alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Duh! Oknum GTT di Blora Sengaja Manipulasi Data agar Lolos Seleksi P3K

BLORA – Dinas Pendidikan Kabupaten Blora kembali dibuat geger. Kali ini, datang dari peserta seleksi kompetensi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru di Kecamatan Jepon. Sebab, diduga ada manipulasi data, sehingga bisa lolos dalam tes PPPK.

Ketua Persatuan Guru Tidak Tetap (GTT)/Pegawai Tidak Tetap (PTT) (Progata) Kabupaten Blora Aries Eko Siswanto mengungkapkan, memang ada manipulasi data yang dilakukan oknum kepala sekolah dan koordinator wilayah. Berupa pembuatan nota tugas palsu untuk GTT. Sehingga bisa masuk data Dapodik. Padahal, GTT itu baru dan tidak tiap hari masuk kerja. Tapi masuk (data pokok peserta didik) dapodik dan lolos seleksi PPPK.

”Di Jepon ini, ada oknum GTT yang membuat data tidak benar. Pengabdiannya baru pada akhir 2020 lalu. Tapi dibuatkan nota tugas oleh oknum kepala sekolah dan koordinator wilayah tertanggal Februari 2019. Untuk bisa masuk dapodik memang mengajarnya minimal pada 12 Maret 2019,” jelasnya.


Ironisnya, oknum guru yang diduga memanipulasi data itu, ternyata anak dari pengawas sekolah. ”Kami juga menyayangkan yang kasusnya Jepon itu, ternyata yang masuk itu anaknya pengawas di sana. Padahal sudah tahu aturan untuk bisa masuk dapodik. Tapi kok malah dimanfaatkan seperti ini,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini salah satu oknum guru yang lolos PPPK tersebut, sudah mengundurkan diri menjadi guru usai mengikuti ujian PPPK tahap I. Yaitu guru di SD Turirejo. ”Jadi, setelah tes PPPK dia merasa bersalah. Akhirnya membuat surat mengundurkan diri di sekolah dan sudah dikeluarkan dari dapodik. Tapi, untuk proses PPPK kan masih berjalan dan hasil PPPK dia lulus,” terangnya.

Adanya manipulasi data tersebut, sangat merugikan para guru yang memang berkeinginan untuk lolos sebagai PPPK. Hingga kemarin, pihaknya sudah mendampingi empat temannya untuk mengadu ke Dinas Pendidikan. ”Semula sudah bisa bernapas lega, karena punya imunitas di induknya masing-masing. Karena ada GTT yang seperti ini, akhirnya hilang kesempatan,” tambah Aries.

Baca Juga :  Warga Blora Mau Vaksin Dapat Beras

Selain dari Jepon, pihaknya juga mendampingi guru dari Randublatung. Yaitu, SDN 2 Ngawen dan SDN 1 Selogender. ”Persoalan hampir sama. GTT baru bisa masuk dapodik,” terangnya.

Harapannya, yang sudah P-1 inginnya dari daerah bisa ikut memperjuangkan dan dapat formasi untuk tahun ini atau tahun depan. ”Untuk teman-teman bisa bersabar dan ikut tahap II sampai selesai. Terhadap oknum yang memanipulasi atau rekayasa data, kami berserah sama dinas. Kami sudah menyampaikan dinas,” terangnya.

Kepala Seksi Disiplin dan Kesejahteraan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora Yusuf Fitri mengaku, sudah memanggil oknum guru yang diduga memanipulasi data tersebut. ”Sesuai dengan pengakuannya memang telah meminta kepada sekolah untuk membuatkan surat penugasan yang tidak semestinya. Yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.

Yusuf mengaku, pemanggilan tersebut belum resmi dan hanya bersifat klarifikasi. ”Proses pemanggilan ini harus kedinasan. Yang bersangkutan di BAP (berita acara pemeriksaan). BAP ini berjenjang, dari Kepala bidang (kabid), sekretatis dinas (sekdin) sampai kepala dinas (kadin). Undangan yang bersangkutan juga harus dari kadin (kepala dinas) sebagai atasannya langsung,” terangnya.

Jika oknum guru tersebut terbukti melakukan manipulasi data, sanksi kategori berat akan dikenakan sesuai dengan regulasi. Karena yang bersangkutan adalah ASN kepala sekolah. ”Problemnya ketika di guru induk itu ada hal yang tidak benar, kami menemukan ternyata memang ada beberapa sekolah yang di induk datanya tidak benar juga,” terang Yusuf. Sampai saat ini, Yusuf sudah menerima aduan dari sejumlah guru yang tersebar di lima sekolah dasar. ”Ini masih kami rekap,” imbuhnya.






