alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Datangi Kejari, Warso Dicecer Aliran Dana Pungli Pasar Cepu

BLORA – Sehari setelah penggeledahan, tersangka kasus pungutan liar (Pungli) di Pasar Induk Cepu, Blora, Kabid Pasar Dinas Dindagkop-UKM Blora Warso mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora kemarin. Dia dimintai keterangan aliran dana diduga pungli.

Warso didampingi didampingi kuasa hukumnya, Kadi Sukarna. Warso enggan menemui wartawan. Dia langsung pergi usai diperiksa.

Tersangka lainnya M. Sofaat, mantan kepala Pasar Cepu telah diperiksa Senin (20/9).


Keduanya dimintai keterangan tim penyidik Kejari Blora.

Dalam kesempatan itu, Warso menjelaskan aliran dana dugaan pungli Pasar Induk Cepu.

”Agendanya pencocokan terkait dengan uang yang didapat dari kompensasi pedagang pasar. Soal kios itu. Kemudian uang itu mengalir kepada siapa saja,” terang Kadi Sukarna usai keluar dari kantor Kejaksaan Negeri Blora kemarin.

Dia menambahkan kliennya berkewajiban untuk menyampaikan aliran dana tersebut. Pada prinsipnya yang mengetahui aliran dana adalah Warso.

”Maka pada kesempatan penambahan ini, prinsipnya adalah kroscekan dari apa yang disampaikan bendahara dan pak Warso. Apakah uang itu sempat berhenti atau tidak berhenti atau bergerak ke mana uang itu. Intinya seperti itu,” tegasnya.

Kadi Sukarna menegaskan permasalahan ini sangat rentan. Sebab berkaitan dengan permasalahan keuangan. ”Ini persoalan rentan. Maka harus dicocokkan dulu. Sehingga aliran dana yang didapat maupun dana yang keluar itu sama,” bebernya.

Laki-laki yang juga doktor ini mengaku kemarin yang dipanggil Warso. Sebab Sofaat sudah dipanggil sebelumnya. “Pak Sofaat sudah kemarin,” bebernya.

Terkait penggeledahan Kejaksaan di Kantor Dindagkop dan UMKM, dia tidak mau berkomentar banyak. Sebab itu kewenangan Jaksa. ”Saya hanya sebatas berbicara dengan klien saya. Pada prinsipnya, klien saya tidak mengetahui terkait hal itu (Penggledahan, Red),” tegasnya.

Baca Juga :  Tersangka Kasus Pungli Kios Pasar Induk Cepu Ajukan Praperadilan

Sebelumnya, Kejari Blora menggeledah  Dindagkop dan UKM hampir tiga jam. Penggeledahan pungli kios di Pasar Induk Cepu. Hasilnya, penyidik membawa dua boks dokumen.

Kejaksaan Negeri Blora telah menetapkan tiga tersangka kasus dugaan pungutan liar (Pungli) jual beli kios di Pasar Induk Cepu. Ketiganya Sarmidi, Warso dan M. Sofaat, mantan kepala Pasar Cepu. Penetapannya sejak Jumat, 23 Juli 2021 lalu. Demikian ketiganya belum ditahan.

Sekitar 17 Desember 2019 hingga 30 maret 2020, puluhan pedagang itu diduga ditarik Rp 30 juta hingga Rp 75 juta. Sistemnya, ada uang ada kunci. Cash atau kontan. Tidak boleh dicicil.

Sementara dua kios digratiskan. Delapan sisanya ditempati pedagang lama. Harga kios tersebut juga dipotong biaya kepemilikan los setiap pedagang. Masing-masing los dihargai 10 persen dari harga kios atau sekitar Rp 75 juta. Sehingga apabila pedagang memiliki satu los, berarti biaya dikurangi Rp 7,5 juta.

Pada 28 April lalu, Kejaksaan Negeri Blora juga menyita Rp 865 juta. Uang itu diiduga hasil pungli di Pasar Induk Cepu. Kejaksaan juga sudah memanggil 33 saksi untuk dimintai keterangan. Mulai pedagang pasar, pejabat UPTD Pasar Wilayah 2 Cepu, Pejabat Dindaqkop dan UMKM, BPPKAD, para Ahli dan lainnya yang berkepentingan.

Dua tersangka yaitu Warso dan M. Sofaat sempat mengajukan upaya praperadilan atas statusnya sebagai tersangka kasus dugaan pungli jual beli kios di Pasar Induk Cepu. Tapi usaha keduanya kandas. Majelis hakim menolak gugatan pemohon. Sehingga perkara, tetap lanjut. Di mana, dalam putusan hakim, perbuatan melawan hukum dan alat bukti yang dimiliki penyidik sah dalam menetapkan kedua orang sebagai  tersangka. (zen)






Reporter: Subekan

BLORA – Sehari setelah penggeledahan, tersangka kasus pungutan liar (Pungli) di Pasar Induk Cepu, Blora, Kabid Pasar Dinas Dindagkop-UKM Blora Warso mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Blora kemarin. Dia dimintai keterangan aliran dana diduga pungli.

