KUDUS – Kafe Seribu Batu di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, menjadi salah satu destinasi nongkrong bernuansa pegunungan yang masih digemari wisatawan.
Berdiri sejak 1 Desember 2019, tempat milik Eko Sulistiono (35) ini sempat viral pada 2024 dan menjadi primadona baru wisata Rahtawu dengan kunjungan harian yang pernah menembus 600 orang.
Kini, kunjungan memang menurun, mengikuti tren serupa di kawasan wisata Rahtawu.
Baca Juga: Antrean Solar Kudus Bukan Tanda Kelangkaan
Pada hari biasa, Kafe Seribu Batu dikunjungi 50–70 orang, sementara akhir pekan masih mampu menarik sekitar 250 wisatawan.
“Kalau dibanding pas viral dulu, sekarang tinggal separonya,” ujar Eko, Jumat (21/11).
Meski begitu, daya tarik Seribu Batu tetap kuat.
Berada di ketinggian dengan latar pegunungan Muria, kafe ini dikenal sebagai tempat nongkrong tertinggi di Desa Rahtawu.
Udara sejuk, panorama hutan, dan suasana tenang menjadi alasan banyak pengunjung kembali datang bersama teman, sahabat, maupun keluarga.
Konsep kafe ini berawal dari latar belakang Eko sebagai seniman.
Ia merancang Seribu Batu dengan mengangkat seni lingkungan, menata bebatuan lokal Semliro di dinding menjadi elemen estetis yang menyatu dengan alam.
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Kudus Luncurkan Logo Baru, Begini Makna Filosofisnya!
“Saya memang basic-nya seni. Batu-batu lokal saya tata sedemikian rupa supaya punya makna dan karakter,” jelasnya.
Kafe Seribu Batu tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga lidah.
Menu paling laris antara lain ayam geprek, nasi goreng, dan aneka mie.
Untuk pecinta kopi, Arabica dan Robusta menjadi favorit.
Uniknya, kopi diolah dari kebun milik Eko sendiri, membuat cita rasa terasa lebih khas.
“Menu saya pelajari otodidak lewat YouTube. Kalau saya suka menu di kafe lain, saya pelajari lalu saya kembangkan,” katanya.
Bangunan kafe seluas sekitar 1.000 meter persegi ini dibangun dari rancangan Eko sendiri, termasuk ukiran-ukiran di dinding yang ia buat dengan tangan.
Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari musala, empat bilik toilet, meja kursi yang tertata lapang, hingga area parkir luas.
Pengunjung pun merasa nyaman untuk duduk santai, berbincang, atau berburu foto.
Beberapa wisatawan kerap menanyakan soal penginapan, namun Eko mengaku belum berencana menambah fasilitas tersebut meski melihat ada potensi besar.
Baginya, fokus saat ini adalah menjaga kualitas layanan dan suasana kafe agar tetap menjadi pilihan utama saat berkunjung ke Rahtawu.
Eko berharap kunjungan ke Seribu Batu maupun wisata Rahtawu secara umum bisa kembali meningkat.
Ia juga meminta perhatian pemerintah terhadap akses menuju Dukuh Semliro yang masih perlu perbaikan.
“Semoga Rahtawu ramai lagi. Kalau aksesnya bagus, wisatawan pasti lebih nyaman,” tuturnya. (dik)
Editor : Mahendra Aditya