KUDUS - Keindahan Air Terjun Gambir Kaliyetno di Kabupaten Kudus menyimpan potensi wisata alam sekaligus religi yang belum tergarap maksimal.
Berada tak jauh dari Makam Mbah Kaliyetno, air terjun ini menawarkan suasana alami, tenang, dan jalur trekking ringan yang cocok bagi wisatawan pencari ketenangan.
Di area Makam Mbah Kaliyetno, terlihat enam bangunan warung berdiri berjajar.
Namun, hanya tiga warung yang masih aktif berjualan.
Halaman makam juga difungsikan sebagai area parkir kendaraan bagi peziarah maupun pengunjung air terjun.
Sebuah pohon beringin besar berdiri kokoh di tengah halaman, menambah kesan teduh dan sakral kawasan tersebut.
Perjalanan menuju Air Terjun Gambir Kaliyetno dimulai dari halaman makam dengan jarak sekitar setengah kilometer.
Akses hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Jalurnya relatif mudah dan tidak terjal, menyusuri kebun serta aliran sungai kecil.
Sesekali, pengunjung harus melewati bebatuan dan air sungai yang dangkal.
Di beberapa titik terlihat ranting kayu tersangkut di aliran sungai, yang dinilai bisa dibersihkan agar kawasan tampak lebih rapi dan menarik.
Meski jalurnya sederhana, perjalanan tersebut menyuguhkan pemandangan aliran sungai yang jernih dan suasana sepi.
Sesekali tampak petani kebun melintas, memperkuat nuansa pedesaan yang alami.
Setibanya di lokasi, pengunjung disambut air terjun dengan air yang jernih dan dipercaya memiliki nilai kesakralan oleh warga setempat.
Rumisih, salah satu pemilik warung di halaman makam, mengaku telah berjualan di lokasi tersebut selama lima tahun.
Ia menyebut, pengunjung air terjun tidak dikenai tiket masuk, hanya membayar parkir secara sukarela.
“Di sini cuma bayar parkir kendaraan saja. Itu pun lewat kotak parkir yang sudah disediakan, bukan lewat warung,” ujarnya, belum lama ini.
Juru kunci Makam Mbah Kaliyetno, Mbah Ngadini, menuturkan bahwa kunjungan ke air terjun mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19.
“Sebelum korona ramai. Setelah itu jadi sepi kalau air terjun. Hari biasa, 10 orang saja sudah ramai,” katanya.
Namun, pada hari Minggu atau libur besar, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 50 orang.
Menurut Mbah Ngadini, puncak kunjungan peziarah makam biasanya terjadi pada malam Jumat Legi.
Banyak peziarah yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Gambir Kaliyetno untuk sekadar menyegarkan diri.
“Biasanya peziarah juga mampir dan refreshing ke air terjun,” tambahnya.
Hingga kini, Air Terjun Gambir Kaliyetno belum memiliki pengelola resmi.
Kondisi tersebut disayangkan warga sekitar, mengingat potensi wisata alam dan religi yang dimiliki.
Dengan pengelolaan sederhana seperti kebersihan jalur dan penataan lingkungan, air terjun ini dinilai bisa menjadi destinasi alternatif yang menarik di Kudus. (dik)
Editor : Mahendra Aditya