RADARKUDUS - Benarkah teknologi membebaskan manusia? Sejak ditemukannya, teknologi sering dipandang sebagai alat netral yang mempermudah hidup dan memberi kebebasan.
Namun menurut Heidegger, teknologi bukan sekadar instrumen ataupun alat mempermudah, namun hadir sebagai Gestell, sebuah cara yang membingkai pandangan kita terhadap dunia
Sungai, hutan, bahkan manusia sendiri tidak lagi hanya ada, mereka berubah menjadi sumber daya yang siap dimanfaatkan.
Gestell perlahan mengubah pengalaman kita terhadap realitas: semuanya menjadi terukur, terprogram, dan fungsional.
Tanpa disadari, kita kehilangan spontanitas, kesadaran mendalam, dan kemampuan sederhana untuk merasakan dunia tanpa menilai atau mengontrolnya.
Gestell memperlihatkan kekuatan dan efisiensi teknologi, tetapi dirinya juga menyimpan pesan yang sulit diabaikan.
Ketika segala sesuatu hanya dilihat sebagai sarana, kita melupakan makna, keindahan, dan hubungan tulus dengan alam maupun sesama.
Momen-momen sederhana, seperti mendengar hujan, menatap pohon, atau duduk merenung, bisa tersapu cara pandang yang terlalu mekanis.
Gestell membuat manusia seolah terprogram, berinteraksi, bekerja, dan berpikir mengikuti logika alat, bukan hati dan refleksi pribadi.
Kesimpulan nya: kemajuan teknologi tidak menjamin kebebasan manusia.
Agar teknologi benar-benar bermakna, kita harus menyeimbangkan efisiensi dengan kesadaran eksistensial.
Sebelum mengukur, memanfaatkan, atau mengendalikan dunia, manusia perlu merasakan, menghargai, dan menyadari keberadaan dunia ini secara penuh.
Gestell bukan sekadar kritik terhadap teknologi, tetapi juga panggilan bagi manusia untuk tetap mempertahankan kemanusiaannya, agar kita tidak hanya hidup, tetapi merasakan dan memahami hidup dengan sepenuh hati. (*)
Editor : Mahendra Aditya