RADARKUDUS - Zaman teknologi dahulu aplikasi Line pernah mengalahkan BBM, namun sekarang justru dikalahkan dengan WhatsApp.
Dari Bencana Jadi Super App
LINE lahir tahun 2011 di Jepang, tepat setelah gempa dan tsunami besar yang bikin jaringan telepon lumpuh total. Tapi, ternyata, di situasi yang sekritis itu, internet data masih nyala.
Dari situ, tim NHN Japan (anak perusahaan NAVER) kepikiran buat bikin aplikasi chat darurat yang tetep jalan meski SMS atau telpon mati.
Siapa sangka, ide darurat ini justru jadi fondasi bagi LINE buat berkembang jadi super app.
Indonesia Pernah Jadi Pengguna LINE Terbesar Ke-2 di Dunia
Pada tahun 2014, Indonesia resmi jadi pasar terbesar kedua LINE setelah Jepang, dengan lebih dari 30 juta pengguna.
Waktu itu, LINE lagi hits banget di kalangan anak muda Indonesia.
Masa Kejayaan: LINE Jadi Raja Chatting di Indonesia.
LINE muncul di timing yang tepat, pas BBM mulai ditinggalkan.
Aplikasi ini benar-benar cepet naik daun karena tidak hanya sekedar untuk saling chat, tapi juga memberikan ekosistem hiburan yang inovatif dan lengkap.
Bayangin aja, di tahun segitu, ada aplikasi yang bisa memberikan kombinasi fitur chatting, video call, stiker lucu yang relatable, game hits seperti Get Rich dan Cookie Run, sampai Webtoon.
Mereka juga jago membuat campaign lokal yang bikin orang Indonesia merasa deket.
Bisa dibilang, saat itu LINE sukses membuat orang merasa punya "dunia sendiri" dalam satu aplikasi.
Fitur Segunung Bikin HP Kentang Kewalahan
Ambisi LINE untuk menjadi super app bikin aplikasinya semakin berat, apalagi di era 2010-an ketika mayoritas orang Indonesia masih pakai HP "kentang" dengan RAM terbatas.
Hasilnya? Aplikasi sering nge-lag, boros memori, dan memakan kuota gede.
Sementara WhatsApp dateng dengan resep sederhana yang ringan, cepat, bisa jalan di hampir semua HP, bahkan yang low-end sekalipun.
Jago Kandang Bukan Jaminan
Di tahun 2016, LINE sebenarnya masih cukup besar dengan 218 juta pengguna aktif bulanan (MAU).
Tapi angka itu kalah jauh dibanding WhatsApp yang sudah tembus 1 miliar.
Masalah makin jelas ketika ketauan jika hampir 70% pengguna LINE cuma datang dari 4 negara aja: Jepang, Taiwan, Thailand, dan Indonesia.
Ketergantungan seperti gini bikin LINE cenderung "jago kandang" ketimbang global player.
Sejarah sudah membuktikan, jika aplikasi yang terlalu sempit pasarnya sangat mudah untuk tumbang, contohnya Friendster dan Path.
Game LINE: Dari Get Rich 7/10 ke 'Game Over'. Game LINE seperti Let's Get Rich dan Cookie Run dulu sempat jadi primadona.
Sayangnya, game mobile makin kompetitif.
Munculnya Mobile Legends tahun 2016 dan PUBG di 2017 bikin game LINE makin ditinggalkan, dan itu menggerus salah satu daya tarik utama mereka.
Lomba Kura-kura vs Kelinci ala Telegram dan LINE
Telegram muncul tahun 2013, lebih muda 2 tahun dibanding LINE.
Di awal kemunculannya, Telegram memang jalannya pelan.
Tahun 2014 aja, saat LINE udah punya 181 juta pengguna aktif bulanan, Telegram masih di kisaran 35 juta.
Seiring berjalannya waktu, tahun 2016, saat LINE mulai terkikis dari WhatsApp pun, Telegram baru pecah telor di 100 juta pengguna.
Tapi menariknya, di 2025 ini Telegram terus tumbuh hingga 1 miliar pengguna aktif bulanan, sementara LINE untuk sampai 500 juta saja belum kesampaian.
Gaun Paling Bagus Jarang Dipake Setiap Hari
Di awal, LINE jago banget mainin branding lewat karakter LINE Friends, stiker lucu, iklan lokal, bh sampe merchandise yang ikonis.
Tapi pada akhirnya, orang balik lagi ke kebutuhan dasar komunikasi.
Hanya sekedar ngobrol sehari-hari, kita butuh aplikasi yang cepet, simpel, dan hemat kuota.
Di situ WhatsApp menang telak. Pelajaran pentingnya: branding bisa bikin orang jatuh cinta, tapi kalo core value produknya tidak relevan sama kebutuhan sehari-hari, lama-lama orang bakal move on juga.
Editor : Ali Mustofa