alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Lokasi Jatuhnya Jet Tempur TNI AU di Blora Dekat Pertapaan yang Dipercaya Sakral

BLORA – Lokasi jatuhnya pesawat tempur tipe T-50i Golden Eagle TT-5009 tak jauh dari pertapaan Mbah Suro Inggil atau Mbah Nginggil. Jaraknya ke utara sekitar 150 meter.

Dari informasi yang didapat Jawa Pos Radar Kudus, Mbah Suro Inggil dikenal sebagai dukun sakti. Bahkan, ada yang menyebut termasuk salah satu guru spiritual Ir Soekarno. Dia memiliki banyak pengikut yang berasal baik dari Blora sendiri, maupun dari Grobogan, Bojonegoro, hingga Ngawi.

Dia lahir di Desa Nginggil pada 17 Maret 1921 dengan nama asli Moelyono Soeradihardjo. Masa mudanya dia pernah menjadi tentara dengan pangkat sersan pada masa revolusi. Namun, akhirnya dia justru dikenal berpaham politik kiri.


Selain sebagai dukun sakti, dia disegani di des aitu. Terbukti dia menjadi kepala desa selama 16 tahun. Mulai 1946 hingga 1962. Darah pemimpin mengalir dari ayahnya Resosemito yang dulu juga pernah menjadi kepala desa.

Warga setempat Sutiyanto mengatakan, Mbah Hinggil ada yang menganal tersangkut komunisme. Sebab, dulu banyak pelarian komunis yang berlindung ke Mbah Hinggil. Pada 1967, dia ikut dibawa ke Jakarta.

Baca Juga :  Empat Ribu Botol Arak di TPA Temurejo Blora Jadi Rebutan Pemulung

Selain itu, dia memang dikenal sebagai orang pintar. Dia bisa menyembuhkan penyakit fisik maupun nonfisik. Hal itu yang menjadikan masyarakat sekitar mensakralkan pertapaannya. Salah satu yang dipercaya, pesawat dilarang melewati pertapaan itu dalam radius 300-an meter.

”Lokasi kecelakaan utama pesawat itu di sekitar 150 meter dari pertapaan. Jadi, bisa dianggap melewati bagian atas pertapaan,” ujarnya.

Dari pengamatan Jawa Pos Radar Kudus, lokasi pertapaan Mbah Hinggil memiliki bangunan seluas sekitar 7×5 meter. Bangunan itu, beratap dengan delapan tiang kayu. Tiang itu beserta kusen atap dicat biru. Di bagian pondasi tiang, berbentuk persegi setinggi sekitar 1 meter dan lebar 0,5 meter berbahan semen. Ada orname timbul gambar burung putih. Sedangkan pelataran pertapaan ini, diplaster semen.

Kemarin, tempat ini digunakan beristirahat personel yang terlibat evakuasi puing pesawat dan jenazah pilot pesawat Lettu Allan. Termasuk sejumlah warga yang ikut membantu evakuasi. (cha/lin)

BLORA – Lokasi jatuhnya pesawat tempur tipe T-50i Golden Eagle TT-5009 tak jauh dari pertapaan Mbah Suro Inggil atau Mbah Nginggil. Jaraknya ke utara sekitar 150 meter.

Dari informasi yang didapat Jawa Pos Radar Kudus, Mbah Suro Inggil dikenal sebagai dukun sakti. Bahkan, ada yang menyebut termasuk salah satu guru spiritual Ir Soekarno. Dia memiliki banyak pengikut yang berasal baik dari Blora sendiri, maupun dari Grobogan, Bojonegoro, hingga Ngawi.

Dia lahir di Desa Nginggil pada 17 Maret 1921 dengan nama asli Moelyono Soeradihardjo. Masa mudanya dia pernah menjadi tentara dengan pangkat sersan pada masa revolusi. Namun, akhirnya dia justru dikenal berpaham politik kiri.

Selain sebagai dukun sakti, dia disegani di des aitu. Terbukti dia menjadi kepala desa selama 16 tahun. Mulai 1946 hingga 1962. Darah pemimpin mengalir dari ayahnya Resosemito yang dulu juga pernah menjadi kepala desa.

Warga setempat Sutiyanto mengatakan, Mbah Hinggil ada yang menganal tersangkut komunisme. Sebab, dulu banyak pelarian komunis yang berlindung ke Mbah Hinggil. Pada 1967, dia ikut dibawa ke Jakarta.

Baca Juga :  Korupsi Jual Beli Kios Pasar, Kepala Dindagkop Blora Resmi Ditahan

Selain itu, dia memang dikenal sebagai orang pintar. Dia bisa menyembuhkan penyakit fisik maupun nonfisik. Hal itu yang menjadikan masyarakat sekitar mensakralkan pertapaannya. Salah satu yang dipercaya, pesawat dilarang melewati pertapaan itu dalam radius 300-an meter.

”Lokasi kecelakaan utama pesawat itu di sekitar 150 meter dari pertapaan. Jadi, bisa dianggap melewati bagian atas pertapaan,” ujarnya.

Dari pengamatan Jawa Pos Radar Kudus, lokasi pertapaan Mbah Hinggil memiliki bangunan seluas sekitar 7×5 meter. Bangunan itu, beratap dengan delapan tiang kayu. Tiang itu beserta kusen atap dicat biru. Di bagian pondasi tiang, berbentuk persegi setinggi sekitar 1 meter dan lebar 0,5 meter berbahan semen. Ada orname timbul gambar burung putih. Sedangkan pelataran pertapaan ini, diplaster semen.

Kemarin, tempat ini digunakan beristirahat personel yang terlibat evakuasi puing pesawat dan jenazah pilot pesawat Lettu Allan. Termasuk sejumlah warga yang ikut membantu evakuasi. (cha/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/