
Oleh: A. Mahbub Djunaidi, Penulis buku “Membaca Zaman Menulis Makna”
Ada sebuah frasa menarik dalam gagasan Blora–Bojonegoro: “laboratorium hidup negara”. Jika membaca konteksnya secara utuh, maknanya bukan sekadar dua kabupaten penghasil migas yang sedang mencari masa depan setelah minyak.
Ada eksperimen pembangunan yang jauh lebih besar: bisakah investasi industri skala besar berjalan tanpa memicu konflik sosial sekaligus menaikkan baseline ekonomi masyarakat?
Jika jawabannya “ya”, pengalaman Blora–Bojonegoro tidak berhenti sebagai cerita lokal. Ia dapat menjadi model yang dipelajari dan direplikasi di kawasan lain yang sedang didorong menjadi pusat industri, termasuk kawasan Pantura Jawa dan daerah luar Jawa.
Blora dan Bojonegoro memiliki pengalaman panjang dengan ekonomi ekstraktif, terutama migas, sekaligus sedang bergerak menuju diversifikasi ekonomi.
“Laboratorium” itu sesungguhnya sedang menguji satu rumus sederhana tetapi tidak mudah: investasi besar masuk, masyarakat tidak tersisih, konflik dapat dicegah, dan ekonomi lokal naik kelas.
Bukan Sekadar Mengejar Triliunan Investasi. Kesalahan yang sering terjadi dalam membaca keberhasilan investasi adalah menjadikan nilai investasi sebagai ukuran utama.
Padahal investor datang membawa modal, sedangkan pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab memastikan modal tersebut menciptakan multiplier effect.
Karena itu baseline ekonomi masyarakat sebelum investasi harus diketahui.
Sesudah investasi berjalan, apakah pendapatan rumah tangga meningkat? Apakah pengangguran turun? Apakah tenaga kerja lokal terserap? Apakah UMKM bertambah omzetnya? Apakah usaha baru tumbuh? Apakah belanja perusahaan masuk ke rantai pasok lokal?

