mengidap kanker prostat. Sebenarnya sudah lama sakit, sekitar dua tahun lalu tetapi tidak di rasakan oleh Mbah Pramugi,” ucapnya.

Ia menyampaikan kondisi Mbah Pramugi sudah sakit sejak satu tahun lalu. Bahkan bolak-balik untuk berobat rutin menjalani kemoterapi ke Semarang di Rumah Sakit Umum Sultan Agung. Sebelumnya, Mbah Pramugi juga pernah  di bawa ke rumah sakit Cepu, dan hanya mendapatkan diagnosa vertigo dan asam lambung.

“Melihat Mbah Pram tak kunjung sembuh, keluarga dan kerabat membujuk untuk di rujuk ke Semarang dan baru diketahui mengidap kanker prostat dan harus rawat jalan. Meninggalnya Mbah Pramugi itu Sabtu malam, pulang dari rumah sakit Sabtu (21/2) jam 18.00 malam keadaan sudah drop dan Mbah Pramugi gak kuat dan tidak lama mbah Pramugi meninggal pukul 22.00 itu,” jelasnya.

Mbah Sutono juga mengatakan, pihak keluarga seminggu sebelum Mbah Pramugi wafat itu sudah ada tanda-tanda dan wasiat.  Namun tidak di hiraukan oleh pihak keluarga, karena keluarga hanya fokus kesembuhan Mbah Pramugi.

"Mbah Pramugi bilang ke anaknya, nanti tujuh hari kemudian apabila sudah tidak mau makan,  ya Seng apik, Seng Akur ( Yang rukun dan baik baik),"ucapnya

Menurutnya, sosok Mbah Pramugi sendiri seorang pejuang masyarakat dan lingkungan dan memberikan contoh bagi keluarga saudara dan masyarakat sekitar.

Lebih lanjut Setelah meninggalnya Mbah pramugi banyak yang merasa kehilangan, beliau adalah seorang pemimpin dan pengayom contoh generasi sekarang.

“Sampai saat ini belum ada petunjuk untuk penerus pengganti Mbah Pramugi, nantinya sedulur sikep akan adakan musyawarah atau pertemuan selapanan. Kemudian nantinya tetap minta pendampingan dari Dinas Kebudayaan Blora,” tuturnya.

Photo
Photo

Aktivis Lingkungan Sedulur Sikep Pati Gunretno turut hormat dan bela sungkawa atas salin sandangan Mbah Pramugi. Ia mengaku cukup dekat dengan Mbah Pramugi seperti saudara laki-laki.

“Ketika ndungu kabar salin sandangan aku melu kelangan. Kang Pramugi ini punya pengakuan orang Sikep sepertj yang dilakukan Mbah Samin Surosentiko,” ucapnya.

Gunretno merasa kehilangan atas kepergian Mbah Pramugi, namun ia tetap mengajak Sedulur Sikep dimana saja untuk bersama meneruskan perjuangan Mbah Samin Surosentiko.

“Kang Pramugi itu bisa berbaur dengan semua  perbedaan dulur-dulur yang satu komunitas dan termasuk juga diluar komunitas. Beliau itu humoris, merangkul sesama dan mengajak semuanya untuk seduluran,” ungkapnya. (ari)

Editor : Mahendra Aditya