Reporter: Subekan

BLORA – Dinas Pendidikan Kabupaten Blora kembali dibuat geger. Kali ini, datang dari peserta seleksi kompetensi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru di Kecamatan Jepon. Sebab, diduga ada manipulasi data, sehingga bisa lolos dalam tes PPPK.

Ketua Persatuan Guru Tidak Tetap (GTT)/Pegawai Tidak Tetap (PTT) (Progata) Kabupaten Blora Aries Eko Siswanto mengungkapkan, memang ada manipulasi data yang dilakukan oknum kepala sekolah dan koordinator wilayah. Berupa pembuatan nota tugas palsu untuk GTT. Sehingga bisa masuk data Dapodik. Padahal, GTT itu baru dan tidak tiap hari masuk kerja. Tapi masuk (data pokok peserta didik) dapodik dan lolos seleksi PPPK.

”Di Jepon ini, ada oknum GTT yang membuat data tidak benar. Pengabdiannya baru pada akhir 2020 lalu. Tapi dibuatkan nota tugas oleh oknum kepala sekolah dan koordinator wilayah tertanggal Februari 2019. Untuk bisa masuk dapodik memang mengajarnya minimal pada 12 Maret 2019,” jelasnya.

Ironisnya, oknum guru yang diduga memanipulasi data itu, ternyata anak dari pengawas sekolah. ”Kami juga menyayangkan yang kasusnya Jepon itu, ternyata yang masuk itu anaknya pengawas di sana. Padahal sudah tahu aturan untuk bisa masuk dapodik. Tapi kok malah dimanfaatkan seperti ini,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini salah satu oknum guru yang lolos PPPK tersebut, sudah mengundurkan diri menjadi guru usai mengikuti ujian PPPK tahap I. Yaitu guru di SD Turirejo. ”Jadi, setelah tes PPPK dia merasa bersalah. Akhirnya membuat surat mengundurkan diri di sekolah dan sudah dikeluarkan dari dapodik. Tapi, untuk proses PPPK kan masih berjalan dan hasil PPPK dia lulus,” terangnya.

Adanya manipulasi data tersebut, sangat merugikan para guru yang memang berkeinginan untuk lolos sebagai PPPK. Hingga kemarin, pihaknya sudah mendampingi empat temannya untuk mengadu ke Dinas Pendidikan. ”Semula sudah bisa bernapas lega, karena punya imunitas di induknya masing-masing. Karena ada GTT yang seperti ini, akhirnya hilang kesempatan,” tambah Aries.

Baca Juga :  Kurikulum Prototipe di Kudus Baru Diterapkan di Sekolah Penggerak

Selain dari Jepon, pihaknya juga mendampingi guru dari Randublatung. Yaitu, SDN 2 Ngawen dan SDN 1 Selogender. ”Persoalan hampir sama. GTT baru bisa masuk dapodik,” terangnya.

Harapannya, yang sudah P-1 inginnya dari daerah bisa ikut memperjuangkan dan dapat formasi untuk tahun ini atau tahun depan. ”Untuk teman-teman bisa bersabar dan ikut tahap II sampai selesai. Terhadap oknum yang memanipulasi atau rekayasa data, kami berserah sama dinas. Kami sudah menyampaikan dinas,” terangnya.

Kepala Seksi Disiplin dan Kesejahteraan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blora Yusuf Fitri mengaku, sudah memanggil oknum guru yang diduga memanipulasi data tersebut. ”Sesuai dengan pengakuannya memang telah meminta kepada sekolah untuk membuatkan surat penugasan yang tidak semestinya. Yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.

Yusuf mengaku, pemanggilan tersebut belum resmi dan hanya bersifat klarifikasi. ”Proses pemanggilan ini harus kedinasan. Yang bersangkutan di BAP (berita acara pemeriksaan). BAP ini berjenjang, dari Kepala bidang (kabid), sekretatis dinas (sekdin) sampai kepala dinas (kadin). Undangan yang bersangkutan juga harus dari kadin (kepala dinas) sebagai atasannya langsung,” terangnya.

Jika oknum guru tersebut terbukti melakukan manipulasi data, sanksi kategori berat akan dikenakan sesuai dengan regulasi. Karena yang bersangkutan adalah ASN kepala sekolah. ”Problemnya ketika di guru induk itu ada hal yang tidak benar, kami menemukan ternyata memang ada beberapa sekolah yang di induk datanya tidak benar juga,” terang Yusuf. Sampai saat ini, Yusuf sudah menerima aduan dari sejumlah guru yang tersebar di lima sekolah dasar. ”Ini masih kami rekap,” imbuhnya.






Reporter: Subekan

Most Read

Artikel Terbaru

/