alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Begini Kronologi Lengkap Jatuhnya Jet Tempur TNI AU T-50i Golden Eagle TT-5009 di Hutan Blora

BLORA – Pesawat tempur tipe T-50i Golden Eagle TT-5009 jatuh di Desa Nginggil, Kradenan, Blora, kemarin malam. Akibatnya, awak pesawat buatan kolaborasi Amerika-Korea itu, gugur saat menjalani latihan malam. Awak pesawat yang merupakan pilot itu, Lettu Pnb Allan Safitra Indra Wahyudi. Sebelum jatuh, pesawat itu tidak meledak. Namun, menghujam tanah dengan keras, sehingga hancur berkepi-keping.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Indan Gilang Buldansyah menyebut, pesawat yang diterbangkan Lettu Allan itu, take off dari Lapangan Udara (Lanud) Iswahjudi pada pukul 18.24. Tujuannya untuk latihan terbang malam. Lettu Allan tidak terbang sendiri. Dia Bersama Lettu Pnb Laksamana Hasnan Tri Pamungkas yang bertindak sebagai leader. Mereka terbang mengitari langit Gunung Lawu, pantai selatan Jawa, Kediri, Ngawi, hingga wilayah udara di Jawa Tengah. Tepat di atas langit Jawa Tengah itulah, sekitar pukul 19.25 flight director kali terakhir berkomunikasi dengan Allan.

Laporan terakhir dari Lettu Allan, tak dapat melihat pesawat Lettu Hasnan yang ada di depannya. Selang 18 menit kemudian, Allan hilang kontak di tengah gelapnya langit Pulau Jawa.


Kamijan, salah satu saksi kejadian yang saat itu berada di Desa Bugel -sebelah selatan Desa Nginggil- mengaku, tidak ada ledakan atau pesawat terbakar sebelum pesawat jatuh. ”Dari atas lampunya nyala biasa. Tidak terbakar. Bergerak dari selatan. Ada dua pesawat. Yang satu terus melaju. Yang satu lagi lampunya nyala. Gerakannya langsam kemudian miring turun, tapi tidak langsung menukik,” jelasnya saat ditemui wartawan koran ini kemarin.

Menurutnya, nyala pesawat semakin terang sesaat sebelum menumbuk tanah perbukitan bekas hutan. ”Terus langsung bleng... Saking bantere kelihatan kilatan cahaya,” terangnya.

Dia mengaku melihat secara langsung saat ledakan itu terjadi. ”Saya tahu sendiri saat di Desa Mbugel. Saat itu saya sedang main ke mantri hutan,” ucapnya.

Sementara itu, dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi kemarin, evakuasi kepingan pesawat dan tubuh korban dilaksanakan secara gotong royong. Berbagai pihak turut andil dalam pencarian puing puing pesawat dan cuilan tubuh korban.

Evakuasi dimulai kemarin malam sekitar pukul 23.00 hingga Selasa (19/1) pukul 01.00. Pada waktu itu, evakuasi dilakukan tim gabungan. Ada TNI, polri, BPBD Blora, Basarnas Pos Jepara, PMI Blora, serta beberapa relawan lokal.

Hasilnya, beberapa puing pecahan pesawat di perbukitan lokasi kejadian dapat dikumpulkan sebagian. Dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, tampak ada sekitar 10 titik pengumpulan bangkai pesawat yang disesuaikan berdasarkan bagian-bagian kepingan dalam tubuh pesawat.

Baca Juga :  Penerbangan Komersil di Bandara Ngloram Blora Berhenti Beroperasi, Kenapa?

Pencarian dilanjutkan pagi hari kemarin. Persiapan evakuasi dilakukan sejak pukul 05.30. Butuh 90 personel gabungan TNI-Polri dan Basarnas untuk mengevakuasi jasad Allan beserta puing jet tempurnya. TNI AU juga meminta kepada Kepolisian Hutan Ngawi -penanggungjawab lokasi hutan di Desa Nginggil, Kradenan, Blora- untuk meminta bantuan warga. Bantuan dimaksudkan untuk membersihkan area sekitar lokasi kejadian. Sebab, akan digunakan untuk pendaratan helikopter evakuasi. Hari kedua evakuasi ini, tampak dua kali pendaratan helikopter di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Medan di lokasi kejadian memang tidak mudah. Selain itu, untuk menuju TKP, dari pusat kota Blora sekitar 50 kilometer. Sedangkan dari permukiman warga terdekat jaraknya sekitar 3 kilometer. Dengan jalan setapak yang dapat dilalui motor. Jalannya, separo semen, separonya bebatuan. Cukup licin, apabila pengendara tidak hati-hati bisa terjatuh. Jalan menuju desa juga cukup parah. Sepanjang 5 kilometer berupa bebatuan dengan tipografi jalan perbukitan yang naik turun.