Warso didampingi didampingi kuasa hukumnya, Kadi Sukarna. Warso enggan menemui wartawan. Dia langsung pergi usai diperiksa.

Tersangka lainnya M. Sofaat, mantan kepala Pasar Cepu telah diperiksa Senin (20/9).

Keduanya dimintai keterangan tim penyidik Kejari Blora.

Dalam kesempatan itu, Warso menjelaskan aliran dana dugaan pungli Pasar Induk Cepu.

”Agendanya pencocokan terkait dengan uang yang didapat dari kompensasi pedagang pasar. Soal kios itu. Kemudian uang itu mengalir kepada siapa saja,” terang Kadi Sukarna usai keluar dari kantor Kejaksaan Negeri Blora kemarin.

Dia menambahkan kliennya berkewajiban untuk menyampaikan aliran dana tersebut. Pada prinsipnya yang mengetahui aliran dana adalah Warso.

”Maka pada kesempatan penambahan ini, prinsipnya adalah kroscekan dari apa yang disampaikan bendahara dan pak Warso. Apakah uang itu sempat berhenti atau tidak berhenti atau bergerak ke mana uang itu. Intinya seperti itu,” tegasnya.

Kadi Sukarna menegaskan permasalahan ini sangat rentan. Sebab berkaitan dengan permasalahan keuangan. ”Ini persoalan rentan. Maka harus dicocokkan dulu. Sehingga aliran dana yang didapat maupun dana yang keluar itu sama,” bebernya.

Laki-laki yang juga doktor ini mengaku kemarin yang dipanggil Warso. Sebab Sofaat sudah dipanggil sebelumnya. “Pak Sofaat sudah kemarin,” bebernya.

Terkait penggeledahan Kejaksaan di Kantor Dindagkop dan UMKM, dia tidak mau berkomentar banyak. Sebab itu kewenangan Jaksa. ”Saya hanya sebatas berbicara dengan klien saya. Pada prinsipnya, klien saya tidak mengetahui terkait hal itu (Penggledahan, Red),” tegasnya.

Baca Juga :  Anggaran Perbaikan Jalan Provinsi di Kabupaten Blora Capai Rp 18,4 Miliar

Sebelumnya, Kejari Blora menggeledah  Dindagkop dan UKM hampir tiga jam. Penggeledahan pungli kios di Pasar Induk Cepu. Hasilnya, penyidik membawa dua boks dokumen.

Kejaksaan Negeri Blora telah menetapkan tiga tersangka kasus dugaan pungutan liar (Pungli) jual beli kios di Pasar Induk Cepu. Ketiganya Sarmidi, Warso dan M. Sofaat, mantan kepala Pasar Cepu. Penetapannya sejak Jumat, 23 Juli 2021 lalu. Demikian ketiganya belum ditahan.

Sekitar 17 Desember 2019 hingga 30 maret 2020, puluhan pedagang itu diduga ditarik Rp 30 juta hingga Rp 75 juta. Sistemnya, ada uang ada kunci. Cash atau kontan. Tidak boleh dicicil.

Sementara dua kios digratiskan. Delapan sisanya ditempati pedagang lama. Harga kios tersebut juga dipotong biaya kepemilikan los setiap pedagang. Masing-masing los dihargai 10 persen dari harga kios atau sekitar Rp 75 juta. Sehingga apabila pedagang memiliki satu los, berarti biaya dikurangi Rp 7,5 juta.

Pada 28 April lalu, Kejaksaan Negeri Blora juga menyita Rp 865 juta. Uang itu diiduga hasil pungli di Pasar Induk Cepu. Kejaksaan juga sudah memanggil 33 saksi untuk dimintai keterangan. Mulai pedagang pasar, pejabat UPTD Pasar Wilayah 2 Cepu, Pejabat Dindaqkop dan UMKM, BPPKAD, para Ahli dan lainnya yang berkepentingan.

Dua tersangka yaitu Warso dan M. Sofaat sempat mengajukan upaya praperadilan atas statusnya sebagai tersangka kasus dugaan pungli jual beli kios di Pasar Induk Cepu. Tapi usaha keduanya kandas. Majelis hakim menolak gugatan pemohon. Sehingga perkara, tetap lanjut. Di mana, dalam putusan hakim, perbuatan melawan hukum dan alat bukti yang dimiliki penyidik sah dalam menetapkan kedua orang sebagai  tersangka. (zen)






Reporter: Subekan

Most Read

Artikel Terbaru

/