RADAR KUDUS - Indonesia mengambil langkah strategis dalam memperkuat transformasi digital nasional setelah resmi bergabung sebagai anggota World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Keikutsertaan ini ditandai dengan penandatanganan deklarasi pendirian organisasi kerja sama internasional tersebut oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Shanghai, Tiongkok, bersama perwakilan dari sekitar 30 negara lainnya.
Bergabungnya Indonesia ke dalam WAICO menjadi tonggak penting dalam pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Tanah Air. Pemerintah menilai AI tidak lagi sekadar menjadi teknologi masa depan, tetapi telah berkembang menjadi salah satu pilar utama yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing ekonomi nasional di tengah percepatan transformasi digital global.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan memperluas implementasi AI ke berbagai sektor strategis. Teknologi tersebut diproyeksikan memberikan manfaat besar dalam mendukung modernisasi pertanian, mempercepat transisi energi bersih, meningkatkan pengelolaan energi terbarukan, hingga memperkuat layanan kesehatan berbasis digital.
Selain sektor-sektor tersebut, pemanfaatan AI juga diharapkan semakin luas pada bidang pendidikan, industri manufaktur, logistik, pelayanan publik, keuangan digital, hingga pengembangan kota pintar (smart city). Berbagai negara telah membuktikan bahwa penerapan AI mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan berbasis data.
Menurut Airlangga, potensi ekonomi digital Indonesia masih sangat besar. Saat ini nilai ekonomi digital nasional diperkirakan mencapai sekitar 130 miliar dolar Amerika Serikat dan diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Dengan pemanfaatan AI secara optimal, pertumbuhan ekonomi digital diyakini dapat berlangsung lebih cepat melalui peningkatan produktivitas di berbagai sektor usaha.
Pemerintah menilai keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga memerlukan dukungan infrastruktur digital yang kuat. Salah satu fokus utama adalah pembangunan dan penguatan pusat data (data center) di dalam negeri agar pengelolaan data dapat dilakukan secara lebih aman, cepat, dan efisien.
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penguasaan keterampilan di bidang kecerdasan buatan, analisis data, keamanan siber, dan komputasi awan dinilai menjadi kebutuhan utama agar Indonesia mampu bersaing dalam ekonomi digital global.
Sebagai tindak lanjut keanggotaan WAICO, pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna menyusun kebijakan yang mendukung pengembangan AI secara terintegrasi. Kolaborasi tersebut mencakup penyusunan regulasi, pengembangan talenta digital, peningkatan riset dan inovasi, serta kerja sama internasional dalam bidang teknologi.
Keikutsertaan Indonesia dalam WAICO juga membuka peluang lebih luas untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan teknologi dengan negara-negara anggota lainnya. Melalui organisasi ini, Indonesia dapat memperluas kolaborasi penelitian, investasi teknologi, hingga pengembangan standar tata kelola AI yang aman, transparan, dan bertanggung jawab.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang terus mempercepat agenda transformasi digital nasional. Berbagai kebijakan telah dijalankan, mulai dari pembangunan jaringan internet berkecepatan tinggi, pengembangan pusat data nasional, digitalisasi layanan pemerintahan, hingga penyusunan strategi nasional kecerdasan artifisial sebagai pedoman pengembangan teknologi AI di Indonesia.
Pemanfaatan AI juga dipandang memiliki peran penting dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan. Di sektor pertanian, teknologi ini dapat digunakan untuk memantau kondisi lahan, memprediksi cuaca, mengoptimalkan penggunaan pupuk, serta meningkatkan hasil panen melalui analisis data secara real time. Pada sektor energi, AI mampu membantu efisiensi distribusi listrik, pengelolaan energi terbarukan, hingga pemantauan konsumsi energi.
Sementara di bidang kesehatan, kecerdasan buatan berpotensi mempercepat proses diagnosis penyakit, mendukung analisis citra medis, membantu pengembangan layanan telemedicine, serta meningkatkan efektivitas sistem pelayanan kesehatan berbasis digital. Berbagai inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap teknologi.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa pengembangan AI harus tetap memperhatikan aspek etika, perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi algoritma, serta akuntabilitas penggunaan teknologi. Tata kelola yang baik dinilai menjadi faktor penting agar pemanfaatan AI memberikan manfaat maksimal tanpa menimbulkan risiko baru bagi masyarakat.
Dengan bergabungnya Indonesia dalam WAICO, pemerintah berharap posisi Indonesia semakin kuat dalam ekosistem teknologi global. Kolaborasi internasional ini tidak hanya menjadi momentum untuk mempercepat transformasi digital nasional, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kecerdasan buatan di kawasan Asia Tenggara sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional di era digital.
Editor : Mahendra Aditya