alexametrics
26.5 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Nama Bandara Ngloram Diusulkan Diubah Jadi Abdurrahman Wahid

BLORA – Bandara Ngloram sudah ada sejak 41 tahun silam. Selesai dibangun sekitar 1980. Awalnya, untuk mendukung pengembangan proyek-proyek pertambangan minyak dan gas (migas) di Blora dan sekitarnya. Saat ini, muncul usulan nama Bandara Ngloram diganti dengan nama Bandara Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia ke-5 yang akrab disapa Gus Dur itu.

Kepala Bandara Dewadaru yang menaungi Bandara Ngloram Ariadi Wiriawan menyampaikan, dirinya menyambut baik penggantian nama Bandara Ngloram menjadi Bandara Abdurrahman Wahid. Hal ini sebagai penghormatan terhadap Presiden RI dan tokoh guru bangsa itu. Walaupun Beliau asli Jombang.

”Ini untuk menghargai Beliau. Kami ada rasa bangga. Melihat nama beliau dipakai sebagai nama dandara. Seperti halnya Jendral Sudirman. Untuk mengingat jasa Bapak Jendral Sudirman. Saya sepakat,” kelakarnya.


Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 39 Tahun 2019 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional, disebutkan suatu bandara dapat diubah namanya dengan sasaran yang sudah tercantum dalam PM tersebut. ”Sesuai dengan hasil rapat antara manajemen Bandara Ngloram dengan bupati Blora, tercetus ide untuk mengubah nama Bandara Ngloram dengan nama Bandara Abdurrahman Wahid. Salah satu caranya harus ada persetujuan dari gubernur, DPRD provinsi, bupati, DPRD kabupaten, ahli waris nama yang akan digunakan, dan masyarakat sekitar bandara,” ucapnya.

Apakah layak, Ariadi Wiriawan menyebut, sangat layak. Mengingat Gus Dur merupakan guru bangsa, mantan presiden RI, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Jadi, sangat disegani oleh para pengikut-pengikutnya.

Baca Juga :  Penyegaran, 76 Administrator dan Pengawas Pemkab Blora Dirotasi

”Selain itu, sudah ada beberapa contoh untuk pengubahan suatu nama daerah menjadi nama tokoh. Paling dekat Bandara Wirasaba jadi Bandara Jendral Sudirman. Ngloram merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Cepu. Sementara Gus Dur adalah tokoh dari Jombang. Tidak terlalu jauh dari Ngloram lah,” cetusnya.

Diketahui, selama 14 bulan terakhir ini, sudah ada lima pesawat yang mendarat di bandara yang sedang gencar dibangun ini. Meliputi pesawat King Air B-200GT, Hawker 900 XP, dan NAM Air jenis JATR 72-600. Penerbangan pertama dilakukan oleh Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dan Direktur Bandar Udara Praminto Hadi menggunakan pesawat King Air B-200GT pada Sabtu, 11 Januari 2020 lalu.

Pendaratan kedua, pada 25 Desember 2020 pukul 09.30 dengan King Air 200GT oleh Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto dan Sekretaris Ditjen Perhubungan. Berselang lima hari, tepatnya pada 30 Desember 2020, pesawat NAM Air jenis ATR 72-600 menjadi pendaratan ketiga. Tujuannya untuk approving flight.

Berikutnya, pendaratan dilakukan pada 3 Januari 2021 lalu. Dua pesawat Hawker 900 XP mendarat dengan membawa rombongan Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi, Menteri PUPR Basuki, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Selain itu, saat ini dua maskapai penerbangan juga sudah menawarkan jasanya. Yakni Citilink dan Wings Air. Pemkab juga sudah mengambil langkah skema pembiayaan. Salah satunya dengan model subsidi.






Reporter: Subekan

BLORA – Bandara Ngloram sudah ada sejak 41 tahun silam. Selesai dibangun sekitar 1980. Awalnya, untuk mendukung pengembangan proyek-proyek pertambangan minyak dan gas (migas) di Blora dan sekitarnya. Saat ini, muncul usulan nama Bandara Ngloram diganti dengan nama Bandara Abdurrahman Wahid, mantan presiden Republik Indonesia ke-5 yang akrab disapa Gus Dur itu.

Kepala Bandara Dewadaru yang menaungi Bandara Ngloram Ariadi Wiriawan menyampaikan, dirinya menyambut baik penggantian nama Bandara Ngloram menjadi Bandara Abdurrahman Wahid. Hal ini sebagai penghormatan terhadap Presiden RI dan tokoh guru bangsa itu. Walaupun Beliau asli Jombang.

”Ini untuk menghargai Beliau. Kami ada rasa bangga. Melihat nama beliau dipakai sebagai nama dandara. Seperti halnya Jendral Sudirman. Untuk mengingat jasa Bapak Jendral Sudirman. Saya sepakat,” kelakarnya.

Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 39 Tahun 2019 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional, disebutkan suatu bandara dapat diubah namanya dengan sasaran yang sudah tercantum dalam PM tersebut. ”Sesuai dengan hasil rapat antara manajemen Bandara Ngloram dengan bupati Blora, tercetus ide untuk mengubah nama Bandara Ngloram dengan nama Bandara Abdurrahman Wahid. Salah satu caranya harus ada persetujuan dari gubernur, DPRD provinsi, bupati, DPRD kabupaten, ahli waris nama yang akan digunakan, dan masyarakat sekitar bandara,” ucapnya.

Apakah layak, Ariadi Wiriawan menyebut, sangat layak. Mengingat Gus Dur merupakan guru bangsa, mantan presiden RI, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Jadi, sangat disegani oleh para pengikut-pengikutnya.

Baca Juga :  ”Untuk Hidup Sehari-hari Apa Harus Makan Ijazah?”

”Selain itu, sudah ada beberapa contoh untuk pengubahan suatu nama daerah menjadi nama tokoh. Paling dekat Bandara Wirasaba jadi Bandara Jendral Sudirman. Ngloram merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Cepu. Sementara Gus Dur adalah tokoh dari Jombang. Tidak terlalu jauh dari Ngloram lah,” cetusnya.

Diketahui, selama 14 bulan terakhir ini, sudah ada lima pesawat yang mendarat di bandara yang sedang gencar dibangun ini. Meliputi pesawat King Air B-200GT, Hawker 900 XP, dan NAM Air jenis JATR 72-600. Penerbangan pertama dilakukan oleh Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dan Direktur Bandar Udara Praminto Hadi menggunakan pesawat King Air B-200GT pada Sabtu, 11 Januari 2020 lalu.

Pendaratan kedua, pada 25 Desember 2020 pukul 09.30 dengan King Air 200GT oleh Dirjen Perhubungan Udara Novie Riyanto dan Sekretaris Ditjen Perhubungan. Berselang lima hari, tepatnya pada 30 Desember 2020, pesawat NAM Air jenis ATR 72-600 menjadi pendaratan ketiga. Tujuannya untuk approving flight.

Berikutnya, pendaratan dilakukan pada 3 Januari 2021 lalu. Dua pesawat Hawker 900 XP mendarat dengan membawa rombongan Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi, Menteri PUPR Basuki, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Selain itu, saat ini dua maskapai penerbangan juga sudah menawarkan jasanya. Yakni Citilink dan Wings Air. Pemkab juga sudah mengambil langkah skema pembiayaan. Salah satunya dengan model subsidi.






Reporter: Subekan

Most Read

Artikel Terbaru

/