RADAR KUDUS - Samsung Galaxy Z Flip8 resmi menjadi bagian dari generasi terbaru ponsel lipat Samsung yang diperkenalkan pada Galaxy Unpacked 2026. Dibandingkan generasi sebelumnya, perangkat ini memang tidak membawa perubahan desain yang ekstrem.
Namun, Samsung memberikan sejumlah penyempurnaan yang justru menyentuh pengalaman penggunaan sehari-hari, mulai dari bodi yang lebih tipis, FlexWindow yang semakin fungsional, performa Exynos 2600, hingga fitur kamera untuk pembuat konten.
Di Indonesia, Galaxy Z Flip8 hadir dengan dua pilihan penyimpanan, yakni 256 GB dan 512 GB, keduanya dipadukan RAM 12 GB. Harga pre-order resminya dimulai dari Rp17.999.000.
Lalu, apakah Galaxy Z Flip8 benar-benar layak dibeli, atau justru masih menyimpan sejumlah kompromi yang cukup besar? Berikut tujuh hal penting yang perlu diperhatikan sebelum mengeluarkan uang untuk ponsel lipat terbaru Samsung ini.
-
Bodi lebih tipis dan ringan menjadi salah satu perubahan yang paling mudah dirasakan. Galaxy Z Flip8 memiliki dimensi 166,9 x 75,4 x 6,1 mm ketika dibuka dan 85,7 x 75,4 x 13,1 mm saat dilipat. Bobotnya hanya 180 gram.
Samsung menyebut perangkat ini 8 gram lebih ringan dibandingkan Galaxy Z Flip7. Ketebalan 6,1 mm ketika terbuka juga membuatnya menjadi salah satu ponsel flip paling ramping yang pernah dibuat Samsung. Armor Aluminum pada rangka serta penyempurnaan Armor FlexHinge turut menjadi bagian dari konstruksi perangkat.
Baca Juga: vivo Y05e: Spesifikasi Lengkap, Kelebihan-Kekurangan, dan Harga Rp2 Jutaan, Layak Dibeli?
Perubahan tersebut mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi terasa penting untuk perangkat yang memang mengandalkan konsep ringkas. Saat dilipat, Galaxy Z Flip8 lebih mudah dimasukkan ke saku atau tas kecil tanpa terasa terlalu membebani.
Kelebihan ini menjadi semakin menarik bagi pengguna yang menginginkan ponsel flagship tanpa harus membawa perangkat berukuran besar.
-
FlexWindow akhirnya terasa seperti layar kedua, bukan sekadar tempat melihat notifikasi.
Samsung mempertahankan ukuran layar luar 4,1 inci dengan resolusi 1.048 x 948 piksel. Namun, pengalaman penggunaannya dibuat jauh lebih fleksibel melalui optimasi One UI 9.
Kini, layar luar tidak lagi sekadar menjadi tempat mengecek jam, notifikasi atau widget. Pengguna dapat melakukan lebih banyak aktivitas langsung dari layar tersebut, termasuk mengakses aplikasi dan menjalankan berbagai fungsi tanpa harus selalu membuka perangkat.
Samsung juga mengembangkan pengalaman berbasis AI seperti Now Brief dan Now Nudge. Now Brief dapat menyajikan informasi yang relevan sepanjang hari, sedangkan pengalaman berbasis AI dapat membantu menampilkan informasi kontekstual sesuai aktivitas pengguna.
Bagi pengguna yang ingin mengurangi kebiasaan membuka ponsel berulang kali, peningkatan FlexWindow ini menjadi salah satu alasan paling kuat untuk mempertimbangkan Flip8.
-
Exynos 2600 menjadi mesin baru yang membawa peningkatan performa.
Khusus model yang dipasarkan di Indonesia, Samsung secara resmi mencantumkan Exynos 2600 sebagai prosesor Galaxy Z Flip8. Chip tersebut menggunakan CPU deca-core dengan kecepatan hingga 3,8 GHz dan dipadukan dengan peningkatan pada CPU, GPU serta NPU.
