RADAR KUDUS - Tiongkok semakin agresif memanfaatkan teknologi antariksa untuk memperkuat sistem pemantauan emisi karbon nasional. Langkah ini dilakukan guna mendukung target besar negara tersebut mencapai puncak emisi sebelum 2030 dan netral karbon atau net zero emission pada 2060.
Penguatan sistem observasi ini terlihat dari peluncuran berbagai satelit dan instrumen pemantau gas rumah kaca yang kini terintegrasi dalam jaringan pengamatan luar angkasa nasional milik Tiongkok. Pemerintah menilai data emisi yang akurat menjadi fondasi penting dalam menentukan kebijakan iklim dan pengendalian karbon di masa depan.
Salah satu perkembangan terbaru dilakukan melalui pengiriman perangkat ilmiah menggunakan wahana kargo Tianzhou-10 menuju stasiun luar angkasa Tiongkok. Muatan tersebut membawa alat pendeteksi emisi berpresisi tinggi yang mampu memonitor karbon dioksida dan metana dari berbagai sumber emisi utama di dunia.
Baca Juga: Mercedes-Benz eEconic Makin Diminati, Frankfurt Tambah Armada Truk Sampah Listrik
Instrumen tersebut dirancang menghasilkan data dengan frekuensi tinggi untuk mendukung proses pemantauan, verifikasi, hingga pelaporan perubahan konsentrasi gas rumah kaca secara lebih detail. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas data lingkungan dibanding metode konvensional berbasis estimasi aktivitas industri.
National Space Science Center di bawah Chinese Academy of Sciences menyatakan bahwa teknologi observasi terbaru itu akan memperkuat program “dual carbon” Tiongkok sekaligus memperbesar kontribusi data satelit negara tersebut dalam upaya global menghadapi perubahan iklim.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok memang terus memperluas kemampuan pemantauan atmosfer dari luar angkasa. Sebelumnya, negara itu meluncurkan satelit berbasis lidar atmosfer yang disebut sebagai sistem deteksi aktif-pasif pertama di dunia untuk memonitor gas rumah kaca.
Teknologi tersebut memungkinkan observasi atmosfer secara lebih menyeluruh, termasuk mengukur pola distribusi emisi dan dinamika perubahan karbon global. Pendekatan ini dianggap mampu memberikan gambaran lebih akurat dibanding sistem pemantauan tradisional.
Pada 2022, Tiongkok juga mengorbitkan satelit pemantauan lingkungan atmosfer yang kemudian pada 2024 berhasil mencapai tingkat akurasi pengukuran karbon dioksida hingga 1 ppm secara global. Kemampuan tersebut menjadi tonggak penting dalam pengumpulan data jangka panjang terkait perubahan iklim lintas wilayah.
Perjalanan pengembangan teknologi pemantauan karbon Tiongkok sebenarnya telah dimulai sejak peluncuran satelit TanSat pada 2016. Satelit yang ditempatkan di orbit sinkron matahari itu menjadi pionir sistem observasi karbon dioksida global milik Tiongkok.
Data dari TanSat kemudian dimanfaatkan dalam berbagai kerja sama internasional, termasuk riset bersama Finlandia untuk validasi data lintas negara. Kolaborasi tersebut memperkuat posisi Tiongkok dalam pengembangan teknologi pemantauan iklim berbasis satelit.
Di sisi lain, kebutuhan akan data emisi yang lebih akurat juga meningkat sejak Tiongkok mengoperasikan pasar perdagangan karbon nasional pada 2021. Saat ini, sistem tersebut disebut sebagai pasar karbon terbesar di dunia berdasarkan volume emisi yang diperdagangkan.
Keberadaan pasar karbon membuat penghitungan emisi harus dilakukan secara presisi. Karena itu, data satelit mulai digunakan untuk melengkapi bahkan menggantikan metode perhitungan berbasis estimasi yang selama ini dinilai kurang detail.
Zhu Wenshan dari China Aerospace Science and Technology Corporation mengakui bahwa satelit meteorologi generasi sebelumnya seperti Gaofen dan Fengyun memang telah memiliki kemampuan memantau karbon, namun tingkat akurasinya belum cukup untuk kebutuhan pemantauan emisi secara menyeluruh.
Selain memonitor sumber emisi, Tiongkok juga mulai fokus pada pengawasan penyerap karbon alami. Melalui satelit Goumang yang diluncurkan pada 2022 dan mulai beroperasi penuh pada 2024, negara tersebut memantau biomassa vegetasi, produktivitas ekosistem, hingga distribusi aerosol atmosfer.
Sistem ini membantu mengukur kapasitas penyerapan karbon dari hutan dan vegetasi secara lebih sistematis, sehingga pemerintah dapat mengetahui keseimbangan antara emisi dan serapan karbon nasional.
Tidak hanya pemerintah, sektor swasta di Tiongkok juga mulai masuk ke industri pemantauan karbon berbasis antariksa. Perusahaan rintisan Dyscienc yang berbasis di Ningbo misalnya, tengah mengembangkan konstelasi 28 satelit untuk memantau sumber emisi dan area penyerap karbon.
Perusahaan tersebut menargetkan peluncuran satelit pertamanya sebelum akhir 2026. Ambisinya adalah menciptakan sistem pemantauan karbon global hampir secara real-time sebelum 2030.
Langkah besar ini memperlihatkan bagaimana Tiongkok berupaya membangun dominasi dalam teknologi pemantauan iklim berbasis antariksa, sekaligus memperkuat perannya dalam agenda global penanganan perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon dunia.
Editor : Mahendra Aditya