RADAR KUDUS - Festival Lampion Borobudur kembali digelar pada 2025 dan menjadi magnet perhatian publik, baik dari kalangan umat Buddha maupun wisatawan domestik dan mancanegara.
Digelar bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak pada Senin, 12 Mei 2025, festival ini menjadi momentum spiritual sekaligus atraksi budaya yang memikat ribuan pasang mata di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Festival yang dikenal pula sebagai Festival Lampion Waisak ini telah menjadi tradisi tahunan yang memiliki akar sejarah panjang.
Baca Juga: Air Terjun Banyu Anjlok: Surga Tersembunyi di Somosari, Pilihan Wisata Air yang Masih Asri
Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966, acara ini awalnya bersifat eksklusif sebagai peringatan Tri Suci Waisak bagi umat Buddha hari suci untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, yakni kelahiran, pencerahan, dan wafatnya.
Seiring waktu, gaung festival ini melampaui batas komunitas agama. Pesonanya menarik minat wisatawan dari berbagai latar belakang untuk turut serta menyaksikan dan merasakan atmosfer khidmat yang berpadu dengan estetika budaya.
Festival ini kini menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan Indonesia, menandai simbiosis antara keberagaman spiritual dan sektor pariwisata.
Makna Mendalam di Balik Lampion
Puncak perayaan Waisak ditandai dengan ritual pelepasan lampion ke langit malam. Bagi umat Buddha, lampion bukan sekadar benda bercahaya, melainkan simbol harapan, penerangan batin, dan penghormatan kepada Buddha.
Pada lampion tersebut, kerap disisipkan doa-doa untuk perdamaian, kebijaksanaan, dan keselamatan seluruh umat manusia.
Meski kini kerap dihadiri masyarakat non-Buddha, nuansa sakral tetap dijaga. Pelepasan lampion dilakukan dalam suasana penuh meditasi dan hening.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Merekomendasikan Wisata Air Ini untuk Liburan Lebaran bagi Pemudik Jawa Tengah
Tak jarang, peserta festival larut dalam suasana spiritual melalui berbagai rangkaian kegiatan.
Seperti meditasi bersama, doa dan penulisan harapan, pawai budaya, pertunjukan seni, hingga festival kuliner yang memperkenalkan kekayaan tradisi lokal.
Rangkaian Ritual Waisak dan Festival Lampion
Hari Raya Waisak sendiri ditetapkan berdasarkan perhitungan astronomi metode Purnama-Sidhi, yang bertepatan dengan bulan purnama.
Di Indonesia, perayaan ini termasuk hari libur nasional, sehingga memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk turut menyaksikan atau meresapi perayaannya.
Rangkaian peringatan Waisak mencakup sejumlah ritual sakral, antara lain pengambilan Air Berkah dari Mata Air Jumprit di Temanggung, penyalaan obor Waisak dari sumber api abadi Mrapen di Grobogan, hingga prosesi Pindapatta tradisi pemberian sedekah kepada bhikkhu.
Detik-detik puncak Waisak, atau detik purnama, menjadi momen paling khidmat yang disambut dengan samadhi massal di pelataran Candi Borobudur.
Rangkaian tersebut ditutup dengan penyelenggaraan Festival Lampion, yang kerap menjadi sorotan karena keindahannya yang memukau serta makna spiritual yang mendalam.
Jadwal dan Tiket Festival Lampion Borobudur 2025
Festival Lampion tahun ini akan digelar di dua lokasi utama, yakni Lapangan Utama dan Taman Lumbini, Kompleks Candi Borobudur. Acara terbuka untuk umum dengan dua sesi pelaksanaan:
-
Sesi 1: Pukul 18.00–20.00 WIB (Open gate: 16.30–17.30 WIB)
-
Sesi 2: Pukul 21.00–23.00 WIB (Open gate: 20.00–21.00 WIB)
Pembelian tiket dilakukan melalui laman resmi di: https://widget.loket.com/widget/lampionborobudur2025
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat memperoleh tiket dengan donasi partisipasi sebesar Rp500.000 per orang.
Tiket tersebut mencakup akses resmi ke kawasan Candi Borobudur, gelang khusus, serta kartu harapan (Wishing Card).
Penukaran tiket dilaksanakan pada hari pelaksanaan, Senin, 12 Mei 2025, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB di Candi Agung Borobudur.
Aturan dan Etika Peserta
Pihak penyelenggara mewajibkan seluruh peserta untuk mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan demi menjaga kekhidmatan acara.
Berikut beberapa ketentuan penting:
-
Peserta wajib mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian dan bentuk penghormatan terhadap prosesi spiritual.
-
Dilarang mengenakan pakaian terbuka, transparan, atau terlalu pendek.
-
Penggunaan drone tidak diperkenankan selama acara berlangsung.
-
Penerbangan lampion hanya diperbolehkan pada waktu yang telah ditentukan.
-
Dilarang mengambil atau merusak properti yang digunakan dalam acara.
Untuk mendapatkan informasi terbaru terkait jadwal dan ketentuan acara, masyarakat dapat mengakses akun Instagram resmi penyelenggara di @borobudurmeditation maupun situs resmi lainnya.
Simbol Harmoni dan Toleransi
Festival Lampion Borobudur tak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Melalui festival ini, nilai-nilai spiritual, keindahan tradisi, dan kekayaan budaya Indonesia berpadu menjadi pengalaman yang menyentuh batin dan menginspirasi perdamaian. (*)
Editor : Ali Mustofa