RADAR KUDUS - Dasun merupakan salah satu Desa di pesisir pantai Kabupaten Rembang yang ternyata pernah eksis pada masa kolonial Belanda.
Kala itu, Dasun dikenal sebagai wilayah yang memiliki kapal galangan.
Baca Juga: Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi Dimutasi ke Kemendag, Ada Masalah Apa?
Sehingga berbagai koran saat itu pernah menyebut Desa Dasun yang berkaitan dengan aktivitas galangan.
Ya, Kabupaten Rembang terkenal dengan pantainya.
Saat ini, ada beragam destinasi wisata unggulan di wilayah yang berada di kawasan pantai utara Jawa ini.
Sebut saja, Pantai Karangjahe, Pantai Pasir Putih Lasem, dan Pantai Caruban Lasem.
Untuk wilayah Desa Dasun, yang juga merupakan kawasan pantai, ternyata memiliki sejarah tersendiri.
Di sana terdapat beberapa peninggalan, salah satunya adalah dok kapal yang lokasinya berada di daerah bantaran sungai.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Desa Dasun, pada masanya, desa yang terletak di Kecamatan Lasem ini merupakan gerbang bagi kebudayaan, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang masuk melalui Sungai Dasun sebelum menyebar ke wilayah pedalaman.
Baca Juga: Gegara Bediang Sapi, Rumah Petani asal Rembang Ini Ludes Terbakar, Rugi Ratusan Juta Rupiah
Di Dasun, dulunya terdapat kapal galangan yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Apalagi masih ada ketika masa kolonial Belanda.
Desa Dasun, yang zaman itu ditulis Dasoen diketehui muncul di peta buatan Belanda tahun 1858 dengan cetakan tebal dan besar.
Sehingga, bisa diartikan saat itu Dasun merupakan wilayah yang diperhitungkan, serta berpengaruh dalam tata kehidupan di Rembang bahkan Hindia Belanda.
Surat Kabar Java-Bode yang terbit pada tanggal 28 Juni 1854 juga pernah menyebut nama Dasun. Penyebutan Dasun menunjukkan nama tempat tujuan sebuah kapal yang berangkat dari Surabaya.
Nama kapal itu adalah Langin Lamongan dengan Kapten Kapal Pa. Sarieman. Hal ini dapat diartikan bahwa pada tahun 1854 kapal Dasun menjadi tempat tujuan besar karena terdapat pabrik galangan kapal dan Pelabuhan Lasem.
Di sana menjadi tempat keluar masuk berbagai komoditas.
Nama Dasun juga pernah tertulis pada Staatkundig en staathuishoudkundig jaarboekje atau Buku Tahunan Politik dan Ekonomi di Hindia Belanda yang terbit pada tahun 1869.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1865, Armada Angkatan Laut Hindia Belanda terdiri dari 361 kapal, dengan 36.777 muatan.
Galangan kapal di Dasoen (Dasun) bisa dianggap penting karena biasanya terdapat 150 hingga 200 pekerja yang bekerja di sana. Sedangkan kapal galangan di Gresik dan Surabaya tidak dalam kondisi baik, sehingga pula di Jepara dan Juwana juga sedang menurun produksinya.
Kondisi demikian memang terjadi pada saat Belanda mulai mengatur penebangan kayu jati sebagai bahan pembuatan perang.
Galangan Kapal Dasun diberi hak istimewa karena dipercaya pemerintah Kolonial Belanda untuk pengadaan armada militer angkatan laut Hindia Belanda.
Akibatnya, penggunaan kayu untuk Galangan Kapal Dasun menjadi prioritas.
Baca Juga: 1.000 Penari Orek-Orek dan Saman Meriahkan Puncak Hari Jadi ke-283 Rembang
Dengan berpatokan pada laporan tersebut, posisi Dasun sebagai tempat pembuatan kapal pada saat itu dianggap sebagai yang terpenting di Hinda Belanda.
Pada tahun 1868 terbit sebuah majalah berjudul Tijdschrift voor Neerland's Indië (Majalah untuk Hindia Belanda). Dalam majalah tersebut tercantum nama Dasoen sebagai tempat pembuatan kapal di sebuah artikel perjalanan seseorang.
Setelah itu banyak sekali surat kabar, laporan pemerintah kolonial, buku-buku ilmiah yang menyebutkan di antaranya kata dasoon, dasoen, dassoen, dan dasson.
Kebanyakan dari mereka memang menyebut Desa Dasun berkaitan dengan keberadaan kapal galangan ataupun suatu peristiwa misalnya banjir di Lasem.
Sumber: dasun-rembang.desa.id
Editor : Noor Syafaatul Udhma