Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bukan Google Lagi, ChatGPT & TikTok Jadi Mesin Pencari Favorit Gen Z

Redaksi Radar Kudus • Senin, 29 September 2025 | 21:48 WIB

Gen Z pengguna media sosial
Gen Z pengguna media sosial

Radar Kudus - Generasi Z di Indonesia kini tak lagi sekadar menjadi pengikut tren. Mereka mulai membentuk identitas baru yang lebih autentik, selektif, serta sadar akan tujuan hidup. Perubahan ini bukan hanya memengaruhi gaya hidup, melainkan juga cara mereka mengonsumsi informasi digital.

Sebuah laporan bertajuk “Indonesian Gen Z: Redefining the Rules of Relevance” yang dirilis pada April 2025 mengungkap wawasan menarik soal pola pikir Gen Z.

Laporan ini disusun melalui survei serta diskusi kelompok terarah dengan 100 responden Gen Z di Indonesia.

Baca Juga: Media Sosial Geser Google: Cara Gen Z Mencari Informasi Brand

Menurut Soniya Ana, PR Manager Cheil Indonesia, temuan tersebut menjadi acuan penting bagi industri untuk lebih memahami generasi muda ini. “Gen Z kini tidak sekadar mengikuti tren, tetapi menilai apa yang benar-benar relevan dan berarti bagi mereka,” jelasnya.

Definisi “Keren” Versi Gen Z

Berbeda dengan generasi sebelumnya, ukuran keren di mata Gen Z bukan lagi soal viralitas semata. Mereka justru mengagumi keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Data survei mencatat, 67% responden menaruh respek pada sosok yang hidup sesuai prinsipnya.

Menariknya, istilah FOMO (Fear of Missing Out) kini mengalami pergeseran makna. Bagi Gen Z, FOMO lebih dimaknai sebagai “Filter On My Own”, yakni memilih apa yang relevan bagi kehidupan pribadi, bukan ikut-ikutan tren semata.

Strategic Planner Cheil Indonesia, Dhiny Puspitasari, menambahkan bahwa generasi ini memadukan nilai modern dengan tradisi. “Brand harus hadir lebih dalam, bukan sekadar kampanye mencolok, tapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kompleks mereka,” ungkapnya.

Dari Google ke TikTok dan ChatGPT

Salah satu perubahan besar adalah cara Gen Z mencari informasi. Bila dulu Google menjadi rujukan utama, kini peran itu bergeser ke TikTok dan ChatGPT.

“Kadang aku pakai ChatGPT cuma buat ngerapiin pikiran, entah soal masalah serius atau sekadar pilih buah yang bagus,” tutur Tasya (24), salah satu responden survei.

Gen Z menjadikan ChatGPT sebagai semacam asisten pribadi digital, sementara TikTok berfungsi sebagai kompas visual. Dua platform ini bukan hanya memberi jawaban cepat, tetapi juga menghadirkan koneksi emosional dan pengalaman yang relatable.

Hidup Sehat dan Sadar Lingkungan

Selain cara mengakses informasi, gaya hidup Gen Z juga mengalami transformasi. Mereka mengutamakan pola hidup sehat dan ramah lingkungan. Sebanyak 67,1% responden memilih aktivitas sosial tanpa alkohol.

Baca Juga: Gen Z Dominasi Penggunaan AI di Indonesia, Literasi Masih Jadi PR Besar

Kebiasaan seperti tidur cukup, pola makan sehat, hingga olahraga ringan namun konsisten menjadi bagian dari identitas mereka.

Fenomena sosial seperti tren “Kesenjangan Sosial di TikTok” juga mencerminkan bagaimana Gen Z mampu merayakan perbedaan dengan humor, empati, dan nilai kebersamaan.

Tantangan bagi Brand

Bagi industri, fenomena ini memberi sinyal penting: relevansi tidak lagi sekadar soal viralitas, melainkan koneksi yang bermakna. Brand yang ingin dekat dengan Gen Z harus menghadirkan keaslian, nilai sosial, serta pengalaman yang relevan dengan keseharian mereka.

Editor : Mahendra Aditya
#Gen Z #tiktok #ChatGPT #Gya hidup digital #google #Perkembangan zaman