Microsoft Naikkan Harga Lisensi Windows 11, PC Bakal Makin Mahal?

Iwan Arfianto • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:48 WIB
Ilustrasi Windows 11
Ilustrasi Windows 11

 

Jakarta – Harga laptop dan komputer desktop berbasis Windows 11 berpotensi mengalami kenaikan.

Selain biaya komponen yang semakin mahal, produsen PC kini disebut harus menghadapi kenaikan biaya lisensi sistem operasi dari Microsoft.

Kabar tersebut muncul dari laporan media Taiwan United Daily News (UDN).

Seorang eksekutif dari salah satu vendor PC yang identitasnya tidak diungkap menyebut Microsoft kembali menaikkan harga lisensi Windows untuk produsen komputer.

Kenaikan kali ini disebut lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya biaya lisensi Windows biasanya meningkat dalam kisaran satu digit setiap tahun, mulai Juli 2026 rata-rata kenaikannya disebut mencapai 7% hingga 10%.

Besaran biaya lisensi juga tidak sama untuk setiap perangkat.

Menurut sumber UDN, harga lisensi dapat dipengaruhi oleh spesifikasi komputer, termasuk jenis prosesor yang digunakan.

Sebagai contoh, PC yang menggunakan prosesor Intel Core i7 disebut memiliki biaya lisensi lebih tinggi dibandingkan perangkat dengan Intel Core i5.

Harga Laptop dan PC Bisa Ikut Terdongkrak

Kenaikan biaya lisensi Windows berpotensi langsung memengaruhi harga jual komputer.

Pasalnya, sebagian besar laptop dan desktop berbasis Windows yang beredar di pasaran telah menyertakan sistem operasi tersebut sejak keluar dari pabrik.

Produsen tentu perlu memasukkan tambahan biaya tersebut ke dalam perhitungan harga perangkat.

Dampaknya, konsumen berpotensi harus membayar lebih mahal ketika membeli laptop maupun desktop baru.

Di Taiwan, sejumlah vendor PC seperti Asus dan Acer bahkan diperkirakan dapat menaikkan harga perangkat hingga 5% pada kuartal ini.

Kondisi tersebut semakin menambah tekanan terhadap industri PC yang sebelumnya sudah menghadapi lonjakan biaya berbagai komponen.

Krisis Komponen Belum Berakhir

Harga sejumlah komponen komputer, mulai dari memori, penyimpanan, motherboard hingga prosesor, dilaporkan masih mengalami tekanan.

Kondisi tersebut diperkirakan belum akan segera mereda dan dapat berlanjut hingga tahun depan.

Dengan adanya kenaikan biaya lisensi Windows, produsen PC kini menghadapi tambahan beban di luar kenaikan harga komponen.

Sejumlah perusahaan teknologi besar juga telah mengumumkan penyesuaian harga produknya.

Kondisi ini membuat pasar komputer global menghadapi tantangan yang semakin berat.

Berdasarkan prediksi IDC, pengiriman PC secara global diperkirakan mengalami penurunan sekitar 11% sepanjang 2026.

Penurunan diproyeksikan semakin dalam pada kuartal IV 2026, dengan pengiriman PC diprediksi merosot 20% secara tahunan.

Jika tren kenaikan biaya komponen dan lisensi sistem operasi terus berlanjut, harga laptop dan desktop Windows berpotensi semakin tinggi.

Konsumen pun kemungkinan akan semakin mempertimbangkan waktu pembelian maupun spesifikasi perangkat sebelum melakukan upgrade.

Editor : Iwan Arfianto
Krisis Ram microsoft windows 11 pc laptop