Motorola Razr Fold Resmi di Indonesia: Layar 8,1 Inci, Kamera 50 MP, Baterai Jumbo, Worth It?

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 09:55 WIB
Motorola Razr Fold 5G
Motorola Razr Fold 5G

RADAR KUDUS - Motorola akhirnya keluar dari zona nyaman. Setelah cukup lama identik dengan smartphone lipat model clamshell melalui keluarga Razr, perusahaan ini untuk pertama kalinya masuk ke arena foldable bergaya buku lewat Motorola Razr Fold.

Kehadirannya menarik perhatian karena Motorola tidak sekadar membuat ponsel yang bisa dilipat menjadi dua. Razr Fold dirancang sebagai perangkat produktivitas sekaligus hiburan dengan layar utama sekitar 8,1 inci, performa Snapdragon 8 Gen 5, tiga kamera belakang 50 MP, serta baterai 6.000 mAh.

Motorola juga sudah membawa Razr Fold ke pasar Indonesia. Perangkat ini resmi diperkenalkan pada 15 Juli 2026 dengan harga retail Rp29.999.000 untuk konfigurasi 12 GB/256 GB. Saat periode pre-order 13-20 Juli, Motorola menawarkan harga khusus Rp25.499.000 dengan skema promo tertentu.

Dengan posisi harga tersebut, Razr Fold langsung berhadapan dengan ponsel lipat premium dari Samsung, Google, Oppo, Vivo, Honor dan pemain lain yang lebih dulu menguasai kategori foldable book-style.

Baca Juga: 7 Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra, Harga Rp44 Jutaan Benarkah Layak?

Namun Motorola membawa beberapa kartu yang cukup agresif. Berikut kelebihan dan kekurangan yang perlu diperhatikan sebelum membeli.

Hal pertama yang membuat Razr Fold menarik adalah dimensinya. Ketika dibuka, perangkat ini memiliki ketebalan sekitar 4,55 mm, sedangkan saat dilipat berada di kisaran 9,89 mm. Bobotnya mencapai 243 gram.

Angka tersebut membuat Razr Fold termasuk sangat tipis untuk perangkat yang membawa layar besar dan baterai 6.000 mAh. Motorola sendiri menjadikan desain tipis sebagai salah satu daya jual utama perangkat ini.

Saat tertutup, pengguna mendapatkan layar luar berukuran sekitar 6,56 inci dengan rasio 21:9. Ukuran tersebut cukup nyaman untuk aktivitas harian seperti membaca pesan, membuka media sosial, menjelajah internet atau mengambil foto tanpa harus membuka layar utama.

Motorola menyediakan pilihan warna PANTONE Blackened Blue dan PANTONE Lily White. Finishing-nya dibuat untuk memberikan kesan premium sekaligus tetap membedakan Razr Fold dari desain foldable kebanyakan.

Di bagian layar, Razr Fold membawa dua panel LTPO pOLED. Layar utama berukuran sekitar 8,09 inci dengan resolusi 2.484 x 2.232 piksel dan refresh rate hingga 120 Hz. Sementara layar cover berukuran sekitar 6,56 inci dengan resolusi 2.520 x 1.080 piksel dan refresh rate hingga 165 Hz.

Layar utama memiliki tingkat kecerahan puncak hingga 6.200 nit, sedangkan layar luar dapat mencapai 6.000 nit dalam kondisi tertentu. Keduanya menggunakan kedalaman warna 10-bit dan dirancang agar tetap mudah dibaca dalam kondisi terang.

Teknologi LTPO juga memungkinkan refresh rate menyesuaikan aktivitas. Saat menampilkan konten statis, layar dapat menurunkan refresh rate untuk membantu efisiensi daya. Ketika digunakan untuk scrolling atau bermain game, refresh rate dapat dinaikkan agar animasi terasa lebih mulus.

Layar utama mendukung resolusi 2K serta HDR10+, sehingga perangkat ini sangat cocok untuk menikmati film, serial, game dan konten multimedia. Motorola juga menggunakan Ultra Thin Glass pada layar bagian dalam, sedangkan layar luar mendapatkan perlindungan Corning Gorilla Glass Ceramic 3.

