26.4 C
Kudus
Tuesday, February 7, 2023

Gagasan Kawasan Cepu Raya Masuk Bahasan Akademik

CEPU – Gagasan pembangunan kawasan Cepu Raya masuk dalam bahasan dunia akademik Institut Agama Islam Al-Muhammad Cepu. Ide yang digagas Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno itu diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan kajian akademik.

Bupati Blora Arief Rohman yang hadir dalam diskusi akademik itu memaparkan mengenai Cepu raya sebagai kawasan ekonomi khusus. Gagasan Mensesneg tersebut menurutnya sangat menarik untuk diterjemahkan dan ditindaklanjuti segera.

“Kawasan Cepu Raya adalah sebuah kawasan ekonomi khusus yang terdiri dari Kabupaten Blora, Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Ngawi, dengan segala potensi  perekonomian yang dimiliki. Rencana dipusatkan di Kecamatan Cepu,” ungkapnya.


Potensi Cepu sebagai magnet bagi beberapa daerah di sekitarnya itu menurutnya bukan tanpa alasan. Sebab, di Cepu sudah ada beberapa titik strategis yang memungkinkan dijadikan sebagai magnet bagi kawasan-kawasan di sekitarnya. Seperti terminal bus Tipe A yang akan dibangun Kementerian perhubungan pada tahun ini, stasiun kereta api milik PT KAI, juga Bandara Ngloram yang akan diaktifkan kembali pada Jumat (27/1).

Baca Juga :  Bawaslu Blora Umumkan Hasil Seleksi Administrasi Calon Anggota Panwaslu, Ini Daftarnya

“Inisiatif pembahasan gagasan Cepu raya oleh temen-temen IAI (Institut agama islam, Red) Al-Muhammad ini sangat baik. Selain kami menyiapkan tim untuk kajian akademiknya. Teman-teman juga bisa bikin kajian yang membahas gagasan ini dari berbagai sisi. Nanti bisa disampaikan secara tertulis kepada kami” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Blora Dalhar Muhammadun mengusulkan agar melibatkan masyarakat dalam proses tersebut. Baik dari unsur sejarawan, budayawan, atau dari perwakilan masyarakat lainnya.

“Hal ini penting untuk menyamakan persepsi antara pelaksana (Pemerintah, Red) dan masyarakat umum. Itu juga bisa meminimalisasi resistensi masyarakat apabila tidak dikomunikasikan dengan baik,” terangnya.

Gus Husain, peserta diskusi yang sekaligus pengasuh pondok Pesantren Al Muhammad Cepu menambahkan gagasan tersebut harus segera dilaksanakan. Mengingat momentum yang ada pada saat ini, menurutnya belum tentu bisa hadir di masa mendatang. “Paling penting, pembangunan kawasan Cepu raya ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” tegasnya. (cha/zen)






Reporter: Ahmad Zaimul Chanief

CEPU – Gagasan pembangunan kawasan Cepu Raya masuk dalam bahasan dunia akademik Institut Agama Islam Al-Muhammad Cepu. Ide yang digagas Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno itu diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dengan kajian akademik.

Bupati Blora Arief Rohman yang hadir dalam diskusi akademik itu memaparkan mengenai Cepu raya sebagai kawasan ekonomi khusus. Gagasan Mensesneg tersebut menurutnya sangat menarik untuk diterjemahkan dan ditindaklanjuti segera.

“Kawasan Cepu Raya adalah sebuah kawasan ekonomi khusus yang terdiri dari Kabupaten Blora, Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Ngawi, dengan segala potensi  perekonomian yang dimiliki. Rencana dipusatkan di Kecamatan Cepu,” ungkapnya.

Potensi Cepu sebagai magnet bagi beberapa daerah di sekitarnya itu menurutnya bukan tanpa alasan. Sebab, di Cepu sudah ada beberapa titik strategis yang memungkinkan dijadikan sebagai magnet bagi kawasan-kawasan di sekitarnya. Seperti terminal bus Tipe A yang akan dibangun Kementerian perhubungan pada tahun ini, stasiun kereta api milik PT KAI, juga Bandara Ngloram yang akan diaktifkan kembali pada Jumat (27/1).

Baca Juga :  Selidiki Curanmor, Anggota Polisi di Blora Malah Dipukuli sampai Bersimbah Darah

“Inisiatif pembahasan gagasan Cepu raya oleh temen-temen IAI (Institut agama islam, Red) Al-Muhammad ini sangat baik. Selain kami menyiapkan tim untuk kajian akademiknya. Teman-teman juga bisa bikin kajian yang membahas gagasan ini dari berbagai sisi. Nanti bisa disampaikan secara tertulis kepada kami” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Blora Dalhar Muhammadun mengusulkan agar melibatkan masyarakat dalam proses tersebut. Baik dari unsur sejarawan, budayawan, atau dari perwakilan masyarakat lainnya.

“Hal ini penting untuk menyamakan persepsi antara pelaksana (Pemerintah, Red) dan masyarakat umum. Itu juga bisa meminimalisasi resistensi masyarakat apabila tidak dikomunikasikan dengan baik,” terangnya.

Gus Husain, peserta diskusi yang sekaligus pengasuh pondok Pesantren Al Muhammad Cepu menambahkan gagasan tersebut harus segera dilaksanakan. Mengingat momentum yang ada pada saat ini, menurutnya belum tentu bisa hadir di masa mendatang. “Paling penting, pembangunan kawasan Cepu raya ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” tegasnya. (cha/zen)






Reporter: Ahmad Zaimul Chanief
Previous arti