Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Sekadar Teknologi, AI Kini Jadi Senjata Geopolitik setelah AS Blokir Fable 5 dan Mythos 5

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 14 Juni 2026 | 09:08 WIB
Anthropic AI
Anthropic AI

JAKARTA – Satu keputusan dari Washington mengguncang lanskap kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global. Bukan karena lahirnya teknologi baru, melainkan karena akses terhadap teknologi tersebut mendadak diputus.

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan memerintahkan perusahaan AI Anthropic untuk menghentikan akses dua model AI paling mutakhir mereka, yakni Fable 5 dan Mythos 5, bagi seluruh warga negara asing. Kebijakan yang disebut didasari pertimbangan keamanan nasional itu langsung memicu kekhawatiran di Eropa dan berbagai belahan dunia.

Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa di era AI, ketergantungan terhadap teknologi asing dapat berubah menjadi kerentanan strategis.

Menurut pernyataan resmi Anthropic, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan arahan pengendalian ekspor (export control directive) yang mewajibkan penghentian akses Fable 5 dan Mythos 5 kepada seluruh warga negara non-Amerika, baik yang berada di dalam maupun di luar wilayah AS.

Kebijakan tersebut juga berlaku bagi karyawan Anthropic berkewarganegaraan asing.

Perintah itu diterima perusahaan pada Jumat petang, 12 Juni 2026 waktu setempat, dan harus diterapkan segera.

Akibatnya, peneliti, rumah sakit, perusahaan teknologi, lembaga pendidikan, hingga institusi publik di berbagai negara yang sebelumnya memanfaatkan kedua model AI tersebut mendadak kehilangan akses.

Yang terputus bukan sekadar layanan digital.

Yang diputus adalah akses menuju teknologi yang diyakini akan menentukan keseimbangan kekuatan ekonomi, militer, dan geopolitik pada abad ke-21.

Apa Itu Fable 5 dan Mythos 5?

Fable 5 dan Mythos 5 merupakan generasi terbaru model AI yang dikembangkan Anthropic.

Mythos 5 disebut sebagai model inti dengan kemampuan komputasi dan penalaran paling tinggi. Model ini dirancang untuk membantu berbagai kebutuhan kompleks, mulai dari riset ilmiah, pengembangan perangkat lunak, analisis data skala besar, hingga otomasi industri.

Sementara itu, Fable 5 dibangun di atas fondasi Mythos 5 dengan tambahan lapisan pengamanan guna membatasi potensi penyalahgunaan, khususnya dalam aktivitas siber berisiko tinggi.

Ironisnya, usia kedua model tersebut terbilang singkat.

Beberapa hari setelah diperkenalkan ke publik, akses global terhadap keduanya justru dihentikan.

Anthropic menjelaskan bahwa pemerintah AS mengetahui adanya kemungkinan metode jailbreak atau upaya menembus pembatasan keamanan pada Fable 5.

Namun, hasil evaluasi internal perusahaan menyebut teknik tersebut hanya dapat bekerja dalam skenario yang sangat terbatas.

Menurut Anthropic, celah tersebut tidak memungkinkan pengguna membuka seluruh kemampuan model secara bebas. Bahkan, sebagian kemampuan yang dapat diakses melalui metode itu disebut telah tersedia di berbagai model AI lain yang beredar di pasar.

Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat tetap mempertahankan keputusannya.

Anthropic akhirnya memilih mematuhi ketentuan hukum yang berlaku, meskipun secara tersirat menyatakan bahwa potensi ancaman tersebut belum tentu sebanding dengan langkah penghentian akses secara menyeluruh.

Eropa Panik: Kita Terlalu Bergantung

Keputusan Washington memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh politik Eropa.

Mantan Menteri Dalam Negeri Prancis sekaligus figur yang digadang maju dalam pemilihan presiden 2027, Bruno Retailleau, menyebut insiden tersebut sebagai alarm bagi seluruh negara Eropa.

