BLORA - Mengkhawatirkan, angka kelahiran di Kabupaten Blora di bawah standar ideal.
Hal tersebut berimbas pada pertumbuhan penduduk yang cenderung stagnan hingga makin sedikit jumlah anak-anak.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Blora, Rukhedi menjelaskan kemauan warga untuk berkembang biak di Blora cenderung menurun.
Meski banyak pihak mengklaim hal itu keberhasilan KB, tetapi ada ancaman serius.
"Ini lampu merah. Total Fertility Rate (TFR) Blora di bawah batas minimal 2,1," katanya.
Angka 2,1 itu jadi standar minimal. Artinya setiap 100 ibu melahirkan 210 anak. Sementara di Blora angkanya di bawah itu yakni hanya 2,0.
"Di Blora dari 100 ibu hanya melahirkan 200 anak. Padahal anak yang dilahirkan itu tidak semua sampai dewasa," bebernya.
Menurutnya dampak atas kondisi itu merembet ke berbagai bidang. Seperti bidang pendidikan dengan terus berkurangnya jumlah siswa.
"Padahal survei kami sudah memasukkan perempuan tua. Nah yang muda trennya seperti di Jepang, Korea. Lama kelamaan satu anak cukup," tambahnya.
Menurutnya bila tren tersebut terus berlangsung, akan memicu penurunan populasi secara alami dalam jangka panjang. (tos)
Editor : Ali Mustofa