Lazarus, Group Hacker Asal Korea Utara Diduga Terlibat dalam Peretasan Platform Kripto Indodax: Kerugian Capai 282 Miliar
Mahendra Aditya Restiawan• Kamis, 12 September 2024 | 18:20 WIB
ilustrasi Hacker (Image by Pixabay)
RADAR KUDUS - Kasus peretasan di dunia kripto kembali mencuat, dan kali ini Lazarus Group, sebuah grup peretas asal Korea Utara, menjadi sorotan.
Mereka dicurigai sebagai pihak yang bertanggung jawab atas dugaan peretasan di platform pertukaran aset kripto asal Indonesia, Indodax.
Berikut adalah rangkuman poin-poin penting mengenai kasus ini.
Transaksi Mencurigakan di Indodax
Perusahaan keamanan Web3, Cyvers, melaporkan bahwa transaksi mencurigakan terdeteksi di platform Indodax pada 11 September 2024.
Sekitar 150 transaksi aset kripto diidentifikasi sebagai bagian dari dugaan serangan ini.
Transaksi tersebut melibatkan pengiriman token dari dompet yang mencurigakan, yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran atas keamanan platform tersebut.
Kerugian Mencapai US$18,2 Juta
Menurut laporan Cyvers, nilai kerugian dari dugaan peretasan ini mencapai US$18,2 juta atau sekitar Rp282,1 miliar.
Alamat yang mencurigakan tersebut diketahui telah menyimpan sebesar US$14,4 juta, yang kemudian diubah menjadi Ether (ETH).
Peretasan ini menarik perhatian karena besarnya nilai yang dicuri dan kompleksitas transaksi yang terlibat.
Lazarus Group Jadi Tersangka Utama
Grup peretas Lazarus dari Korea Utara menjadi tersangka utama dalam kasus ini.
Yosi Hammer, Head of AI dari Cyvers, menyatakan bahwa pola dan karakteristik serangan ini sangat mirip dengan metode yang sering digunakan oleh Lazarus.
Sebelumnya, grup ini juga terlibat dalam berbagai peretasan platform kripto besar lainnya, termasuk CoinsPaid.
Investigasi masih berlangsung untuk memastikan keterlibatan mereka secara pasti.
Pola Pencucian Uang yang Terorganisir
Analisis lebih lanjut yang dilakukan oleh PeckShield mengungkapkan bahwa aset kripto hasil dari peretasan ini telah disebar di berbagai jaringan blockchain.
Sebanyak 5.204 ETH disimpan di jaringan Ethereum, 6,8 juta POL di jaringan Polygon, dan 380 ETH di jaringan Optimism.
Ini menunjukkan adanya upaya pencucian uang yang terorganisir, sebuah taktik yang umum digunakan oleh Lazarus Group untuk menghilangkan jejak transaksi.
Penegasan dari Indodax: Aset Trader Aman
Indodax dengan cepat merespons laporan peretasan ini dan memastikan bahwa saldo para trader dalam sistemnya aman, baik dalam bentuk aset kripto maupun rupiah.
Meskipun demikian, perusahaan masih melakukan investigasi mendalam terkait serangan tersebut.
Selama proses pemeliharaan dan investigasi, platform web dan aplikasi Indodax untuk sementara tidak dapat diakses oleh pengguna.
Tantangan Keamanan di Dunia Kripto
Kasus peretasan ini menambah panjang daftar tantangan yang dihadapi oleh platform pertukaran kripto dalam menjaga keamanan aset pengguna.
Serangan oleh kelompok peretas seperti Lazarus semakin kompleks, dan sering kali melibatkan berbagai teknik canggih seperti pencucian uang lintas jaringan.
Bagi para pengguna kripto, penting untuk tetap waspada dan memilih platform yang terus meningkatkan langkah-langkah keamanannya.
Kesimpulan
Dugaan peretasan platform kripto Indodax dengan kerugian mencapai ratusan miliar rupiah menunjukkan ancaman serius yang dihadapi oleh industri kripto.
Lazarus Group, yang diduga menjadi dalang di balik serangan ini, kembali memperlihatkan kemampuan mereka dalam melancarkan peretasan terorganisir.
Keamanan di dunia kripto kini menjadi perhatian utama, baik bagi perusahaan maupun para penggunanya.