alexametrics
24.1 C
Kudus
Thursday, June 16, 2022

Angkutan Umum ke Pasar Rakyat Sido Makmur Blora Minim, Ini Dugaan Penyebabnya

BLORA – Pasar Induk Blora telah dipindahkan ke Pasar Rakyat Sido Makmur sejak awal Januari 2019. Berpindah sejauh 2,5 kilometer ke arah selatan dari lokasi sebelumnya di seberang depan Polsek Blora kota.

Perpindahan tersebut dianggap memengaruhi angkutan umum menuju pasar yang menjadi pusat pasar tradisional di Kabupaten Blora itu. Muhammad Kasrodi, salah seorang pedagang klitikan keliling asal Ngawen, mengaku angkutan umum dari dan menuju Pasar Sido Makmur saat ini berkurang jika dibandingkan dengan angkutan umum ke Pasar Induk Blora sebelum dipindahkan.

Menurutnya, pengurangan ini menjadi salah satu dampak pindahnya pasar. Sebab, Pasar Sido Makmur memang berada di luar rute utama dari Ngawen ke Blora.


”Saat ini bus (angkutan umum, Red) sudah jarang yang beroperasi sampai Pasar Sido Makmur. Mungkin karena jalurnya harus ke selatan dulu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Sebelum dipindahkan, menurutnya bus masih banyak beroperasi sampai pasar induk karena terletak di tengah kota. Hanya berjarak seratus meteran dari pusat kota Alun-alun Blora.

Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora melalui Kasubkor Angkutan Ngadiyanto membenarkan hal tersebut.

Baca Juga :  Resmi! Putra Daerah Blora Pratama Arhan Gabung Klub J2 Jepang Tokyo Verdy

”Memang berkurang, tapi tetep masih ada yang ke sana (Pasar Sido Makmur, Red). Utamanya bus (kendaraan umum, Red) ke sana hanya untuk antar jemput pedagang langganan,” jelas Ngadiyanto.

Pihaknya mengaku berkurangnya angkutan umum ke Pasar Rakyat Sido Makmur selaras dengan berkurangnya minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum.

”Selain pedagang pelanggan bus, kebanyakan yang ke pasar itu memakai kendaraan pribadi. Jadi dari pihak bus pun tidak bisa kami paksakan untuk ke pasar Sido Makmur. Butuh tambahan waktu dan bahan bakar. Padahal mereka juga butuh kejar setoran,” ungkapnya.

Ngadiyanto menambahkan saat waktu pedagang berangkat ke pasar ataupun pulang dari pasar, angkutan umum dianggapnya masih ramai. Namun di luar itu, menurutnya memang sudah sepi. Bahkan tak jarang hingga tidak ada angkutan ketika sudah siang atau sore hari.

”Jadi ramainya memang pas jam-jam berangkat atau pulang (dari pasar, Red). Selain itu hampir pasti sepi angkutan,” imbuhnya. (cha/zen)

BLORA – Pasar Induk Blora telah dipindahkan ke Pasar Rakyat Sido Makmur sejak awal Januari 2019. Berpindah sejauh 2,5 kilometer ke arah selatan dari lokasi sebelumnya di seberang depan Polsek Blora kota.

Perpindahan tersebut dianggap memengaruhi angkutan umum menuju pasar yang menjadi pusat pasar tradisional di Kabupaten Blora itu. Muhammad Kasrodi, salah seorang pedagang klitikan keliling asal Ngawen, mengaku angkutan umum dari dan menuju Pasar Sido Makmur saat ini berkurang jika dibandingkan dengan angkutan umum ke Pasar Induk Blora sebelum dipindahkan.

Menurutnya, pengurangan ini menjadi salah satu dampak pindahnya pasar. Sebab, Pasar Sido Makmur memang berada di luar rute utama dari Ngawen ke Blora.

”Saat ini bus (angkutan umum, Red) sudah jarang yang beroperasi sampai Pasar Sido Makmur. Mungkin karena jalurnya harus ke selatan dulu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Sebelum dipindahkan, menurutnya bus masih banyak beroperasi sampai pasar induk karena terletak di tengah kota. Hanya berjarak seratus meteran dari pusat kota Alun-alun Blora.

Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Kabupaten Blora melalui Kasubkor Angkutan Ngadiyanto membenarkan hal tersebut.

Baca Juga :  Kemewahan Tinggal Kenangan, Kini Hidup Sederhana

”Memang berkurang, tapi tetep masih ada yang ke sana (Pasar Sido Makmur, Red). Utamanya bus (kendaraan umum, Red) ke sana hanya untuk antar jemput pedagang langganan,” jelas Ngadiyanto.

Pihaknya mengaku berkurangnya angkutan umum ke Pasar Rakyat Sido Makmur selaras dengan berkurangnya minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum.

”Selain pedagang pelanggan bus, kebanyakan yang ke pasar itu memakai kendaraan pribadi. Jadi dari pihak bus pun tidak bisa kami paksakan untuk ke pasar Sido Makmur. Butuh tambahan waktu dan bahan bakar. Padahal mereka juga butuh kejar setoran,” ungkapnya.

Ngadiyanto menambahkan saat waktu pedagang berangkat ke pasar ataupun pulang dari pasar, angkutan umum dianggapnya masih ramai. Namun di luar itu, menurutnya memang sudah sepi. Bahkan tak jarang hingga tidak ada angkutan ketika sudah siang atau sore hari.

”Jadi ramainya memang pas jam-jam berangkat atau pulang (dari pasar, Red). Selain itu hampir pasti sepi angkutan,” imbuhnya. (cha/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/