alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Cerita Relawan saat Evakuasi Tubuh Pilot Pesawat Jatuh di Hutan Blora, Begini Mereka Bekerja

BLORA – Kondisi medan perbukitan yang cukup terjal menjadi tantangan sendiri bagi relawan tim search and rescue (tim SAR) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat baru-baru ini. Sebab, lokasi jatuhnya pesawat tipe T-50i Golden Eagle itu, terletak di lahan hutan perbukitan turut Desa Nginggil, Kradenan, Blora.

Agung Tri, salah seorang anggota Tim SAR BPBD Blora yang ikut menjadi relawan evakuasi korban mengaku cukup kesulitan untuk mencapai lokasi jatuhnya pesawat yang take off dari Lanud Iswahjudi Madiun itu. ”Kami berangkat sesaat setelah mendapatkan kabar jatuhnya pesawat di Desa Nginggil. Namun, saat menuju TKP (tempat kejadian perkara) lokasi sudah dipenuhi warga, sehingga kami membuka jalur sendiri,” ucapnya kepada wartawan koran ini.

Dengan akses menuju lokasi yang cukup sulit karena terjal, dia mengaku mobil yang dikendarainya bersama tim bahkan hampir terguling. ”Mobil hampir terguling tiga kali. Kendaraan kami pun tidak bisa sampai lokasi. Jadi, kami harus jalan sekitar 2 kilometer,” ungkap Agung.


Medan yang berupa perbukitan dengan lokasi di hutan memaksanya untuk membuka jalur baru di hutan. Hal itu dilakukan untuk mengevakuasi potongan-potongan tubuh korban yang menyebar hingga radius ratusan meter dari lokasi pusat yang telah ditentukan.

Baca Juga :  Takbir Membahana Saat Kejari Blora Menahan Tersangka Jual Beli Kios

”Suasananya sangat gelap (evakuasi petama -sesaat setelah pesawat jatuh). Tapi kami tetap harus mencari potongan tubuh korban. Ada yang menempel di pohon, di atas pohon, dan lain-lain. Potongan tubuh itu berceceran,” ungkapnya.

Pada malam hari pertama proses evakuasi itu, dia dan tim bertugas untuk mencari dan mengevakuasi potongan tubuh korban saja. ”Kalau kepingan pesawat itu tugasnya TNI AU. Kami tidak berani, karena kami tidak paham dengan hal itu,” ungkap Agung.

Dalam proses evakuasi tubuh korban pada malam hari itu, dia mengaku merasakan ada hal yang beda dari suasana malam itu. ”Kondisi malam itu sangat sunyi. Tidak terdengar suara jangkrik atau hewan lain. Tidak ada angin. Tidak ditemukan bercak darah. Hanya potongan tubuh,” ungkapnya dengan nada heran.

Meskipun hanya sebagai relawan, dia mengaku tetap mengusahakan semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai tim SAR. Yakni untuk mengevakuasi tubuh jenazah atau korban.

”Kerja sama yang solid dari berbagai pihak memberikan kesan tersendiri bagi saya. Sangat solid untuk menemukan tubuh korban ataupun puing-puing pesawat. Suasana gotong royong sangat terasa kemarin (saat proses evakuasi, Red),” imbuh Agung. (cha/lin)

BLORA – Kondisi medan perbukitan yang cukup terjal menjadi tantangan sendiri bagi relawan tim search and rescue (tim SAR) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat baru-baru ini. Sebab, lokasi jatuhnya pesawat tipe T-50i Golden Eagle itu, terletak di lahan hutan perbukitan turut Desa Nginggil, Kradenan, Blora.

Agung Tri, salah seorang anggota Tim SAR BPBD Blora yang ikut menjadi relawan evakuasi korban mengaku cukup kesulitan untuk mencapai lokasi jatuhnya pesawat yang take off dari Lanud Iswahjudi Madiun itu. ”Kami berangkat sesaat setelah mendapatkan kabar jatuhnya pesawat di Desa Nginggil. Namun, saat menuju TKP (tempat kejadian perkara) lokasi sudah dipenuhi warga, sehingga kami membuka jalur sendiri,” ucapnya kepada wartawan koran ini.

Dengan akses menuju lokasi yang cukup sulit karena terjal, dia mengaku mobil yang dikendarainya bersama tim bahkan hampir terguling. ”Mobil hampir terguling tiga kali. Kendaraan kami pun tidak bisa sampai lokasi. Jadi, kami harus jalan sekitar 2 kilometer,” ungkap Agung.

Medan yang berupa perbukitan dengan lokasi di hutan memaksanya untuk membuka jalur baru di hutan. Hal itu dilakukan untuk mengevakuasi potongan-potongan tubuh korban yang menyebar hingga radius ratusan meter dari lokasi pusat yang telah ditentukan.

Baca Juga :  Kabar Baik! Pemkab Blora Usulkan Dua Ribu Formasi PPPK

”Suasananya sangat gelap (evakuasi petama -sesaat setelah pesawat jatuh). Tapi kami tetap harus mencari potongan tubuh korban. Ada yang menempel di pohon, di atas pohon, dan lain-lain. Potongan tubuh itu berceceran,” ungkapnya.

Pada malam hari pertama proses evakuasi itu, dia dan tim bertugas untuk mencari dan mengevakuasi potongan tubuh korban saja. ”Kalau kepingan pesawat itu tugasnya TNI AU. Kami tidak berani, karena kami tidak paham dengan hal itu,” ungkap Agung.

Dalam proses evakuasi tubuh korban pada malam hari itu, dia mengaku merasakan ada hal yang beda dari suasana malam itu. ”Kondisi malam itu sangat sunyi. Tidak terdengar suara jangkrik atau hewan lain. Tidak ada angin. Tidak ditemukan bercak darah. Hanya potongan tubuh,” ungkapnya dengan nada heran.

Meskipun hanya sebagai relawan, dia mengaku tetap mengusahakan semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas dan fungsinya sebagai tim SAR. Yakni untuk mengevakuasi tubuh jenazah atau korban.

”Kerja sama yang solid dari berbagai pihak memberikan kesan tersendiri bagi saya. Sangat solid untuk menemukan tubuh korban ataupun puing-puing pesawat. Suasana gotong royong sangat terasa kemarin (saat proses evakuasi, Red),” imbuh Agung. (cha/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/