25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Diduga Depresi, Kepala Kemenag Grobogan Pilih Akhiri Hidup dengan Gantung Diri di Rumahnya

BLORA – Keluarga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Grobogan Imron Rosyidi menangkap gelagat aneh almarhum sejak tiga bulan lalu. Namun mereka baru menyadari setelah Imron memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Beberapa kerabat kerja Imron dari berbagai daerah masih berdatangan ke rumah Imron di Desa Mojorembun, Kradenan, Blora kemarin (27/9). Mereka melayat di rumah duka pria yang pernah menjadi Kepala Kankemenag Pati itu.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga itu. Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini berkunjung ke rumah duka, tampak beberapa kali sang istri yang bernama Siti Sholihah itu menitikkan air mata dan sekaligus berusaha menahannya.


Saat dikonfirmasi di kediamannya, enggan untuk memberikan keterangan mengenai peristiwa nahas tersebut. Pihaknya merasa keberatan apabila harus menceritakan kejadian yang dianggap sebagai ujian di hidupnya itu.

“Mohon maaf, langsung tanyakan ke pihak kepolisian saja ya. Cukup sekali saja kami menjelaskan. Saat ini kami fokus untuk membuka lembaran baru bersama keluarga,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus.

Pihaknya kemudian menyatakan keikhlasannya atas ujian yang menimpa keluarganya itu. Dia hanya meminta agar almarhum didoakan. “Terima kasih sudah menyempatkan datang. Nyuwun doane kagem dulur e jenengan niku (mohon doanya untuk saudara anda, Imron Rosyidi, Red),” ungkapnya kepada tamu asal Pati yang sudah dianggap sebagai saudara itu.

Dari keterangan yang didapat, Imron sempat kondangan ke rumah tetangganya sebelum menggantungkan dirinya ke bagian rumah yang berbahan kayu jati itu. Peristiwa itu diketahui saat istri dan anaknya sedang mencarinya untuk mengajak salat berjamaah.

Baca Juga :  Sampaikan Pembelaan, Terdakwa Korupsi PNBP Polres Blora Menangis di Hadapan Majelis Hakim

“Kejadian sekitar pukul 18.10, istri almarhum sempat histeris saat mengetahui suaminya menggantung,” ungkap seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Kapolsek Kradenan AKP Lilik Eko Sukaryono menyebutkan, barang bukti yang dikumpulkan berupa tali tampar berwarna oranye yang tampak masih bagus, dengan simpul di ujungnya. Kemudian meja yang digunakan almarhum untuk manjat menuju tali yang kemungkinan sudah disiapkan itu. Barang bukti itu ditemukan di bangunan semacam gudang yang berada di sebelah timur rumah Imron.

“Dari hasil pemeriksaan medis, terdapat luka jeratan di leher, tapi tidak ada luka lain di tubuhnya,” ungkapnya.

Akibat dari gantung diri itu, lanjutnya, tubuh korban merespon dengan beberapa hal. Seperti menjulurkan lidah, keluarnya mani, serta keluarnya kotoran dari tubuhnya.

Pria yang akrab disapa Lilik itu kemudian mengatakan, menurut keterangan keluarga, mereka sudah melihat gelagat yang aneh dari almarhum beberapa bulan lalu.

“Tiga bulan lalu, keluarga merasa bahwa perilaku bapak aneh. Seperti ada depresi, tapi permasalahan apa ndak tau,” ungkapnya.

Keanehan itu berupa perilaku almarhum yang banyak diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tetapi saksi tidak mengetahui permasalahan apa yang menimpa almarhum. “Sebab almarhum memang tertutup. Kalau ada permasalahan tidak mau cerita,” jelasnya.

Selain itu, ada juga yang pernah mendengar mengenai perandaian Imron apabila nantinya sudah tiada atau meninggal dunia. Seakan-akan seperti sedang bimbang. Tetapi hal itu tidak disadari oleh keluarganya. (cha/him)

BLORA – Keluarga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Grobogan Imron Rosyidi menangkap gelagat aneh almarhum sejak tiga bulan lalu. Namun mereka baru menyadari setelah Imron memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Beberapa kerabat kerja Imron dari berbagai daerah masih berdatangan ke rumah Imron di Desa Mojorembun, Kradenan, Blora kemarin (27/9). Mereka melayat di rumah duka pria yang pernah menjadi Kepala Kankemenag Pati itu.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga itu. Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini berkunjung ke rumah duka, tampak beberapa kali sang istri yang bernama Siti Sholihah itu menitikkan air mata dan sekaligus berusaha menahannya.

Saat dikonfirmasi di kediamannya, enggan untuk memberikan keterangan mengenai peristiwa nahas tersebut. Pihaknya merasa keberatan apabila harus menceritakan kejadian yang dianggap sebagai ujian di hidupnya itu.

“Mohon maaf, langsung tanyakan ke pihak kepolisian saja ya. Cukup sekali saja kami menjelaskan. Saat ini kami fokus untuk membuka lembaran baru bersama keluarga,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus.

Pihaknya kemudian menyatakan keikhlasannya atas ujian yang menimpa keluarganya itu. Dia hanya meminta agar almarhum didoakan. “Terima kasih sudah menyempatkan datang. Nyuwun doane kagem dulur e jenengan niku (mohon doanya untuk saudara anda, Imron Rosyidi, Red),” ungkapnya kepada tamu asal Pati yang sudah dianggap sebagai saudara itu.

Dari keterangan yang didapat, Imron sempat kondangan ke rumah tetangganya sebelum menggantungkan dirinya ke bagian rumah yang berbahan kayu jati itu. Peristiwa itu diketahui saat istri dan anaknya sedang mencarinya untuk mengajak salat berjamaah.

Baca Juga :  Gandeng Kementerian Pertanian, Bupati Blora Kembangkan Kedelai Lokal

“Kejadian sekitar pukul 18.10, istri almarhum sempat histeris saat mengetahui suaminya menggantung,” ungkap seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.

Kapolsek Kradenan AKP Lilik Eko Sukaryono menyebutkan, barang bukti yang dikumpulkan berupa tali tampar berwarna oranye yang tampak masih bagus, dengan simpul di ujungnya. Kemudian meja yang digunakan almarhum untuk manjat menuju tali yang kemungkinan sudah disiapkan itu. Barang bukti itu ditemukan di bangunan semacam gudang yang berada di sebelah timur rumah Imron.

“Dari hasil pemeriksaan medis, terdapat luka jeratan di leher, tapi tidak ada luka lain di tubuhnya,” ungkapnya.

Akibat dari gantung diri itu, lanjutnya, tubuh korban merespon dengan beberapa hal. Seperti menjulurkan lidah, keluarnya mani, serta keluarnya kotoran dari tubuhnya.

Pria yang akrab disapa Lilik itu kemudian mengatakan, menurut keterangan keluarga, mereka sudah melihat gelagat yang aneh dari almarhum beberapa bulan lalu.

“Tiga bulan lalu, keluarga merasa bahwa perilaku bapak aneh. Seperti ada depresi, tapi permasalahan apa ndak tau,” ungkapnya.

Keanehan itu berupa perilaku almarhum yang banyak diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tetapi saksi tidak mengetahui permasalahan apa yang menimpa almarhum. “Sebab almarhum memang tertutup. Kalau ada permasalahan tidak mau cerita,” jelasnya.

Selain itu, ada juga yang pernah mendengar mengenai perandaian Imron apabila nantinya sudah tiada atau meninggal dunia. Seakan-akan seperti sedang bimbang. Tetapi hal itu tidak disadari oleh keluarganya. (cha/him)


Most Read

Artikel Terbaru

/