"Dalam perlombaan AI, negara yang bergantung pada teknologi negara lain bisa diputus dari jaringan dalam semalam," ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan kekhawatiran yang selama ini luput dari perhatian banyak negara.

Selama bertahun-tahun, Eropa menikmati manfaat dari inovasi teknologi yang dikembangkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa akses tersebut pada akhirnya tetap berada di bawah kendali negara asal teknologi tersebut.

Menteri Negara Prancis untuk Urusan Eropa, Benjamin Haddad, bahkan menilai Eropa tidak bisa selamanya menjadi pasar yang hanya mengonsumsi inovasi pihak lain.

"Benua ini harus menguasai teknologi yang akan menentukan keseimbangan kekuatan abad ke-21," tegasnya.

Nada serupa juga muncul dari Inggris.

Anggota parlemen Inggris sekaligus mantan Menteri Negara untuk Angkatan Bersenjata, Al Carns, mengungkapkan bahwa banyak institusi di negaranya telah menggunakan model AI tersebut.

Para peneliti memanfaatkannya untuk riset, perusahaan mengujinya untuk pengembangan produk, sementara rumah sakit menjalankan proyek percontohan berbasis AI.

"Sekarang tidak lagi," katanya singkat.

Kalimat sederhana itu menyiratkan persoalan yang jauh lebih besar.

Ketika satu keputusan pemerintah asing mampu menghentikan aktivitas berbagai sektor penting di negara lain, maka isu yang dipertaruhkan bukan sekadar inovasi, melainkan kedaulatan.

Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam cara dunia memandang AI.

Jika sebelumnya kecerdasan buatan diperlakukan sebagai instrumen produktivitas dan peluang bisnis, kini AI mulai dipandang sebagai infrastruktur strategis setara listrik, internet, hingga energi.

Mantan Perdana Menteri Prancis, Édouard Philippe, mengingatkan bahwa apabila model AI dan daya komputasi dikuasai pihak lain, maka infrastruktur tersebut sewaktu-waktu dapat dimatikan.

Geert Wilders di Belanda menyebut AI telah berkembang menjadi isu kedaulatan nasional.

Sementara mantan Menteri Keamanan Inggris, Tom Tugendhat, menilai kedaulatan modern kini lebih banyak ditentukan oleh kode komputer dibandingkan senjata konvensional.

"Teknologi yang mengubah peperangan membuat kedaulatan lebih berkaitan dengan kode daripada senjata," ujarnya.

Selama dua dekade terakhir, dunia terbiasa bergantung pada layanan digital global yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.

Ketergantungan itu sebelumnya dianggap sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi.

Namun, era AI menghadirkan tantangan berbeda.

Teknologi ini tidak hanya membantu manusia mengakses informasi, tetapi juga berpotensi mengambil peran dalam proses pengambilan keputusan di sektor kesehatan, pendidikan, keamanan siber, pertahanan, hingga ekonomi.

Karena itu, semakin banyak negara mulai berbicara tentang "kedaulatan AI".

Eropa meningkatkan dukungan terhadap perusahaan teknologi lokal. China memperkuat ekosistem AI domestiknya. Negara-negara lain mulai berinvestasi dalam pusat data nasional dan kemampuan komputasi sendiri.

Persaingan global pun memasuki fase baru.

Jika dahulu pertarungan terjadi pada penguasaan platform digital dan data pengguna, kini pertaruhannya jauh lebih besar: siapa yang mengendalikan model AI, infrastruktur komputasi, dan hak untuk menentukan siapa yang boleh mengakses teknologi tersebut.

Kasus penghentian Fable 5 dan Mythos 5 menunjukkan satu kenyataan pahit.

Di masa depan, kekuatan sebuah negara mungkin tidak lagi hanya diukur dari besarnya ekonomi, jumlah pasukan, atau cadangan energi.

Melainkan dari seberapa besar kendalinya atas kecerdasan buatan yang menggerakkan dunia—dan siapa yang memegang tombol "off".

Editor : Mahendra Aditya
#Anthropic AI #Fable 5 #Mythos 5 #kedaulatan AI #AI Amerika Serikat