RADAR KUDUS - Manchester City kini menghadapi babak paling krusial dalam kasus dugaan pelanggaran aturan finansial Premier League. Setelah laporan mengenai putusan komisi independen yang menyatakan City bersalah atas 114 dari 115 dakwaan mencuat, perhatian langsung bergeser kepada bentuk hukuman yang akan dijatuhkan.
Salah satu dampaknya bahkan mulai menyentuh sejarah gelar Manchester City. Sejumlah mantan pemain klub rival ikut bereaksi dan secara terbuka, bahkan dengan nada sarkastis, menyinggung kemungkinan gelar-gelar City ditinjau ulang apabila nantinya sanksi retrospektif benar-benar diberlakukan.
Rio Ferdinand menjadi salah satu nama yang langsung merespons. Mantan bek Manchester United itu mengunggah pesan yang mengisyaratkan tambahan medali Premier League bagi koleksinya. David de Gea juga ikut menyindir dengan mempertanyakan berapa jumlah gelar Premier League yang sebenarnya ia miliki jika gelar City dicabut.
Mantan pemain Liverpool, Jose Enrique, turut masuk dalam percakapan. Ia menyinggung gelar Premier League 2013/2014 yang diraih Manchester City setelah Liverpool finis sebagai runner-up. Reaksi para mantan pemain tersebut kemudian memperbesar perdebatan mengenai kemungkinan perubahan catatan sejarah kompetisi.
Namun, penting dicatat bahwa belum ada keputusan resmi yang menyatakan gelar Manchester City telah dicabut. Laporan mengenai putusan 114 dari 115 dakwaan merupakan perkembangan pada tahap penentuan kesalahan. Bentuk sanksi masih menjadi bagian berikutnya dari proses tersebut, dan Manchester City diperkirakan akan melakukan banding. Pihak klub juga menyatakan proses Premier League masih berlangsung dan terdapat sejumlah tahapan yang belum selesai.
Kasus yang berlangsung selama bertahun-tahun itu bermula dari 115 dakwaan terkait aturan finansial Premier League. Tuduhan tersebut mencakup kegagalan memberikan informasi keuangan secara akurat, informasi mengenai pembayaran kepada pemain dan manajer, kepatuhan terhadap regulasi UEFA, aturan Profitability and Sustainability, serta dugaan kegagalan bekerja sama dalam penyelidikan Premier League. Periode pelanggaran yang dipersoalkan mencakup rentang 2009 hingga 2018, sementara tuduhan terkait kerja sama penyelidikan berlangsung hingga 2023.
Laporan terbaru menyebut komisi independen menemukan City bersalah pada 114 dari 115 perkara tersebut. Satu dakwaan lainnya tidak terbukti. Kendati demikian, putusan tersebut belum otomatis berarti Manchester City langsung terdegradasi, kehilangan gelar, atau dikeluarkan dari kompetisi.
Berbagai kemungkinan hukuman kini menjadi perhatian. Di antaranya pengurangan poin, denda, hukuman yang berlaku untuk masa depan, hukuman retrospektif, hingga kemungkinan pengeluaran dari Premier League. Ben Jacobs melaporkan bahwa opsi hukuman berat, termasuk pengurangan poin dalam jumlah besar dan kemungkinan pengusiran dari Premier League, sedang menjadi bagian dari pembahasan.
Skenario paling ekstrem yang ramai dibicarakan bahkan menyangkut keberadaan Manchester City di piramida sepak bola Inggris. Jacobs menyebut jika City benar-benar dikeluarkan dari Premier League, EFL dapat mempertimbangkan apakah klub tersebut langsung diterima dalam kompetisi di bawah Premier League. Dalam skenario terburuk yang dilaporkannya, City bahkan bisa menghadapi kemungkinan tidak langsung masuk ke kompetisi EFL.
Tetapi skenario tersebut masih merupakan kemungkinan, bukan keputusan. Sampai sanksi resmi diumumkan, belum ada dasar untuk menyatakan Manchester City pasti terdegradasi atau harus memulai kompetisi dari kasta tertentu.
Begitu pula dengan isu pencabutan gelar. Jika hukuman retrospektif diterapkan, gelar-gelar yang diraih pada periode yang berkaitan dengan pelanggaran dapat menjadi bagian dari pembahasan. Sejumlah media telah menghitung potensi perubahan daftar juara apabila gelar City dikosongkan atau dicabut. Namun, mekanisme penetapan ulang juara tidak otomatis berarti klub yang berada di posisi kedua akan langsung menerima gelar tersebut.
Inilah yang membuat reaksi dari para rival menjadi menarik. Ferdinand, De Gea, dan Enrique seolah membuka kembali buku sejarah Premier League dari periode ketika Manchester United dan Liverpool menjadi pesaing utama City. Unggahan mereka memang bernada sindiran, tetapi muncul bersamaan dengan pertanyaan serius mengenai bagaimana kompetisi akan memperlakukan gelar apabila sanksi retrospektif benar-benar dijatuhkan.
Di sisi lain, Manchester City masih memiliki jalur hukum. Klub mempertahankan sikap bahwa proses tersebut belum selesai dan menegaskan komitmen terhadap proses hukum. Dengan demikian, hasil yang muncul dalam laporan media saat ini belum menjadi akhir dari seluruh perkara.
Babak berikutnya justru menjadi yang paling menentukan. Setelah tahap penetapan pelanggaran, fokus akan tertuju pada sanksi. Apakah City hanya mendapatkan hukuman finansial, terkena pengurangan poin, menghadapi hukuman yang berlaku surut, atau mendapatkan hukuman olahraga yang jauh lebih berat?
Jika sanksi retrospektif benar-benar masuk dalam keputusan akhir, maka bukan hanya masa depan Manchester City yang menjadi perhatian. Rekam jejak sejumlah musim Premier League pada periode yang dipersoalkan juga berpotensi kembali diperdebatkan.
Karena itu, tuntutan bernada sindiran dari para rival untuk mendapatkan kembali medali dan gelar belum dapat dianggap sebagai perubahan resmi sejarah Premier League. Untuk saat ini, yang telah dilaporkan adalah temuan bersalah pada 114 dari 115 dakwaan, sementara sanksi final dan konsekuensi terhadap gelar masih menunggu proses berikutnya.
Editor : Mahendra Aditya