RADAR KUDUS - BERKUNJUNG ke Kabupaten Jepara tak akan lengkap jika belum menilik kawasan Mulyoharjo sebagai sentra ukir dan patung di Bumi Kartini, Jepara.
Mulyoharjo sendiri, dulu pernah disebut-sebut Kartini dalam surat-surat yang ditulis kepada korespondensinya.
Ia menggambarkan Mulyoharjo sebagai kawasan 'Di Belakang Gunung' yang memiliki masyarakat dengan tangan-tangan terampil.
Orang-orang yang tekun dan punya kreativitas tinggi, khususnya dalam bidang ukir dan perkayuan.
Kamis (18/9) siang, di beberapa gudang milik perajin, aroma serbuk kayu berbaur dengan udara panas menguar di sentra ukir dan patung Mulyoharjo, Jepara.
Suara khas amplas bergesekan dengan permukaan kayu jati, berpadu dengan dengung mesin serut dan palu yang mengetuk pelan.
Irama itu bukan sekadar bunyi kerja, melainkan denyut nadi kehidupan sebuah desa yang sejak lama melahirkan karya-karya ukir penuh dengan sentuhan dan dedikasi dari hati.
Di sudut gudang, para perajin duduk tekun dengan wajah serius, mata mereka menatap detail lekukan yang belum sempurna.
Jemari yang terlatih puluhan tahun bergerak sabar, menorehkan motif demi motif pada balok kayu yang akan menjelma menjadi kursi, meja, patung ataupun barang lain yang bernilai seni tinggi.
Dari gudang produksi, alur perjalanan kayu terus berlanjut ke showroom-showroom yang berdiri tak jauh dari gudang.
Hari itu, beberapa pengunjung terlihat menelusuri galeri dengan mata berbinar. Sebagian dari mereka berasal dari mancanegara.
Ada pembeli dari India yang tampak takjub, sesekali membelai permukaan furniture yang berkilau setelah dipoles.
Mereka bukan sekadar tamu yang datang singgah, melainkan pembawa pesan bahwa karya-karya Mulyoharjo telah menembus batas negara, menjadi bagian dari percakapan global tentang seni, keindahan, dan fungsi kriya.
Benar memang, Mulyoharjo, sejak lama telah tumbuh sebagai pusat kreativitas ukir dan patung kayu. Dari generasi ke generasi, pengetahuan mengukir diwariskan seperti doa, melekat pada tangan para warga yang belajar dari ayah atau kakek buyutnya.
Di sini, kayu jati, mahoni, hingga trembesi bukan sekadar bahan baku, melainkan bahan dan medium untuk bercerita.
Bagi pengunjung ini, Mulyoharjo tampak tidak hanya sebagai tempat untuk melihat-lihat furnitur. Melainkan ruang untuk merasakan denyut tradisi, menyentuh tekstur sejarah, sekaligus menemukan inspirasi untuk kebutuhan rumah tangga, kedai, maupun perkantoran.
Dari permebelan klasik hingga dekorasi modern, dari perabot besar hingga peralatan dapur sederhana, semua tersedia dengan sentuhan khas ukiran Jepara yang anggun dan awet di hadapan waktu.
Mulyoharjo mewajah sebagai tempat bagi siapa saja untuk berburu berbagai referensi, mencari harmoni antara fungsi dan estetika, memenuhi kebutuhan permebelan hingga dekorasi.
Desa ini tidak hanya pasar produk-produk kerajinan kayu. Tetapi juga panggung di mana keterampilan bertemu dengan seni. Di mana rumah-rumah di penjuru dunia menemukan ruh baru lewat karya khas sentuhan tangan kreatif dari Jepara.
Salah satu warga Desa Mulyoharjo RT 1/RW 5, Kecamatan Jepara, Karyono, 60, tampak antusias dengan kedatangan Radar Kudus.
Ia bersama dengan anggota keluarga yang sebelumnya cekatan memoles berbagai miniatur dan patung hewan segera melepaskan pekerjaannya, sejurus dengan kedatangan jurnalis.
Menyinggung terkait dengan Mulyoharjo, asa baru tampak dari sorot matanya. Ia sumringah, khususnya usai mendengar kabar akan terdapat penataan serius mengenai kampungnya tersebut.
Beberapa waktu yang lalu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan, tahun depan Kawasan Mulyoharjo Kecamatan Jepara Kota dan sepanjang jalan di Kecamatan Tahunan dirancang menjadi destinasi wisata ukir.
Selain untuk meningkatkan wisatawan langkah tersebut juga diproyeksikan mampu mendongkrak perekonomian daerah dari sektor industri ukir, mebel dan furniture.
"Ya ini arah untuk maju, bagaimana masyarakat ini secara bersama-sama dapat memiliki rasa handarbeni (memiliki, Red) terhadap kesenian ukir. Supaya warga benar-benar mau terjun, buat patung, ngukir, tidak hanya terdorong kerja garmen (pabrik, Red)," jelasnya Kamis (18/9).
Memang, menurutnya selama ini Mulyoharjo sendiri telah dikenal sebagai sentra ukir dan patung. Akan tetapi proyeksi penataan sebagai destinasi wisata akan menguatkan branding daerah.
"Jangan sampai ada limbah dari proses pembuatan kerajinan di sini. Tidak boleh ada yang dibuang, potongan-potongan kayu yang sering dianggap limbah pun bisa dibuat cinderamata," tegasnya optimis.
Pria paruh baya yang telah puluhan tahun mengukir ini menyampaikan jika jadi kawasan Industri Wisata Ukir akan menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain edukasi mengukir, masyarakat juga bisa membuka homestay.
"Nanti yang jadi perajin ikut merasakan hasilnya, bisa ramai. Wisatawan pada datang dan getok tular. Jika penataan bagus, penyambutan bagus, jadi promosi tersendiri. Menginap di sini, belajar ukir, kualitas produk juga akan dapat menjangkau khalayak secara lebih luas," ucapnya.
Branding sebagai The World Carving Center akan semakin kukuh. Untuk itu memang, perlu penataan lingkungan.
"Masyarakat pun sadar lingkungan dan wisata, sehingga ini bisa lebih berkelanjutan. Semakin dikenal di mancanegara," katanya.
Setiap jengkal gang di Mulyoharjo terdapat para perajin dengan karakter dan kekhasannya masing-masing.
Produk-produk yang ada sangat beragam, terlampau cukup kiranya untuk memenuhi kebutuhan domestik rumah tangga ataupun perkantoran para pengunjung.
"Mau bagaimanapun hidup kami dari aktivitas ini, semoga semakin ramai dan menyejahterakan masyarakat," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya