RADAR KUDUS - Semakin pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat banyak orang mulai bergantung pada teknologi ini, termasuk dalam pengambilan informasi.
Sayangnya, tidak sedikit pengguna yang menggunakannya tanpa melakukan verifikasi ulang.
CEO OpenAI, Sam Altman, mengingatkan publik untuk tidak menaruh kepercayaan secara mutlak pada ChatGPT.
Baca Juga: Ledakan Gas Guncang Apartemen di Jakbar, Satu Penghuni Alami Luka, Begini Kronologinya
Menurutnya, meski populer, chatbot ini masih kerap menghasilkan informasi yang keliru atau mengada-ada.
“Banyak orang punya tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap ChatGPT, padahal AI bisa berhalusinasi. Ini justru jenis teknologi yang seharusnya Anda sikapi dengan skeptis,” kata Altman dalam sebuah podcast yang dikutip dari *Mint*, Rabu (9/7/2025).
Istilah ‘halusinasi’ dalam konteks AI mengacu pada kebiasaan model seperti ChatGPT menciptakan informasi fiktif secara meyakinkan.
Fenomena ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti bias dalam data pelatihan, kurangnya pemahaman terhadap dunia nyata, serta tekanan sistem untuk selalu menyusun jawaban yang masuk akal.
Dalam kesempatan tersebut, Altman juga menyinggung soal potensi anak-anaknya dibanding AI.
Ia mengakui saat ini mereka belum lebih pintar dari teknologi tersebut, namun optimistis mereka kelak bisa melampaui generasi sebelumnya.
“Mereka akan tumbuh menjadi individu yang jauh lebih unggul dan mampu melakukan hal-hal luar biasa yang bahkan belum terpikirkan saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Tren Workout 12-3-30 vs Jalan Kaki 10 Ribu Langkah per Hari, Mana yang Lebih Efektif?
Saat ditanya mengenai kemungkinan penyematan iklan di ChatGPT, Altman menilai hal itu sulit untuk direalisasikan.
Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menolak ide tersebut, bahkan menyampaikan kekagumannya terhadap sistem iklan yang diterapkan Instagram.
“Saya rasa iklan di Instagram cukup menarik saya sendiri sering membeli barang dari sana. Tapi saya pikir akan sangat menantang untuk menerapkannya dengan tepat di ChatGPT,” jelasnya.
Altman menambahkan, jika pun iklan diterapkan, hal itu harus dilakukan tanpa mengganggu pengalaman pengguna.
Ia menekankan bahwa penerapannya perlu pembuktian yang kuat dan harus membawa manfaat yang jelas tanpa merusak performa model bahasa besar (LLM). (Octa Afriana A)
Editor : Ali Mustofa