Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Blackberry Kembali Diburu Gen Z, Apa yang Mendorong Tren Ini?

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 20 Juni 2025 | 18:23 WIB
ilustrasi ponsel blackberry yang populer pada tahun 2000-an
ilustrasi ponsel blackberry yang populer pada tahun 2000-an

RADAR KUDUS - Ponsel klasik Blackberry yang sempat merajai pasar pada awal 2000-an kini kembali menarik perhatian kalangan muda, khususnya Generasi Z.

Apa yang membuat mereka tertarik kembali?

Fenomena ini ramai diperbincangkan di platform media sosial TikTok. Tagar #blackberry telah digunakan lebih dari 126 ribu kali.

Mengutip laporan dari The New York Post (12 Juni), pencarian dengan kata "Blackberry" di TikTok memperlihatkan ribuan video dari Gen Z yang membeli Blackberry bekas melalui situs e-commerce atau memamerkan koleksi milik orang tua yang kemudian mereka hias, sekaligus menunjukkan keyboard fisik khas yang mengeluarkan suara klik, cocok untuk konten ASMR.

“Saya sudah bosan dengan produk Apple, dan rela menukar segalanya demi sebuah Blackberry!” tulis salah satu warganet.

Pengguna lain juga membagikan tips mencari Blackberry lama di situs seperti Facebook Marketplace, eBay, dan Back Market sebagai pengganti ponsel pintar modern mereka.

Salah satu daya tarik utama bagi Gen Z memilih kembali ke Blackberry adalah harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan iPhone.

Jika dibandingkan dengan harga iPhone keluaran terbaru yang bisa mencapai puluhan juta rupiah, Blackberry dinilai sebagai alternatif yang masuk akal oleh banyak anak muda.

Selain faktor harga, meningkatnya gerakan "anti-smartphone" juga menjadi alasan.

Gerakan ini menjadi cara untuk lebih terkoneksi dengan dunia nyata dan mengurangi konsumsi digital secara berlebihan.

Detoks dari dunia digital

“Smartphone kini bukan lagi sumber kebahagiaan,” ujar Pascal Forget, kolumnis teknologi asal Montreal kepada CBC News.

“Dulu menyenangkan, sekarang banyak orang yang kecanduan, sehingga mereka rindu pada masa-masa lebih sederhana saat teknologi belum terlalu mendominasi,” tambahnya.

Meski lahir dan besar di era digital, generasi muda seperti Gen Z, bahkan sebagian Generasi Alpha, mulai menyadari bahwa ketergantungan terhadap smartphone sudah sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan studi dari Pew Research Center pada 2024, hampir setengah dari remaja saat ini mengaku hampir selalu terhubung secara daring.

Ini meningkat signifikan dibanding satu dekade lalu, ketika hanya 24 persen remaja menyatakan hal yang sama.

Sebagian bahkan melaporkan mengalami sensasi getaran palsu seolah mendapat notifikasi, dan lainnya mengatakan menekan tombol power sudah menjadi kebiasaan refleks semata.

“Ini membentuk pola di mana saya merasa cemas, membuka smartphone, lalu membenci diri sendiri karena melakukannya — yang justru menambah kecemasan,” ujar Charlie Fisher, mahasiswa 20 tahun, kepada USA Today.

Dalam upayanya untuk melakukan detoks digital, Fisher memutuskan untuk beralih dari iPhone ke ponsel lipat.

Sejak saat itu, ia mengaku tidak pernah menyesali keputusannya.

“Saya merasa seperti kembali ke masa kecil,” ujar Fisher mengenai gaya hidupnya yang kini lebih sederhana dan minim teknologi.

“Kita jadi benar-benar memperhatikan lingkungan sekitar apa adanya, dan emosi kita bisa terhubung langsung dengan realitas.”

Ponsel lipat dan teknologi awal 2000-an seperti Blackberry tidak hanya lebih murah.

Menurut sebagian besar Gen Z, perangkat ini membantu mereka menghabiskan waktu yang lebih berkualitas bersama keluarga dan teman.

Baca Juga: Efek Baik Detoks Digital terhadap Kondisi Kesehatan Jiwa Anda

Juga mengeksplorasi hobi baru di luar kebiasaan scrolling tanpa henti atau binge-watching, serta menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Meski begitu, penggunaan Blackberry lama bukan tanpa kendala. Sistem operasinya resmi dihentikan pada 4 Januari 2022.

Dengan berakhirnya dukungan tersebut, Blackberry juga menghentikan layanan utamanya, termasuk fungsi penting pada ponsel.

Ketidaksiapan Blackberry dalam menghadapi dominasi iPhone dan Android turut menyebabkan perusahaan ini gagal bertahan di persaingan pasar ponsel pintar saat ini. (Octa Afriana A)

Editor : Ali Mustofa
#smartphone #generasi muda #daring #iphone #blackberry #Gen Z #remaja #Digital