RADAR KUDUS - Operator transportasi umum asal Inggris, First Bus, resmi memulai uji coba sistem smart charging untuk armada bus listrik mereka di Glasgow, Skotlandia. Teknologi ini dirancang untuk menyelaraskan proses pengisian daya kendaraan dengan periode ketika produksi energi terbarukan sedang melimpah.
Program tersebut disebut menjadi uji coba pertama di Inggris yang menerapkan pengisian daya responsif terhadap kondisi jaringan listrik khusus untuk bus listrik.
First Bus menjalankan proyek ini bersama perusahaan teknologi energi Optimo Energy. Setelah tahap awal di Glasgow, pengujian nantinya juga akan diperluas ke depot First Bus di Great Yarmouth, Norfolk.
Pengisian Daya Disesuaikan dengan Kondisi Jaringan Listrik
Dalam sistem ini, platform milik Optimo Energy akan mengatur jadwal pengisian daya berdasarkan kondisi jaringan listrik secara real-time.
Meski pengisian dilakukan secara fleksibel mengikuti pasokan energi, perusahaan memastikan armada bus tetap siap digunakan untuk operasional harian.
Konsep smart charging ini memungkinkan bus listrik mengisi daya saat produksi energi terbarukan, seperti tenaga angin, sedang tinggi. Cara tersebut membantu menyerap kelebihan energi yang sebelumnya berpotensi terbuang.
Selain itu, sistem juga membantu mengurangi tekanan pada jaringan listrik saat jam-jam konsumsi puncak.
Skotlandia Dinilai Cocok untuk Uji Coba
Skotlandia dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki produksi energi angin yang besar, meski sifatnya tidak selalu stabil.
Kondisi tersebut membuat wilayah ini menjadi tempat ideal untuk menguji teknologi pengisian daya pintar yang mampu menyesuaikan diri dengan fluktuasi pasokan listrik terbarukan.
Saat ini, First Bus diketahui telah mengoperasikan lebih dari 1.400 kendaraan listrik dan menjadi salah satu operator bus listrik terbesar di Inggris.
Bus Listrik Dinilai Bisa Bantu Stabilitas Energi
CEO sekaligus pendiri Optimo Energy, Daniel Homoki-Farkas, menyebut armada kendaraan listrik memiliki potensi besar dalam membantu menciptakan sistem energi yang lebih fleksibel.
Menurutnya, pengaturan waktu pengisian daya secara cerdas memungkinkan operator transportasi merespons kebutuhan jaringan listrik secara langsung.
Strategi ini dinilai mampu mengurangi pemborosan energi terbarukan, menekan biaya sistem listrik, serta memaksimalkan penggunaan infrastruktur yang sudah ada.
Berpotensi Masuk Pasar Fleksibilitas Energi
Selain fokus pada pengisian pintar, First Bus juga ingin menguji kemungkinan depot bus listrik ikut berpartisipasi dalam pasar fleksibilitas listrik.
Jika berhasil, langkah tersebut dapat membuka peluang pendapatan tambahan bagi operator transportasi sekaligus membantu target pengurangan emisi karbon Inggris.
Jadi Pondasi Teknologi Vehicle-to-Grid
Proyek smart charging ini juga dianggap sebagai langkah awal menuju pengembangan teknologi vehicle-to-grid atau V2G.
Teknologi V2G memungkinkan kendaraan listrik tidak hanya mengonsumsi listrik, tetapi juga mengirimkan kembali energi yang tersimpan di baterai ke jaringan saat permintaan sedang tinggi.
Armada bus listrik dinilai sangat cocok untuk sistem seperti ini karena memiliki jadwal operasional yang teratur dan kapasitas baterai besar.
Inggris Semakin Serius Kembangkan Transportasi Ramah Lingkungan
Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris terus mempercepat adopsi kendaraan listrik untuk transportasi publik sebagai bagian dari target pengurangan emisi nasional.
Skotlandia sendiri kini menjadi salah satu wilayah penting dalam pengembangan teknologi transportasi ramah lingkungan berkat tingginya penggunaan bus, pertumbuhan armada listrik, dan pasokan energi terbarukan yang melimpah.
Melalui uji coba ini, First Bus berharap smart charging dapat menjadi solusi masa depan yang membantu menciptakan sistem transportasi publik yang lebih efisien, hemat energi, dan rendah emisi karbon.
Editor : Mahendra Aditya