RADAR KUDUS - Jika dulu Google menjadi pintu utama ketika seseorang mencari jawaban, kini kebiasaan itu mulai berubah — terutama pada generasi yang lahir antara 1997–2012.
Mereka tidak hanya ingin membaca data, tetapi ingin melihat pengalaman nyata dari orang lain melalui bentuk visual, suara, ekspresi, hingga emosi yang terekam dalam video.
Perubahan cara mencari informasi ini menjadi sinyal penting terutama bagi pemilik usaha dan pelaku marketing digital.
Cara audiens muda menilai kepercayaan terhadap informasi bergerak ke arah baru — dan brand yang tidak beradaptasi bisa tertinggal.
Baca Juga: TikTok Geser Platform Lain, Jadi Media Sosial Nomor Satu di Indonesia 2025
Kenapa Gen Z Lebih Memilih TikTok?
Jawaban singkatnya: konten terasa lebih real.
Jika Google seperti ensiklopedia yang rapi dan formal, TikTok adalah teman nongkrong yang cerita apa adanya.
Pengguna bisa melihat makanan dicicipi, mendengar rekomendasi dengan ekspresi tulus, atau melihat pengalaman produk digunakan secara nyata — bukan sekadar tulisan.
3 Faktor Utama Pergeseran Ini
1. Konten Autentik Lebih Meyakinkan
Gen Z tumbuh di era digital penuh iklan, filter, dan konten yang dipoles.
Karena itu, mereka lebih percaya review jujur dengan kualitas video sederhana dibanding artikel panjang yang terkesan formal dan “dipromosikan.”
2. Algoritma TikTok Lebih Personal
Tidak seperti Google yang berbasis kata kunci, TikTok mempelajari preferensi pengguna melalui aktivitas tontonan.
Semakin lama pengguna melihat jenis konten tertentu, makin banyak konten serupa yang muncul.
Hal ini membuat pengguna merasa konten tersebut “tepat buat aku.”
3. Format Video Lebih Emosional
Menurut laporan HubSpot, video pendek memberikan return terbesar di media sosial karena audio dan visual dapat memengaruhi emosi lebih cepat dibanding teks.
Dampak Pada Bisnis & Marketing
Perubahan ini menuntut brand untuk beradaptasi. Jika dulu fokusnya hanya SEO, kini muncul istilah baru: SSO (Social Search Optimization) — optimasi konten agar muncul di pencarian TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.
Data dari Hootsuite menunjukkan brand yang aktif memproduksi konten video pendek memiliki peningkatan engagement hingga 54% lebih tinggi dibanding yang hanya mengandalkan konten visual statis.
Dengan lebih dari 121 juta pengguna TikTok di Indonesia, platform ini menjadi salah satu pasar terbesar bagi brand untuk membangun awareness dan kedekatan emosional dengan audiens muda.
Tips untuk Brand di Era “TikTok Search”
-
Gunakan storytelling dalam format video pendek
-
Kolaborasi dengan kreator mikro atau nano influencer
-
Tampilkan review asli, bukan skrip promosi
-
Buat konten edukatif yang ringan dan relevan
Brand yang tampil sederhana, jujur, dan relatable justru lebih mudah dipercaya.
Baca Juga: Gen Z dan Tantangan Hoaks: Cara Jitu Memilah Fakta di Era Digital
Kesimpulan
Fenomena Gen Z yang lebih memercayai TikTok daripada Google menunjukkan perubahan pola kepercayaan digital.
Kini, informasi yang dianggap valid bukan hanya yang berasal dari otoritas, tetapi yang terasa nyata dan berasal dari pengalaman pribadi.
Di era ini, kepercayaan bukan hanya soal keberadaan, tapi tentang koneksi yang terasa personal dan autentik.(laura)
Editor : Ali Mustofa