Samsung mengklaim CPU Galaxy Z Flip8 meningkat sekitar 30 persen, performa GPU naik 25 persen, sedangkan kemampuan NPU untuk pemrosesan AI meningkat hingga 41 persen dibandingkan Galaxy Z Flip7. Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan generasi ini tidak hanya diarahkan untuk aplikasi biasa, tetapi juga untuk pemrosesan AI dan grafis.
Perlu dicatat, konfigurasi chipset Galaxy Z Flip8 memang berbeda berdasarkan pasar. Karena itu, pembeli perlu memperhatikan varian wilayah ketika membaca review atau benchmark dari luar Indonesia. Samsung Indonesia sendiri secara jelas mencantumkan Exynos 2600 untuk perangkat yang dijual di pasar lokal.
Baca Juga: Review iQOO 15R: Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 7.600 mAh, Seberapa Worth It di Harga Rp8 Jutaan?
-
Kamera bukan mengalami revolusi hardware, tetapi kemampuan videonya mendapat dorongan besar.
Galaxy Z Flip8 membawa kamera utama 50 MP f/1.8 dengan OIS dan kamera ultrawide 12 MP f/2.2. Kamera depan menggunakan sensor 10 MP. Secara konfigurasi dasar, sistem kamera ini masih sangat dekat dengan generasi sebelumnya.
Namun, Samsung lebih memilih memperkuat kemampuan komputasi dan fitur pengambilan gambar.
Salah satu yang menarik adalah Horizontal Lock. Fitur ini dirancang untuk membantu menjaga orientasi video tetap stabil ketika perangkat mengalami rotasi atau perubahan posisi. Ada pula Super Steady, FlexCam dan Dual Recording yang membuat Flip8 semakin cocok digunakan untuk membuat konten.
Desain lipatnya juga memberikan keuntungan yang sulit ditiru smartphone konvensional. Galaxy Z Flip8 dapat berdiri dalam posisi tertentu sehingga pengguna bisa merekam foto atau video tanpa tripod tambahan. Samsung memang memosisikan FlexCam sebagai salah satu fitur penting untuk pengambilan konten hands-free.
Jadi, kalau prioritas utama kamu adalah membuat konten untuk media sosial, nilai tambah Flip8 justru terletak pada kombinasi desain lipat dan software kamera, bukan semata-mata jumlah megapiksel.
-
Baterai lebih besar tanpa membuat bodi menjadi lebih tebal.
Ini menjadi salah satu peningkatan yang cukup menarik. Galaxy Z Flip8 menggunakan baterai berkapasitas tipikal 4.300 mAh dan Samsung mengklaim daya tahan pemutaran video hingga 31 jam.
Kapasitas tersebut lebih besar dibandingkan Galaxy Z Flip7. Yang membuatnya menarik adalah Samsung tetap mampu menjaga bodi dalam kondisi tipis dan bobot 180 gram.
Pengisian dayanya masih berada di angka 25W. Artinya, pengguna yang berharap lompatan besar dalam teknologi fast charging mungkin akan merasa peningkatannya belum terlalu agresif dibandingkan beberapa kompetitor.
Flip8 juga tetap menawarkan pengisian nirkabel dan Wireless PowerShare untuk mengisi perangkat pendukung tertentu. Jadi dari sisi fleksibilitas, perangkat ini cukup lengkap, meskipun kecepatan charging bukan yang paling menonjol di kelas flagship.
-
Ketahanan air tetap menjadi nilai tambah, tetapi jangan salah memahami sertifikasi IP48.
Galaxy Z Flip8 mengantongi sertifikasi IP48. Angka tersebut menunjukkan perangkat memiliki perlindungan terhadap benda padat berukuran tertentu sekaligus ketahanan terhadap perendaman air dalam kondisi pengujian yang ditentukan.
Namun, IP48 tidak sama dengan IP68. Pada perlindungan terhadap partikel padat, angka 4 berarti tingkat perlindungannya lebih rendah dibandingkan angka 6 pada perangkat yang memiliki sertifikasi IP68.
Ini penting karena mekanisme ponsel lipat memiliki engsel dan struktur bergerak yang membuat perlindungan terhadap partikel kecil menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pengguna tetap perlu menghindari paparan debu berlebihan, pasir, dan kondisi lingkungan yang berpotensi masuk ke celah perangkat.
