alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Pemkab Dorong Aparatur Sipil Negara di Blora Konsumsi Beras Oganik

BLORA – Produksi padi organik di Blora dinilai telah berkembang. Pemerintah kabupaten (pemkab) Blora menginstruksikan agar kalangan aparatur sipil negara (ASN) mengonsumsi padi jenis ini.

Bupati Blora Arief Rohman berkomitmen menyusun kebijakan terkait dengan penjualan padi organik. Biasanya, setelah dipanen, padi ditampung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Seperti di Desa Sonokidul untuk dikemas. Selanjutnya, pihaknya meminta dinas terkait untuk mengupayakan mesin pengering.

Selain itu, para ASN diminta mengonsumsi beras organik. ”Begitu juga seluruh rumah sakit dan puskesmas se-Kabupaten Blora yang memiliki rawat inap,” ujarnya.


Baru-baru ini, Arief juga menghadiri panen perdana padi organik di Desa Sonokidul. Yang merupakan binaan dari LPPNU. Dia meminta agar hasil panen dikirimkan ke pendapa. Untuk selanjutnya bisa dipromosikan.

”Disiapkan juga kanal jualan digitalnya melalui medsos, sehingga ketika sudah mencoba nanti bisa pesan langsung ke Sonokidul sini,” jelasnya.

Baca Juga :  Gegara Info Hoax, 20 Pemuda di Blora Terlibat Pengeroyokan

Menurutnya, pertanian organik memiliki masa depan baik di tengah sulitnya pupuk kimia bersubdisi. Di Blora sudah ada beberapa desa yang sudah mengembangkan padi organik.  Diantaranya Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban; Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan; dan Desa Sonokidul.

Handoko, salah satu petani yang padinya dipanen bupati mengaku senang dan optimistis untuk terus melanjutkan penanaman padi organik. Ia menggunakan pupuk kandang. Selain itu, juga ada beberapa bahan seperti air kelapa, daun leri, dan air cucian beras.

”Rencana saya tetep pakai organik. Pupuknya buat sendiri. Obat-obat penunjangnya kami buat sendiri secara organik,” jelasnya.

Untuk harga jual memang lebih mahal jika dibandingkan dengan gabah biasa. Harga gabah biasa laku Rp 4.500 per kilogram. Untuk yang organik Rp 5.500 per kilogram. (vah/lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

BLORA – Produksi padi organik di Blora dinilai telah berkembang. Pemerintah kabupaten (pemkab) Blora menginstruksikan agar kalangan aparatur sipil negara (ASN) mengonsumsi padi jenis ini.

Bupati Blora Arief Rohman berkomitmen menyusun kebijakan terkait dengan penjualan padi organik. Biasanya, setelah dipanen, padi ditampung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Seperti di Desa Sonokidul untuk dikemas. Selanjutnya, pihaknya meminta dinas terkait untuk mengupayakan mesin pengering.

Selain itu, para ASN diminta mengonsumsi beras organik. ”Begitu juga seluruh rumah sakit dan puskesmas se-Kabupaten Blora yang memiliki rawat inap,” ujarnya.

Baru-baru ini, Arief juga menghadiri panen perdana padi organik di Desa Sonokidul. Yang merupakan binaan dari LPPNU. Dia meminta agar hasil panen dikirimkan ke pendapa. Untuk selanjutnya bisa dipromosikan.

”Disiapkan juga kanal jualan digitalnya melalui medsos, sehingga ketika sudah mencoba nanti bisa pesan langsung ke Sonokidul sini,” jelasnya.

Baca Juga :  Sidang Kasus Jual-Beli Kios Pasar di Blora Dengarkan Keterangan Saksi

Menurutnya, pertanian organik memiliki masa depan baik di tengah sulitnya pupuk kimia bersubdisi. Di Blora sudah ada beberapa desa yang sudah mengembangkan padi organik.  Diantaranya Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban; Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan; dan Desa Sonokidul.

Handoko, salah satu petani yang padinya dipanen bupati mengaku senang dan optimistis untuk terus melanjutkan penanaman padi organik. Ia menggunakan pupuk kandang. Selain itu, juga ada beberapa bahan seperti air kelapa, daun leri, dan air cucian beras.

”Rencana saya tetep pakai organik. Pupuknya buat sendiri. Obat-obat penunjangnya kami buat sendiri secara organik,” jelasnya.

Untuk harga jual memang lebih mahal jika dibandingkan dengan gabah biasa. Harga gabah biasa laku Rp 4.500 per kilogram. Untuk yang organik Rp 5.500 per kilogram. (vah/lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/