Baca Juga: 7 Kelebihan dan Kekurangan Samsung Galaxy Z Flip8 yang Wajib Dipertimbangkan Sebelum Beli

Salah satu kejutan terbesar datang dari kamera.

Motorola Razr Fold memiliki tiga kamera belakang dan semuanya menggunakan resolusi 50 MP. Konfigurasinya terdiri dari kamera utama 50 MP Sony LYTIA 828 dengan OIS, kamera ultrawide 50 MP dengan sudut pandang 122,1 derajat yang juga mendukung macro, serta kamera periskop telefoto 50 MP dengan optical zoom 3x dan OIS.

Konfigurasi tersebut menjadi salah satu daya tarik paling kuat karena kamera telefoto periskop 50 MP cukup jarang ditemukan pada ponsel lipat.

Kamera utama menggunakan sensor Sony LYTIA 828 dengan aperture f/1.6. OIS membantu menjaga hasil foto tetap stabil, terutama ketika mengambil gambar dalam kondisi cahaya rendah atau merekam video sambil bergerak.

Kamera ultrawide 50 MP memiliki bidang pandang 122,1 derajat dan juga berfungsi sebagai kamera macro. Sementara kamera periskop 50 MP menawarkan optical zoom 3x untuk memotret objek dari jarak yang lebih jauh.

Untuk selfie, terdapat kamera 32 MP pada layar bagian dalam dan kamera 20 MP pada layar cover. Pengguna juga dapat memanfaatkan kamera belakang untuk mengambil selfie dengan layar luar sebagai preview.

Motorola bahkan menyebut Razr Fold memperoleh rating DXOMARK Gold untuk kemampuan kameranya. Motorola memasarkan perangkat tersebut sebagai salah satu foldable dengan sistem kamera terbaik di kelasnya.

Untuk video, perangkat mampu merekam hingga resolusi 8K 30 fps dan 4K hingga 60 fps. Dukungan Dolby Vision, HDR10+ dan sejumlah fitur pemrosesan gambar turut memperkuat kemampuannya sebagai perangkat pembuatan konten.

Jika kamera menjadi faktor utama dalam membeli foldable, spesifikasi Razr Fold jelas terlihat agresif.

Tetapi senjata terbesar Motorola mungkin justru bukan kamera, melainkan baterai.

Razr Fold membawa baterai silicon-carbon berkapasitas 6.000 mAh. Motorola menyebut kapasitas tersebut sebagai salah satu yang terbesar untuk kategori foldable book-style, sekaligus mencoba menjawab masalah klasik ponsel lipat: daya tahan baterai.

Baca Juga: Review iQOO 15R: Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 7.600 mAh, Seberapa Worth It di Harga Rp8 Jutaan?

Kapasitas besar tersebut menjadi semakin menarik karena perangkat tetap mempertahankan desain yang sangat tipis ketika dibuka.

Pengisian kabel mendukung 80W TurboPower. Motorola juga menyediakan wireless charging hingga 50W dan reverse wireless charging 5W. Dalam klaim resminya, pengisian 80W dapat memberikan lebih dari 12 jam daya tambahan hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.

Dengan kombinasi baterai 6.000 mAh dan fast charging 80W, Razr Fold memiliki keunggulan yang cukup jelas bagi pengguna yang sering bepergian atau bekerja sepanjang hari tanpa ingin terlalu sering mencari colokan.

Untuk performa, Motorola menggunakan Qualcomm Snapdragon 8 Gen 5, bukan Snapdragon 8 Elite Gen 5. Ini merupakan detail penting yang perlu diperhatikan ketika membandingkannya dengan flagship Android lain.

Snapdragon 8 Gen 5 menggunakan CPU octa-core dengan kecepatan hingga 3,8 GHz dan GPU Qualcomm Adreno A829. Chip tersebut dibuat menggunakan proses manufaktur 3 nm dan dipadukan dengan RAM LPDDR5X.

Pilihan memorinya berbeda berdasarkan pasar, tetapi konfigurasi yang tersedia mencakup RAM hingga 16 GB dan penyimpanan UFS 4.1. Di sejumlah pasar, Motorola menawarkan konfigurasi 16 GB/512 GB, sementara pasar tertentu memiliki varian 12 GB/256 GB.

