JEPARA - Candi Angin, di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, adalah situs bersejarah yang penuh misteri.
Candi angin dikenal dengan namanya yang unik, candi ini diyakini lebih tua daripada Candi Borobudur dan dianggap sebagai bagian dari warisan Kerajaan Kalingga.
Nama "Candi Angin" merujuk pada kekuatan bangunannya yang teguh, mampu bertahan di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut meski terpapar angin kencang.
Penemuan prasasti Candi Angin oleh Ahmad Junaedi dari Dukuh Duplak Desa Tempur dekat Candi Aso, candi pertama di sana, serta adanya Candi Bubrah, mengungkapkan keberadaan kompleks candi yang menarik perhatian sejak sekitar tahun 2013.
Spekulasi mengenai keterkaitannya dengan Resi Wigotoyoso, yang konon "menciptakan" struktur candi secara mistis dengan batu-batu yang membentuk sendiri, menambahkan nuansa magis pada tempat ini.
Prasasti yang ditemukan di situs ini, kini dipamerkan di Museum Kartini, Jepara, mengandung pesan yang berarti tentang larangan terhadap poligami dalam bahasa Jawa kuno.
Ini mencerminkan aturan sosial dan keagamaan pada zamannya, menegaskan larangan terhadap praktik poligami dan dampaknya terhadap status keturunan dalam masyarakat penganut Dewa Siwa.
Spesifikasi prasasti Candi Angin yang memiliki tinggi 82 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tebal 5 sentimeter menambah nilai sejarah dan keunikan situs ini dalam penelitian arkeologis dan kebudayaan Jawa Tengah. (mah/khim)
Editor : Abdul Rokhim