Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Saat MBG Dianggarkan 10 Ribu, Muhammadiyah Boarding School di Blora Hanya Dibudget 5 Ribu Untuk Tiga Kali Makan, Namun Tetap Bervariasi Tanpa Masalah

Eko Santoso • Senin, 20 Oktober 2025 | 17:36 WIB
BERBUAT: Farid Budiman pengawas SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa
BERBUAT: Farid Budiman pengawas SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa

BLORA – Saat anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat yang mencapai Rp 10 ribu per porsi masih banyak kekurangan, seperti makanan basi, ada belatung hingga porsi minimalis, pondok pesantren di Blora malah hanya patok biaya Rp 5 ribu untuk tiga kali makan bagi santri.

Meski terbilang mustahil, tetapi nyatanya bisa dilakukan. Bahkan menunya tetap bervariasi dan tanpa ada masalah. 

Hal itu sebagaimana diterapkan di SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa'uun Blora.

"Awalnya dulu kita undang ahli gizi. Memang sempat kita katering, namun begitu tahu katering biaya tinggi. Akhirnya masak sendiri. Lebih irit," ujarnya. 

Untuk menyediakan menu itu pihak yayasan menyewa satu juru masak. Tugasnya membuat sayur dan lauk. Sementara untuk nasi dimasak siswa sendiri. 

"Ini kan kami konsepnya MBS, Muhammadiyah Boarding School. Sekolah dan pondok jadi satu di sini. Ya otomatis kami sediakan kebutuhan anak. Makan minum, tempat tidur selama 24 jam. Namun kami latih mereka mandiri. Misal untuk masak nasi," tuturnya. 

Di sekolah tersebut konsep MBS dan pemberian makan bergizi itu sudah berlangsung sepuluh tahun terakhir. Dan sejauh itu tak pernah ada kendala. 

"Jadi tiga kali sehari. Sarapan sebelum berangkat sekolah, makan siang jam 12 siang dan makan malam setelah magrib," imbuhnya. 

Saat makan ada anak yang mendapatkan jadwal piket. Tugasnya membagi jatah makanan ke dalam wadah. Sehingga mereka tak saling berebut. 

"Kami akui memang menu sederhana. Karena niatnya membantu, bukan profit. Sebab mayoritas di sini kalangan menengah ke bawah," jelasnya. 

Karena sudah mendapatkan jatah makan, uang saku anak pun juga dibatasi. Yakni 300 ribu per bulan. Uang itu dititipkan ke pengurus. Bila anak perlu, mereka meminta ke pengurus. 

"Tentu ini sudah kami sampaikan ke orang tua," katanya. 

Pihaknya menambahkan jika memang budget 5000 untuk tiga kali makan sangat minim. Namun diupayakan cukup. 

"Kami juga tertolong karena ada donatur," paparnya. 

Sementara program tersebut terus berjalan, kini sekolah tersebut juga dapat jatah MBG. Meski demikian hal itu tak membuat program awal dirubah.

"Tetap jalan, karena menu MBG kan segitu, kadang anak kurang. Jadi makan siang tetap ada. Hanya berkurang saja porsinya," tuturnya. 

Selama sepuluh tahun berjalan, menurutnya tak ada kendala terkait limbah makanan. Sebab makanan yang disediakan selalu habis. (tos)

Editor : Ali Mustofa
#ponpes #Mbg #blora