Dengan spesifikasi tersebut, Razr Fold mampu menangani multitasking, pengeditan foto-video, game berat dan pekerjaan produktivitas dalam satu perangkat.

Motorola juga menyematkan sistem pendinginan untuk membantu menjaga performa ketika perangkat digunakan dalam kondisi berat. Namun, seperti semua smartphone tipis, performa dalam sesi gaming panjang tetap dapat dipengaruhi temperatur dan kondisi penggunaan.

Layar 8,1 inci tidak hanya digunakan untuk menonton film. Motorola memanfaatkannya untuk multitasking.

Perangkat dapat menjalankan hingga tiga aplikasi secara bersamaan pada layar utama, baik dalam susunan berdampingan maupun bertumpuk.

Fitur tersebut membuat Razr Fold lebih masuk akal bagi pengguna yang bekerja dengan banyak aplikasi sekaligus. Misalnya, browser dapat dibuka bersama aplikasi catatan dan aplikasi komunikasi tanpa harus terus berpindah layar.

Baca Juga: Review iQOO 15R: Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 7.600 mAh, Seberapa Worth It di Harga Rp8 Jutaan?

Motorola juga menghadirkan desktop mode melalui USB-C DisplayPort 1.2. Artinya, perangkat dapat dihubungkan ke monitor eksternal untuk pengalaman kerja yang lebih mendekati komputer.

Untuk pengguna profesional, kemampuan seperti ini bisa menjadi salah satu alasan utama memilih foldable Motorola.

Motorola juga membawa sejumlah fitur AI melalui moto ai dan integrasi Google Gemini. Fitur seperti Catch Me Up dirancang untuk merangkum pesan dan notifikasi yang terlewat, sementara Next Move dapat memberikan saran berdasarkan konteks aktivitas pengguna.

Ada pula Image Studio yang memungkinkan pengguna membuat atau memodifikasi visual menggunakan AI. Dengan layar utama yang luas, fitur semacam ini lebih nyaman digunakan dibandingkan pada layar smartphone konvensional.

Razr Fold juga memiliki AI Key sebagai tombol pintasan untuk mengakses sejumlah fungsi AI.

Untuk pengguna kreatif, Motorola menyediakan Moto Pen Ultra. Aksesori ini dapat digunakan untuk menulis, menggambar, membuat anotasi atau mengendalikan kamera. Di beberapa pasar, Moto Pen Ultra bahkan masuk dalam paket penjualan perangkat.

Ini menjadi nilai tambah besar karena layar 8,1 inci memang lebih cocok untuk aktivitas yang membutuhkan presisi seperti membuat catatan, menggambar dan mengedit dokumen.

Namun, pengguna tetap perlu memperhatikan ketersediaan aksesori dan paket penjualan berdasarkan wilayah.

Motorola juga tidak mengabaikan kualitas audio.

Razr Fold menggunakan speaker stereo dengan dukungan Dolby Atmos dan tuning Sound by Bose. Motorola mengklaim sistem audio tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman lebih imersif ketika digunakan menonton film atau mendengarkan musik.

Dengan layar 8,1 inci dan speaker stereo, perangkat ini memang lebih menyerupai tablet mini ketika dibuka.

Dari sisi konektivitas, Razr Fold sudah mendukung 5G, Wi-Fi 7, Bluetooth 6.0, NFC dan UWB. Port USB-C menggunakan USB 3.2 Gen 1 dan mendukung DisplayPort 1.2.

Untuk keamanan, terdapat sensor sidik jari serta face unlock. Jack audio 3,5 mm tidak tersedia sehingga pengguna harus mengandalkan perangkat Bluetooth atau koneksi USB-C.

Ketahanan fisiknya juga cukup menarik karena Motorola mencantumkan perlindungan IP49 pada Razr Fold. Namun, calon pembeli sebaiknya tidak menyamakan IP49 dengan ketahanan total terhadap semua kondisi air dan debu.

Dokumentasi Motorola di beberapa pasar juga mencantumkan rating perlindungan tambahan seperti IP48, sehingga detail sertifikasi dapat berbeda menurut varian wilayah.

Karena itu, klaim ketahanan sebaiknya dibaca berdasarkan sertifikasi yang tercantum pada unit resmi di negara tempat perangkat dibeli.

