Galaxy Z Fold8 Lolos Uji Ketahanan, tetapi Masih Menyimpan Masalah Besar Saat Dibongkar

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:23 WIB
Galaxy Z Fold8.
Galaxy Z Fold8.

RADAR KUDUS - Galaxy Z Fold8 kembali mendapat sorotan setelah dibongkar oleh iFixit. Di balik desain yang lebih tipis dan bobot hanya 201 gram, ponsel lipat premium Samsung ini ternyata masih menghadapi persoalan serius dalam hal perbaikan, terutama pada layar lipat dan mekanisme engsel.

Dalam penilaian iFixit, Galaxy Z Fold8 memperoleh skor 4 dari 10 untuk aspek repairability atau kemudahan perbaikan. Angka tersebut memang masih tergolong rendah, tetapi sedikit lebih baik dibandingkan Galaxy Z Fold7 yang sebelumnya hanya mendapatkan 3 dari 10. Menurut standar iFixit, skor di bawah 5 menunjukkan perangkat mulai masuk kategori yang lebih sulit diperbaiki dan kemungkinan membutuhkan teknisi profesional.

Masalah terbesar kembali berada di bagian layar utama yang dapat dilipat. Proses melepas bezel plastik di sekitar panel terbukti sangat berisiko. Dalam pembongkaran, bezel pada unit pengujian mengalami kerusakan dan lapisan OLED ikut terdampak hingga membuat panel tersebut tidak dapat digunakan.

Situasi ini menjadi catatan penting karena layar internal merupakan salah satu komponen paling mahal sekaligus paling rumit pada smartphone foldable. Artinya, kerusakan kecil ketika membuka perangkat untuk perbaikan berpotensi berubah menjadi kerusakan pada satu modul layar secara keseluruhan.

Persoalan lain muncul pada engsel. Galaxy Z Fold8 memang mengandalkan Armor FlexHinge yang diklaim Samsung lebih tipis dan kokoh, tetapi perangkat tersebut masih membawa sertifikasi IP48. Standar itu memberikan perlindungan terhadap air dan partikel berukuran tertentu, tetapi bukan perlindungan penuh terhadap debu halus.

Hasil pembongkaran iFixit menunjukkan debu dan serpihan kecil masih dapat mencapai area engsel. Temuan tersebut penting karena engsel menjadi salah satu bagian paling vital pada ponsel yang mekanisme utamanya bergantung pada gerakan buka-tutup berulang. Dalam pengujian yang diberitakan The Verge, paparan debu bahkan dikaitkan dengan munculnya suara bergesekan dan gangguan pada mekanisme pembukaan engsel.

Kondisi tersebut memperlihatkan paradoks Galaxy Z Fold8. Samsung berhasil meningkatkan konstruksi fisik perangkat, termasuk penggunaan dua lapisan titanium di bawah layar untuk membantu meredam benturan, tetapi desain foldable tetap membuat sejumlah komponen lebih rumit untuk ditangani ketika mengalami kerusakan.

Meski demikian, hasil teardown tidak sepenuhnya negatif. iFixit menemukan Samsung menggunakan sekrup Phillips standar, sehingga teknisi tidak membutuhkan jenis obeng khusus untuk membuka bagian internal tertentu. Panel belakang juga relatif mudah dilepas.

Port USB-C menjadi salah satu kabar baik lainnya karena dibuat dalam bentuk modul dan tidak disolder permanen ke papan utama. Dengan desain tersebut, penggantian port yang rusak berpotensi menjadi pekerjaan yang lebih sederhana dibandingkan perangkat dengan port yang terintegrasi langsung ke motherboard.

Baterai juga menggunakan pull tabs yang dirancang untuk membantu proses pelepasan. Namun, komponen tersebut tetap memiliki kelemahan karena bagian tab dapat tertekuk jika tidak ditangani dengan hati-hati. Samsung sendiri membekali Galaxy Z Fold8 dengan baterai silicon-carbon berkapasitas 4.800 mAh dan mengklaim perangkat mampu digunakan untuk pemutaran video hingga 26 jam.

Dari sisi spesifikasi, Galaxy Z Fold8 sebenarnya membawa sejumlah peningkatan. Ponsel ini menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy, layar utama 7,6 inci Dynamic AMOLED 2X dengan refresh rate hingga 120Hz, serta konfigurasi kamera belakang 50MP wide dan 50MP ultrawide. Bobotnya hanya 201 gram, menjadikannya salah satu Galaxy Z Fold paling ringan yang pernah dibuat Samsung.

Namun, kemajuan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan klasik perangkat foldable: semakin kompleks mekanismenya, semakin sulit pula proses perbaikannya.

Galaxy Z Fold8 bahkan bukan satu-satunya foldable Samsung yang menghadapi persoalan tersebut. iFixit sebelumnya telah menunjukkan bagaimana desain layar dan mekanisme lipat menjadi tantangan besar pada generasi Galaxy Fold. Pada Galaxy Fold generasi pertama, misalnya, iFixit hanya memberikan skor repairability 2 dari 10 dan menyoroti risiko kerusakan layar serta rumitnya penggantian baterai.

Karena itu, skor 4/10 pada Galaxy Z Fold8 lebih tepat dilihat sebagai kemajuan bertahap, bukan lompatan besar. Samsung memang membuat beberapa komponen lebih mudah diganti, tetapi layar lipat dan engsel masih menjadi titik lemah utama.

Bagi konsumen, temuan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan dan kemudahan perbaikan merupakan dua hal berbeda. Galaxy Z Fold8 dapat menawarkan bodi yang lebih ringan, engsel yang diperbarui, material lebih kuat, serta perlindungan IP48, tetapi ketika komponen internal mengalami kerusakan, proses perbaikannya belum tentu sederhana atau murah.

Dengan demikian, teardown terbaru iFixit tidak menunjukkan Galaxy Z Fold8 sebagai perangkat yang gagal secara keseluruhan. Justru sebaliknya, Samsung terlihat telah memperbaiki beberapa aspek konstruksi internal. Masalahnya, peningkatan tersebut belum cukup untuk menghilangkan kelemahan mendasar smartphone lipat: layar dan engsel masih menjadi bagian paling sulit sekaligus paling berisiko ketika harus diperbaiki.

Editor : Mahendra Aditya
Galaxy Z Fold8 Samsung Galaxy Z Fold8 teardown Galaxy Z Fold8 iFixit Galaxy Z Fold8 repairability Galaxy Z Fold8