RADAR KUDUS - Apple masih menjadi penguasa pasar smartphone premium global pada paruh pertama 2026. Namun, dominasi tersebut mulai menghadapi tekanan dari produsen China seperti Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor yang terus memperkuat posisi mereka melalui teknologi, harga, serta ekosistem perangkat yang semakin kompetitif.
Data Counterpoint Research menunjukkan smartphone premium dengan harga lebih dari US$600 mencatat pangsa terbesar dalam sejarah pada semester I/2026. Segmen tersebut mencapai sekitar 29% dari keseluruhan pasar smartphone global, menandakan konsumen semakin banyak mengalihkan belanja ke perangkat kelas atas. Apple menjadi pemain terkuat dengan sekitar 65% pangsa pasar premium, sementara Samsung berada di posisi berikutnya dengan 19%.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa posisi iPhone di kelas flagship masih sangat sulit digoyang. Apple bukan hanya unggul dalam volume penjualan perangkat premium, tetapi juga memiliki kekuatan besar dari sisi pendapatan karena harga jual rata-rata produknya berada di atas banyak kompetitor Android.
Baca Juga: Phone 18 Pro dan iPhone Fold Diprediksi Sold Out Saat Pre-Order, Krisis DRAM Hambat Produksi Apple
Meski demikian, ada perubahan penting di balik angka tersebut. Pangsa Apple di pasar premium memang masih sangat besar, tetapi telah menurun dibandingkan periode sebelumnya. Pada 2022, Apple pernah menguasai sekitar 74% segmen premium. Penurunan tersebut menjadi indikasi bahwa produsen China perlahan berhasil merebut sebagian ruang yang sebelumnya hampir sepenuhnya dikuasai iPhone.
Huawei menjadi salah satu penantang paling serius, terutama di pasar domestik China. Berdasarkan data Counterpoint Research, Huawei memimpin pasar smartphone China pada kuartal I/2026 dengan pangsa sekitar 20%, sekaligus mencatat posisi terkuatnya sejak kuartal IV/2020. Apple berada di posisi kedua dengan sekitar 19%, sedangkan Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi juga tetap menjadi pemain utama.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertarungan smartphone premium tidak lagi sekadar Apple versus Samsung. Perusahaan China semakin agresif membangun produk flagship yang menawarkan kamera, layar, performa, baterai, pengisian cepat, hingga teknologi kecerdasan buatan sebagai pembeda.
Huawei bahkan mampu mempertahankan pertumbuhan ketika pasar smartphone China secara keseluruhan mengalami tekanan. Pada kuartal II/2026, pengiriman smartphone China turun 4,3% secara tahunan menjadi sekitar 66 juta unit. Namun, Huawei justru mencatat pertumbuhan pengiriman 19,4%, sedangkan Apple tumbuh 24,4%. Sebaliknya, Xiaomi, Oppo, dan Vivo mengalami penurunan pengiriman pada periode yang sama.
Baca Juga: Cari HP Rp5 Jutaan dengan Kamera Mirip iPhone? Ini Rekomendasi Terbaik Tahun 2026
Situasi ini memperlihatkan bahwa merek China tidak bergerak dalam kondisi yang seragam. Huawei menjadi contoh paling kuat bagaimana produsen lokal dapat bertahan dan bahkan memperluas pangsa ketika pasar sedang melemah. Xiaomi dan Oppo masih memiliki basis pengguna besar, tetapi menghadapi tekanan lebih berat akibat kenaikan biaya komponen dan lemahnya permintaan.
Khusus Xiaomi, tekanan terlihat cukup jelas di pasar China. Data IDC yang dikutip Reuters menunjukkan pengiriman Xiaomi pada kuartal II/2026 turun 21,7% secara tahunan. Oppo dan Vivo juga masing-masing mengalami penurunan 9,7% dan 11,4%. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan harga saja tidak cukup ketika biaya produksi smartphone meningkat.
Salah satu persoalan terbesar industri smartphone tahun ini adalah kenaikan harga komponen memori. Kekurangan pasokan RAM dan komponen terkait membuat biaya produksi meningkat sehingga sejumlah produsen harus memilih antara menaikkan harga, menekan margin, atau mengurangi volume produksi.
Dampaknya terasa di berbagai pasar. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone Indonesia turun 9% secara tahunan pada kuartal I/2026. Namun, segmen premium justru mencapai rekor kontribusi 8,3% dari total pengiriman dan tumbuh 30% secara tahunan. Kenaikan harga perangkat dan pergeseran konsumen menuju kategori premium menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan nilai pasar tersebut.
Di tengah kondisi tersebut, Apple memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap tekanan biaya. Posisi merek yang sangat kuat, ekosistem perangkat, loyalitas pengguna, serta dominasi di kelas premium membuat Apple memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan harga.
Kinerja Apple di China juga menunjukkan bahwa perusahaan asal Cupertino tersebut belum kehilangan daya tarik di pasar yang menjadi basis utama produsen smartphone China. Counterpoint mencatat penjualan smartphone Apple di China meningkat 23% dalam sembilan minggu pertama 2026, ketika pasar secara keseluruhan justru mengalami kontraksi.
Baca Juga: Kapan iPhone 18 Pro dan iPhone Ultra Dirilis? Ini Prediksi Tanggal Event hingga Pre-Order
Pada kuartal pertama 2026, Apple bahkan menjadi salah satu merek dengan pertumbuhan paling kuat di pasar China. Data Counterpoint menunjukkan pengiriman iPhone meningkat sekitar 20% secara tahunan, sementara pasar China secara keseluruhan menyusut 4%. Huawei juga tumbuh, tetapi Apple mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu pemain teratas.
Persaingan selanjutnya akan semakin ditentukan oleh kemampuan setiap produsen menghadapi kenaikan biaya komponen. Merek yang hanya mengandalkan harga murah berpotensi lebih kesulitan, sedangkan perusahaan dengan kekuatan ekosistem, teknologi, dan posisi premium memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan margin.
Apple sendiri juga menghadapi tantangan pasokan. Kenaikan kebutuhan memori dan ketatnya rantai pasok dapat memengaruhi produksi generasi iPhone berikutnya. Namun, tekanan tersebut bukan hanya masalah Apple karena produsen Android juga menghadapi persoalan serupa.
Dengan demikian, dominasi Apple di pasar flagship global belum runtuh. Pangsa sekitar 65% menunjukkan jarak Apple dengan pesaing masih sangat lebar. Tetapi arah persaingan mulai berubah. Huawei semakin kuat di China, sementara Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor terus berupaya meningkatkan posisi di kelas premium.
Pertarungan smartphone flagship ke depan akhirnya bukan sekadar perang spesifikasi. Ekosistem, kecerdasan buatan, kemampuan kamera, efisiensi chipset, teknologi baterai, harga, hingga kekuatan distribusi akan menjadi faktor penentu.
Apple masih berada di kursi terdepan, tetapi merek-merek China mulai menunjukkan bahwa jarak tersebut bisa dipersempit. Jika tren premiumisasi terus berlangsung dan produsen China semakin berhasil mengubah teknologi menjadi alasan pembelian, dominasi iPhone di kelas flagship global berpotensi menghadapi persaingan yang jauh lebih sengit.
Editor : Mahendra Aditya