alexametrics
32 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Terdakwa Korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak di Blora Tak Ajukan Tanggapan Surat Dakwaan

BLORA – Tersangka dugaan korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Etana Fany Jatmika dan Eka Maryani menjalani sidang perdana, Senin (30/5). Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan, terdakwa tidak mengajukan eksepsi.

Persidangan kemarin digelar secara daring. Kedua tersangka mengikuti dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Blora, majelis hakim di Pengadilan Tipikor Semarang dan Jaksa Penuntut Umum berada di Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejari Blora Jatmiko menyampaikan, sidang perdana dilaksanakan sekitar pukul 09.00 kemarin. “Agenda sidang pembacaan surat dakwaan,” ujarnya.


Keduanya didakwa melanggar dakwaan primer Pasal 2 ayat 1 Undang-undang tindak pidana Korupsi Subsider Pasal 3 undang-undang tindak pidana korupsi jo 55 ayat 1 KUHP jo 64 ayat KUHP.

“Jadi yang bersangkutan didakwa undang-undang tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut,” jelasnya.

Selanjutnya, sidang kedua akan dilaksanakan 6 Juni mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi. Jatmiko menambahkan, dalam persidangan kemarin, yang bersangkutan tidak mengajukan eksepsi.

Baca Juga :  Edarkan Pil Trihex, Pria Blora Diringkus Polisi

“Senin (30/5) yang bersangkutan maupun penasihat hukum yang ditunjuk Majelis hakim Pengadilan Negeri Tipikor tidak mengajukan eksepsi atau tanggapan terhadap surat dakwaan,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (11/5) telah dilakukan penyerahan tersangka dan barang bukti dari penyidik Polres kepada Kejaksaan Negeri Blora. Eka Maryani dan Etana Fani Jatmika disangkakan tindak pidana dugaan Korupsi PNBP mulai Januari sampai Desember 2021.

Eka, merupakan bendahara penerima PNBP. Seharusnya uang itu disetor ke kas negara. Karena alasan kesibukan rumah tangga, uang tersebut diberikan kepada Fani, agar disetorkan ke kas negara.

Namun, oleh Fani uang tersebut tidak disetorkan. Malah digunakan untuk investasi online. Seharusnya, dalam setahun, uang yang distorkan ke PNBP sekitar Rp 17 miliar, namun yang disetorkan Rp 14 miliar. Sehingga ada selisih Rp 3 miliar. Dari kerugian Rp 3 miliar, saat ini telah dikembalikan Rp 1,4 miliar, sehingga masih ada Rp 1,6 miliar. (vah/ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

BLORA – Tersangka dugaan korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Etana Fany Jatmika dan Eka Maryani menjalani sidang perdana, Senin (30/5). Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan, terdakwa tidak mengajukan eksepsi.

Persidangan kemarin digelar secara daring. Kedua tersangka mengikuti dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Blora, majelis hakim di Pengadilan Tipikor Semarang dan Jaksa Penuntut Umum berada di Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora.

Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejari Blora Jatmiko menyampaikan, sidang perdana dilaksanakan sekitar pukul 09.00 kemarin. “Agenda sidang pembacaan surat dakwaan,” ujarnya.

Keduanya didakwa melanggar dakwaan primer Pasal 2 ayat 1 Undang-undang tindak pidana Korupsi Subsider Pasal 3 undang-undang tindak pidana korupsi jo 55 ayat 1 KUHP jo 64 ayat KUHP.

“Jadi yang bersangkutan didakwa undang-undang tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut,” jelasnya.

Selanjutnya, sidang kedua akan dilaksanakan 6 Juni mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi. Jatmiko menambahkan, dalam persidangan kemarin, yang bersangkutan tidak mengajukan eksepsi.

Baca Juga :  Statement Resmi Citilink Terkait Batalnya Penerbangan ke Ngloram Blora

“Senin (30/5) yang bersangkutan maupun penasihat hukum yang ditunjuk Majelis hakim Pengadilan Negeri Tipikor tidak mengajukan eksepsi atau tanggapan terhadap surat dakwaan,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (11/5) telah dilakukan penyerahan tersangka dan barang bukti dari penyidik Polres kepada Kejaksaan Negeri Blora. Eka Maryani dan Etana Fani Jatmika disangkakan tindak pidana dugaan Korupsi PNBP mulai Januari sampai Desember 2021.

Eka, merupakan bendahara penerima PNBP. Seharusnya uang itu disetor ke kas negara. Karena alasan kesibukan rumah tangga, uang tersebut diberikan kepada Fani, agar disetorkan ke kas negara.

Namun, oleh Fani uang tersebut tidak disetorkan. Malah digunakan untuk investasi online. Seharusnya, dalam setahun, uang yang distorkan ke PNBP sekitar Rp 17 miliar, namun yang disetorkan Rp 14 miliar. Sehingga ada selisih Rp 3 miliar. Dari kerugian Rp 3 miliar, saat ini telah dikembalikan Rp 1,4 miliar, sehingga masih ada Rp 1,6 miliar. (vah/ali)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/