Smartphone Murah di AS Terancam Punah, Penjualan Ponsel di Bawah US$100 Anjlok 64 Persen

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:25 WIB
Imbas
Imbas 'Ledakan' AI, Harga Smartphone Terancam Melonjak Tajam Akibat Kelangkaan Chip Memori

RADAR KUDUS - Pasar smartphone Amerika Serikat mulai menunjukkan tekanan yang semakin nyata. Penjualan ponsel sepanjang kuartal II 2026 turun 5 persen secara tahunan, dengan segmen perangkat berharga di bawah US$100 atau sekitar Rp1,6 juta menjadi korban paling parah.

Data terbaru Counterpoint Research menunjukkan pelemahan pasar tidak terjadi secara merata. Tekanan terbesar justru menghantam perangkat murah karena kenaikan harga komponen, terutama memori, membuat produsen semakin sulit mempertahankan harga rendah.

Penjualan smartphone dengan harga di bawah US$100 bahkan anjlok 64 persen dibandingkan kuartal II 2025. Segmen yang selama ini menjadi pintu masuk konsumen berpenghasilan terbatas ke ekosistem smartphone tersebut kini menghadapi tekanan biaya yang jauh lebih besar.

Baca Juga: Galaxy Z Fold8 Lolos Uji Ketahanan, tetapi Masih Menyimpan Masalah Besar Saat Dibongkar

Kondisi ini memperlihatkan perubahan penting dalam peta persaingan smartphone AS. Ketika biaya produksi meningkat, produsen kecil dan merek yang mengandalkan perangkat ultra-murah memiliki ruang yang lebih sempit untuk mempertahankan margin. Sementara itu, perusahaan besar dengan skala produksi, jaringan distribusi, dan kekuatan merek lebih kuat justru memiliki peluang mengambil alih konsumen yang sebelumnya membeli ponsel murah.

Counterpoint mencatat penjualan gabungan Apple, Samsung, Motorola, dan Google hanya turun sekitar 4 persen secara tahunan pada kuartal tersebut. Sebaliknya, kelompok merek lain yang beroperasi di pasar AS mengalami penurunan hingga 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu sinyal paling penting dari laporan ini: krisis smartphone AS bukan sekadar masalah turunnya permintaan, tetapi juga proses konsolidasi yang berpotensi menguntungkan pemain besar.

Tekanan paling terasa di pasar prepaid. Penjualan smartphone melalui kanal prepaid AS secara keseluruhan turun sekitar 11 persen pada kuartal II 2026. Namun, Samsung dan Motorola justru berhasil meningkatkan pangsa mereka di kanal tersebut dengan memanfaatkan melemahnya sejumlah pemain di kelas bawah. Galaxy A Series milik Samsung dan Moto G Series dari Motorola menjadi salah satu pendorong utama strategi tersebut.

Baca Juga: Spesifikasi Lengkap, Kelebihan-Kekurangan Redmi A5: Harga Rp1,5 Jutaan, Kamera 32MP dan Layar 120Hz, Ini

Perubahan ini sebenarnya sejalan dengan tren yang sudah terlihat sejak awal tahun. Pada kuartal I 2026, Counterpoint mencatat pengiriman smartphone AS turun 3 persen secara tahunan. Samsung memiliki pangsa 26 persen, Motorola 10 persen, sedangkan Google berada di 3 persen; Apple tetap menjadi pemimpin pasar dengan pangsa 58 persen.

Salah satu penyebab utama tekanan tersebut adalah krisis pasokan memori global. Kebutuhan memori yang meningkat untuk pusat data dan aplikasi kecerdasan buatan membuat biaya DRAM dan NAND ikut terdorong. Counterpoint sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan biaya memori memberikan tekanan khusus terhadap smartphone kelas bawah dan menengah.

Dampaknya cukup logis. Pada smartphone premium, kenaikan harga komponen masih relatif lebih mudah diserap karena harga jual perangkat sudah tinggi. Sebaliknya, pada ponsel US$50-US$100, tambahan biaya beberapa dolar saja dapat mengubah struktur margin secara signifikan.

Produsen akhirnya menghadapi dua pilihan sulit: menaikkan harga atau memangkas spesifikasi. Keduanya berisiko mengurangi daya tarik perangkat murah di mata konsumen.

Masalahnya, kenaikan harga bukan satu-satunya tekanan terhadap daya beli masyarakat AS. Counterpoint juga mengaitkan kondisi pasar dengan meningkatnya harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi mengurangi ruang belanja rumah tangga untuk barang elektronik non-esensial.

Situasi global memperkuat gambaran tersebut. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone dunia pada kuartal II 2026 turun 11 persen secara tahunan, menjadi capaian kuartal II terlemah sejak 2013. Krisis memori disebut sebagai faktor utama, sementara tekanan ekonomi dan geopolitik ikut memperburuk kondisi permintaan.

Baca Juga: Kode iOS 27 Bocorkan 6 iPhone Baru, iPhone Ultra Lipat Makin Terungkap

Menariknya, pasar premium justru menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Dalam data global Counterpoint, Apple mencatat pertumbuhan pengiriman 3 persen pada kuartal II dan mencapai pangsa 20 persen, sementara Samsung merebut kembali posisi teratas dengan pangsa 24 persen. Sebaliknya, sejumlah produsen yang lebih bergantung pada segmen entry-level dan menengah menghadapi tekanan lebih besar.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa industri smartphone sedang bergerak menuju pasar yang semakin terpolarisasi. Konsumen kelas atas masih memiliki kemampuan membeli perangkat premium, sedangkan konsumen yang sangat sensitif terhadap harga mulai menghadapi pilihan yang semakin sedikit.

Counterpoint juga tidak melihat tekanan harga segera berakhir. Kenaikan average selling price atau ASP diperkirakan masih berlanjut pada kuartal III 2026. Artinya, pasar smartphone AS berpotensi kembali menghadapi tekanan apabila produsen meneruskan kenaikan harga untuk mengompensasi biaya komponen.

Bagi konsumen, dampaknya cukup jelas: ponsel murah semakin sulit ditemukan dengan harga benar-benar murah. Perangkat yang sebelumnya berada di bawah ambang US$100 berpotensi naik kelas harga, sementara produsen kecil yang tidak mampu menanggung kenaikan biaya berisiko mengurangi distribusi atau meninggalkan segmen tersebut.

Dalam situasi seperti ini, Samsung dan Motorola justru berada pada posisi yang relatif lebih menguntungkan. Keduanya memiliki portofolio kuat di kelas menengah dan prepaid, sehingga dapat mengisi ruang yang ditinggalkan merek-merek kecil.

Dengan demikian, penurunan 5 persen pasar smartphone AS pada kuartal II 2026 bukan sekadar angka pelemahan penjualan. Data tersebut memperlihatkan perubahan struktur industri: krisis memori mulai membuat smartphone ultra-murah kehilangan pijakan, sementara pemain besar semakin berpeluang menguasai pasar.

Editor : Mahendra Aditya
pasar smartphone AS 2026 Counterpoint smartphone Q2 2026 smartphone murah Amerika Serikat krisis memori smartphone penjualan smartphone AS