alexametrics
26.9 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Subsidi Migor Dicabut, Harga Migor di Blora Alami Kenaikan

BLORA – Pemerintah Pusat telah mencabut subsidi minyak goreng sejak 31 Mei lalu. Hasil pantauan Jawa Pos Radar Kudus, pencabutan subsidi berdampak pada naiknya harga migor.

Salah seorang penjaga toko di salah satu distributor migor curah di Ngawen mengaku, kenaikan minyak goreng dianggapnya tidak begitu signifikan. Tidak seperti beberapa bulan lalu yang sempat menyentuh angka Rp 20 ribuan. “Memang terjadi kenaikan, tapi naiknya hanya Rp 500 per kilo,” ucap perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Sejak empat hari lalu, menurutnya telah terjadi peningkatan jumlah pembeli migor curah di tokonya. Hal itu diduga karena beberapa pelaku usaha yang membutuhkan migor dalam jumlah besar seperti produsen kerupuk, ingin mendapatkan migor masih dengan harga subsidi.


“Biasanya bisa sekitar 3,5 ton per hari, tetapi akhir-akhir ini terjadi peningkatan penjualan. Bisa hampir 4 ton,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Pihaknya mengaku, saat ini masih mengikuti harga lama seperti ketika belum ada pencabutan subsidi. “Belum tau nanti akan naik lagi atau tidak, soalnya ini masih stok lama. Mungkin kalau naik itu nanti pas pengiriman stok lagi,” jelasnya.

Baca Juga :  Teladani Sosok Pramoedya Ananta Toer Hobi Bakar Sampah

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora pada 30 Mei lalu, stok migor curah di Kabupaten Blora masih di angka 63 ton. Sedangkan minyak goreng kemasan stoknya masih lebih dari tiga kali lipatnya, 222 liter. Sehingga stok masih dianggap aman dengan kebutuhan harian sekitar 20 ton untuk kedua jenis migor itu. (cha/ali)

BLORA – Pemerintah Pusat telah mencabut subsidi minyak goreng sejak 31 Mei lalu. Hasil pantauan Jawa Pos Radar Kudus, pencabutan subsidi berdampak pada naiknya harga migor.

Salah seorang penjaga toko di salah satu distributor migor curah di Ngawen mengaku, kenaikan minyak goreng dianggapnya tidak begitu signifikan. Tidak seperti beberapa bulan lalu yang sempat menyentuh angka Rp 20 ribuan. “Memang terjadi kenaikan, tapi naiknya hanya Rp 500 per kilo,” ucap perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Sejak empat hari lalu, menurutnya telah terjadi peningkatan jumlah pembeli migor curah di tokonya. Hal itu diduga karena beberapa pelaku usaha yang membutuhkan migor dalam jumlah besar seperti produsen kerupuk, ingin mendapatkan migor masih dengan harga subsidi.

“Biasanya bisa sekitar 3,5 ton per hari, tetapi akhir-akhir ini terjadi peningkatan penjualan. Bisa hampir 4 ton,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Pihaknya mengaku, saat ini masih mengikuti harga lama seperti ketika belum ada pencabutan subsidi. “Belum tau nanti akan naik lagi atau tidak, soalnya ini masih stok lama. Mungkin kalau naik itu nanti pas pengiriman stok lagi,” jelasnya.

Baca Juga :  CATAT! Masuk Jateng lewat Cepu Harus Tunjukkan Surat Hasil Rapid

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora pada 30 Mei lalu, stok migor curah di Kabupaten Blora masih di angka 63 ton. Sedangkan minyak goreng kemasan stoknya masih lebih dari tiga kali lipatnya, 222 liter. Sehingga stok masih dianggap aman dengan kebutuhan harian sekitar 20 ton untuk kedua jenis migor itu. (cha/ali)


Most Read

Artikel Terbaru

/