Saat proses evakuasi, radius 100 meter pihak TNI AU tidak menghendaki adanya pihak luar untuk ikut membantu evakuasi. BPBD Blora pun hanya bisa duduk diam di sekitar TKP yang dikelilingi police line.

Di radius sekitar 150 meter, masyarakat sekitar tetap membantu mengevakuasi. Masyarakat relawan yang sudah paham dengan medan hutan dengan sigap membantu TNI mengevakuasi kepingan pesawat dan beberapa bagian tubuh korban. Mereka pun ikut membawanya ke pusat TKP yang telah ditentukan pada hari pertama.

Komponen penting pesawat itu, berupa black box (flight data recorder dan voice data recorder) berhasil ditemukan. Setelah ditemukan langsung diamankan personel TNI AU. Selain itu, turut ditemukan, ada mesin penggerak pesawat, komponen kelistrikan, dan pecahan-pecahan badan pesawat.

”Kami mewakili pemerintah Kabupaten Blora sangat berterima kasih kepada warga sekitar, kepada berbagai pihak yang dengan sukarela membantu evakuasi pesawat ini,” ucap Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati saat mengunjungi lokasi terjatuhnya pesawat itu.

Terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispen AU) Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah mengatakan, pihaknya memastikan tim investigasi telah menemukan flight data recorder pesawat Allan. Sedangkan cockpit voice recorder hingga kemarin sore belum ditemukan. ”Bukan akibat cuaca buruk. Pesawat juga sudah dinyatakan layak terbang. Untuk saat ini proses investigasi masih berlangsung,” ujarnya. (cha/lin)

BLORA – Pesawat tempur tipe T-50i Golden Eagle TT-5009 jatuh di Desa Nginggil, Kradenan, Blora, kemarin malam. Akibatnya, awak pesawat buatan kolaborasi Amerika-Korea itu, gugur saat menjalani latihan malam. Awak pesawat yang merupakan pilot itu, Lettu Pnb Allan Safitra Indra Wahyudi. Sebelum jatuh, pesawat itu tidak meledak. Namun, menghujam tanah dengan keras, sehingga hancur berkepi-keping.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Indan Gilang Buldansyah menyebut, pesawat yang diterbangkan Lettu Allan itu, take off dari Lapangan Udara (Lanud) Iswahjudi pada pukul 18.24. Tujuannya untuk latihan terbang malam. Lettu Allan tidak terbang sendiri. Dia Bersama Lettu Pnb Laksamana Hasnan Tri Pamungkas yang bertindak sebagai leader. Mereka terbang mengitari langit Gunung Lawu, pantai selatan Jawa, Kediri, Ngawi, hingga wilayah udara di Jawa Tengah. Tepat di atas langit Jawa Tengah itulah, sekitar pukul 19.25 flight director kali terakhir berkomunikasi dengan Allan.

Laporan terakhir dari Lettu Allan, tak dapat melihat pesawat Lettu Hasnan yang ada di depannya. Selang 18 menit kemudian, Allan hilang kontak di tengah gelapnya langit Pulau Jawa.

Kamijan, salah satu saksi kejadian yang saat itu berada di Desa Bugel -sebelah selatan Desa Nginggil- mengaku, tidak ada ledakan atau pesawat terbakar sebelum pesawat jatuh. ”Dari atas lampunya nyala biasa. Tidak terbakar. Bergerak dari selatan. Ada dua pesawat. Yang satu terus melaju. Yang satu lagi lampunya nyala. Gerakannya langsam kemudian miring turun, tapi tidak langsung menukik,” jelasnya saat ditemui wartawan koran ini kemarin.