Dengan kata lain, jangan menganggap IP48 berarti Galaxy Z Flip8 kebal terhadap air dan debu. Sertifikasi tersebut merupakan perlindungan tambahan, bukan izin untuk memperlakukan ponsel seperti perangkat tahan segala kondisi.
-
Konektivitas lengkap dan fitur AI membuat Flip8 terasa lebih siap untuk penggunaan jangka panjang.
Untuk konektivitas, Galaxy Z Flip8 mendukung jaringan 5G, Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4 dan NFC. Perangkat ini juga membawa USB Type-C serta berbagai sensor yang dibutuhkan untuk navigasi dan penggunaan sehari-hari.
Samsung juga menambahkan berbagai kemampuan Galaxy AI, termasuk Photo Assist yang memungkinkan pengguna melakukan pengeditan foto dengan bantuan AI. Bahkan, Samsung menyediakan kemampuan pengeditan berbasis prompt sehingga pengguna dapat memberikan instruksi teks untuk melakukan perubahan tertentu pada foto.
Kombinasi AI, layar luar yang semakin fungsional dan desain foldable membuat Galaxy Z Flip8 bukan sekadar ponsel yang bisa dilipat. Samsung jelas sedang berusaha menjadikan perangkat ini sebagai smartphone utama yang tetap praktis ketika digunakan dalam kondisi tertutup.
Namun, ada satu kelemahan yang cukup sulit diabaikan: kamera fisiknya tidak mengalami peningkatan besar. Kamera utama 50 MP dan ultrawide 12 MP masih menjadi kombinasi yang sama seperti generasi sebelumnya. Kamera selfie bagian dalam juga tetap 10 MP.
Kondisi ini menjadi masalah terutama bagi pengguna Galaxy Z Flip7 yang berharap peningkatan fotografi signifikan. Jika kamu sudah memiliki Flip7 dan alasan utama upgrade adalah kamera, perubahan pada Flip8 mungkin belum cukup kuat.
Persaingan juga semakin ketat. Motorola Razr Ultra 2026, misalnya, membawa kamera utama 50 MP dan kamera ultrawide 50 MP serta kamera depan 50 MP. Artinya, dari sisi spesifikasi kamera mentah, Flip8 tidak berada di posisi paling agresif.
Harga juga menjadi pertimbangan serius. Di Indonesia, harga pre-order Galaxy Z Flip8 dimulai dari Rp17.999.000. Dengan harga tersebut, calon pembeli perlu menentukan apakah mereka benar-benar membutuhkan pengalaman ponsel lipat atau hanya mencari smartphone flagship dengan kamera dan performa terbaik.
Bagi pengguna Galaxy Z Flip6 atau generasi yang lebih lama, peningkatan desain, performa, layar luar dan fitur AI bisa terasa lebih masuk akal. Sebaliknya, pemilik Flip7 perlu berpikir lebih panjang karena sejumlah komponen utama masih sangat mirip.
Pada akhirnya, Galaxy Z Flip8 bukan produk yang mencoba mengubah formula ponsel flip secara total. Samsung justru memilih menyempurnakan bagian yang sebelumnya terasa kurang matang. Bodi dibuat lebih tipis, FlexWindow dibuat lebih berguna, performa ditingkatkan, kemampuan AI diperluas, sementara fitur kamera dan pengisian daya masih relatif konservatif.
Strategi tersebut membuat Galaxy Z Flip8 menarik untuk pengguna baru yang ingin masuk ke dunia ponsel lipat tanpa terlalu banyak kompromi. Tetapi untuk pemilik generasi sebelumnya, terutama Flip7, keputusan upgrade sangat bergantung pada seberapa penting desain lebih tipis, FlexWindow, performa Exynos 2600 dan fitur kamera berbasis AI bagi kebutuhan sehari-hari.
Dengan harga mulai Rp17,999 juta, Galaxy Z Flip8 bukan sekadar membeli spesifikasi. Kamu juga membayar pengalaman menggunakan smartphone flagship yang dapat berubah menjadi perangkat berukuran sangat ringkas ketika dilipat. Dan justru di situlah daya tarik terbesar sekaligus alasan utama mengapa ponsel ini masih layak dipertimbangkan.
Editor : Mahendra Aditya