Soal pembaruan software juga perlu diperhatikan karena kebijakan Motorola dapat berbeda berdasarkan pasar. Dokumentasi Motorola untuk beberapa wilayah menyebut dukungan hingga tujuh tahun, sementara halaman dukungan Amerika Serikat mencantumkan komitmen keamanan yang berbeda.

Artinya, calon pembeli di Indonesia sebaiknya memeriksa kebijakan dukungan software yang berlaku untuk unit resmi Indonesia, bukan hanya mengacu pada informasi dari negara lain.

Di sisi lain, ada beberapa kompromi yang tetap harus diterima.

Pertama, bobot 243 gram membuat Razr Fold bukan perangkat yang bisa disebut ringan. Meski bodinya sangat tipis, ukuran layar dan baterai besar tetap menghasilkan bobot yang lebih tinggi dibandingkan smartphone biasa.

Kedua, harga Rp29.999.000 untuk varian 12 GB/256 GB menempatkannya langsung di wilayah flagship premium. Harga promo Rp25.499.000 pada masa pre-order memang lebih menarik, tetapi promo tersebut memiliki periode dan ketentuan tersendiri.

Ketiga, Snapdragon 8 Gen 5 bukan Snapdragon 8 Elite Gen 5. Jadi jangan terkecoh ketika membandingkan nama chipsetnya dengan foldable premium lain yang menggunakan varian Elite.

Keempat, layar lipat tetap memiliki risiko dan karakteristik yang berbeda dari layar smartphone biasa. Meski teknologi engsel, kaca ultra-tipis dan material pendukung sudah berkembang pesat, pengguna tetap perlu lebih berhati-hati terhadap tekanan, benda tajam, pasir dan debu.

Kelima, tidak semua fitur atau konfigurasi memori tersedia secara sama di setiap negara. Motorola sendiri mencantumkan spesifikasi berbeda berdasarkan pasar, termasuk pilihan RAM, penyimpanan dan kebijakan update.

Meski memiliki sejumlah kompromi, Motorola Razr Fold berhasil membuat debut yang cukup berani di pasar foldable book-style.

Ponsel ini tidak mencoba menang hanya lewat satu spesifikasi. Motorola menggabungkan layar utama 8,1 inci, layar luar 6,6 inci, tiga kamera 50 MP, baterai 6.000 mAh, fast charging 80W, wireless charging 50W, Snapdragon 8 Gen 5, dukungan stylus, AI, desktop mode dan audio Sound by Bose.

Kombinasi tersebut membuat Razr Fold terasa seperti perangkat yang dirancang untuk pengguna yang ingin satu gadget menangani pekerjaan, hiburan, fotografi dan aktivitas kreatif sekaligus.

Yang paling mencolok adalah keberanian Motorola memasangkan baterai 6.000 mAh dengan bodi yang hanya sekitar 4,55 mm ketika dibuka. Jika klaim daya tahan dan efisiensi tersebut terbukti dalam pemakaian sehari-hari, Razr Fold berpotensi mengubah persepsi bahwa ponsel lipat selalu identik dengan baterai kecil.

Namun, harga hampir Rp30 juta membuat perangkat ini tetap berada di wilayah eksklusif. Bagi pengguna yang hanya membutuhkan smartphone untuk komunikasi, media sosial dan kamera, foldable seperti ini mungkin terlalu mahal.

Sebaliknya, bagi pengguna yang benar-benar membutuhkan layar besar untuk multitasking, menginginkan kamera lengkap dengan telefoto periskop, membutuhkan baterai besar dan menyukai fleksibilitas perangkat lipat, Motorola Razr Fold menawarkan paket yang sangat menarik.

Motorola memang datang belakangan ke pasar foldable model buku. Tetapi debut pertamanya tidak bisa dianggap sebagai percobaan biasa. Razr Fold hadir dengan spesifikasi yang agresif dan membawa satu pesan yang cukup jelas: Motorola tidak lagi hanya ingin menjadi pemain di pasar ponsel lipat clamshell, tetapi juga ingin merebut perhatian di kelas foldable premium.

Editor : Mahendra Aditya
Motorola Razr Fold harga Motorola Razr Fold spesifikasi Motorola Razr Fold Motorola Razr Fold Indonesia kelebihan kekurangan Motorola Razr Fold