alexametrics
24.6 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Kasus Oknum Satpol PP Tendang Pelajar Di Blora Berakhir Damai

BLORA – Kasus oknum Satpol PP Kecamatan Cepu yang menendang pemuda berakhir damai. Korban Gery Kurnia Putra pun mencabut aduan yang sempat dibuat di Polsek Cepu.

Ilham Hafidz Eka Laksono, anggota Satpol PP Cepu yang melakukan kekerasan tersebut menyatakan permohonan maaf kepada korban. ”Saya mohon dimaafkan atas perlakuan yang tidak menyenangkan,” ucapnya singkat.

Sementara itu, Gery Kurnia Putra mengaku sudah memaafkan oknum Satpol PP itu. Dia berharap ke depan anggota Satpol PP tak arogan. Keduanya pun berjabat tangan, saling merangkul, dan membuat surat perdamaian. ”Kami tidak akan menuntut setelah kejadian tersebut. Serta selesai sampai di sini,” ucapnya.


Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana menyampaikan, kedua belah pihak sepakat berdamai setelah dimediasi oleh Polsek Cepu. ”Keduanya sepakat menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Dan tidak saling menuntut antara satu sama lainnya,” jelasnya.

Setelah kejadian itu viral, pihaknya berusaha mengklarifikasi kedua belah pihak agar situasi kondusif. Akhirnya masalah itu bisa diselesaikan baik-baik. ”Ternyata ayah keduanya teman sekolah,” tambahnya.

Baca Juga :  Penumpang Citilink yang Buka Pintu Pesawat Diduga Kades Nglebak

Terkait isu bawa senjata tajam, kapolsek menegaskan, yang dibawa Gery sebuah pisau dapur. Tidak dibawa para pemuda. Punyanya siapa tidak ada yang mengaku. ”Bukan dibawa saat keluar. Kalau namanya sajam orang membawa saat tidak peruntukannya. Kadang-kadang orang menyatakan dengan mudahnya, ” tegasnya.

Selain itu, terkait klaim ada pesta seks, kapolsek menegaskan tidak mendapati hal itu di lokasi. Pada intinya Satpol PP piket dan ada aduan. Kemudian mereka datang dan ditemukan ada 13 orang di sana.

”Pada saat itu, petugas minta keterangan pisau itu milik siapa dan tidak ada yang menjawab. Dan itu yang mungkin buat emosi. Sehingga terjadi insiden (penendangan, Red),” paparnya.

Soal anggapan pesta miras, kapolsek kembali menegaskan dari 13 Pemuda itu, diduga ada yang sebagian mabuk dan ditemukan botolnya. Setelah itu, mereka dibawa ke kantor kecamatan dan orang tuanya diundang. Saat itu sebenarnya masalah sudah selesai. Namun di kemudian hari beredar video penendangan.






Reporter: Subekan

BLORA – Kasus oknum Satpol PP Kecamatan Cepu yang menendang pemuda berakhir damai. Korban Gery Kurnia Putra pun mencabut aduan yang sempat dibuat di Polsek Cepu.

Ilham Hafidz Eka Laksono, anggota Satpol PP Cepu yang melakukan kekerasan tersebut menyatakan permohonan maaf kepada korban. ”Saya mohon dimaafkan atas perlakuan yang tidak menyenangkan,” ucapnya singkat.

Sementara itu, Gery Kurnia Putra mengaku sudah memaafkan oknum Satpol PP itu. Dia berharap ke depan anggota Satpol PP tak arogan. Keduanya pun berjabat tangan, saling merangkul, dan membuat surat perdamaian. ”Kami tidak akan menuntut setelah kejadian tersebut. Serta selesai sampai di sini,” ucapnya.

Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana menyampaikan, kedua belah pihak sepakat berdamai setelah dimediasi oleh Polsek Cepu. ”Keduanya sepakat menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Dan tidak saling menuntut antara satu sama lainnya,” jelasnya.

Setelah kejadian itu viral, pihaknya berusaha mengklarifikasi kedua belah pihak agar situasi kondusif. Akhirnya masalah itu bisa diselesaikan baik-baik. ”Ternyata ayah keduanya teman sekolah,” tambahnya.

Baca Juga :  Bangun Seribu Jaringan Pipa, Pemkab Blora Aggarkan Rp 6,7 M

Terkait isu bawa senjata tajam, kapolsek menegaskan, yang dibawa Gery sebuah pisau dapur. Tidak dibawa para pemuda. Punyanya siapa tidak ada yang mengaku. ”Bukan dibawa saat keluar. Kalau namanya sajam orang membawa saat tidak peruntukannya. Kadang-kadang orang menyatakan dengan mudahnya, ” tegasnya.

Selain itu, terkait klaim ada pesta seks, kapolsek menegaskan tidak mendapati hal itu di lokasi. Pada intinya Satpol PP piket dan ada aduan. Kemudian mereka datang dan ditemukan ada 13 orang di sana.

”Pada saat itu, petugas minta keterangan pisau itu milik siapa dan tidak ada yang menjawab. Dan itu yang mungkin buat emosi. Sehingga terjadi insiden (penendangan, Red),” paparnya.

Soal anggapan pesta miras, kapolsek kembali menegaskan dari 13 Pemuda itu, diduga ada yang sebagian mabuk dan ditemukan botolnya. Setelah itu, mereka dibawa ke kantor kecamatan dan orang tuanya diundang. Saat itu sebenarnya masalah sudah selesai. Namun di kemudian hari beredar video penendangan.






Reporter: Subekan

Most Read

Artikel Terbaru

/