Menurutnya, nyala pesawat semakin terang sesaat sebelum menumbuk tanah perbukitan bekas hutan. ”Terus langsung bleng... Saking bantere kelihatan kilatan cahaya,” terangnya.

Dia mengaku melihat secara langsung saat ledakan itu terjadi. ”Saya tahu sendiri saat di Desa Mbugel. Saat itu saya sedang main ke mantri hutan,” ucapnya.

Sementara itu, dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lokasi kemarin, evakuasi kepingan pesawat dan tubuh korban dilaksanakan secara gotong royong. Berbagai pihak turut andil dalam pencarian puing puing pesawat dan cuilan tubuh korban.

Evakuasi dimulai kemarin malam sekitar pukul 23.00 hingga Selasa (19/1) pukul 01.00. Pada waktu itu, evakuasi dilakukan tim gabungan. Ada TNI, polri, BPBD Blora, Basarnas Pos Jepara, PMI Blora, serta beberapa relawan lokal.

Hasilnya, beberapa puing pecahan pesawat di perbukitan lokasi kejadian dapat dikumpulkan sebagian. Dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini, tampak ada sekitar 10 titik pengumpulan bangkai pesawat yang disesuaikan berdasarkan bagian-bagian kepingan dalam tubuh pesawat.

Baca Juga :  Sepuluh Tahun Rusak, Warga Banjarejo Blora Perbaiki Jalan Sendiri

Pencarian dilanjutkan pagi hari kemarin. Persiapan evakuasi dilakukan sejak pukul 05.30. Butuh 90 personel gabungan TNI-Polri dan Basarnas untuk mengevakuasi jasad Allan beserta puing jet tempurnya. TNI AU juga meminta kepada Kepolisian Hutan Ngawi -penanggungjawab lokasi hutan di Desa Nginggil, Kradenan, Blora- untuk meminta bantuan warga. Bantuan dimaksudkan untuk membersihkan area sekitar lokasi kejadian. Sebab, akan digunakan untuk pendaratan helikopter evakuasi. Hari kedua evakuasi ini, tampak dua kali pendaratan helikopter di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Medan di lokasi kejadian memang tidak mudah. Selain itu, untuk menuju TKP, dari pusat kota Blora sekitar 50 kilometer. Sedangkan dari permukiman warga terdekat jaraknya sekitar 3 kilometer. Dengan jalan setapak yang dapat dilalui motor. Jalannya, separo semen, separonya bebatuan. Cukup licin, apabila pengendara tidak hati-hati bisa terjatuh. Jalan menuju desa juga cukup parah. Sepanjang 5 kilometer berupa bebatuan dengan tipografi jalan perbukitan yang naik turun.

Saat proses evakuasi, radius 100 meter pihak TNI AU tidak menghendaki adanya pihak luar untuk ikut membantu evakuasi. BPBD Blora pun hanya bisa duduk diam di sekitar TKP yang dikelilingi police line.

Di radius sekitar 150 meter, masyarakat sekitar tetap membantu mengevakuasi. Masyarakat relawan yang sudah paham dengan medan hutan dengan sigap membantu TNI mengevakuasi kepingan pesawat dan beberapa bagian tubuh korban. Mereka pun ikut membawanya ke pusat TKP yang telah ditentukan pada hari pertama.

Komponen penting pesawat itu, berupa black box (flight data recorder dan voice data recorder) berhasil ditemukan. Setelah ditemukan langsung diamankan personel TNI AU. Selain itu, turut ditemukan, ada mesin penggerak pesawat, komponen kelistrikan, dan pecahan-pecahan badan pesawat.

”Kami mewakili pemerintah Kabupaten Blora sangat berterima kasih kepada warga sekitar, kepada berbagai pihak yang dengan sukarela membantu evakuasi pesawat ini,” ucap Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati saat mengunjungi lokasi terjatuhnya pesawat itu.

Terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispen AU) Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah mengatakan, pihaknya memastikan tim investigasi telah menemukan flight data recorder pesawat Allan. Sedangkan cockpit voice recorder hingga kemarin sore belum ditemukan. ”Bukan akibat cuaca buruk. Pesawat juga sudah dinyatakan layak terbang. Untuk saat ini proses investigasi masih berlangsung,” ujarnya. (cha/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/